oleh

Kasus Tenaga Kerja asal Cina: Dari PSK Hingga Cabai Berbakteri

SULSELONLINE.COM — Isu tenaga kerja asing (TKA) asal Cina menjadi perbincangan hangat dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah telah membantah kabar hoaks yang menyebut jutaan tenaga kerja Cina masuk ke dalam negeri.

Cina
Penangkapan PSK asal Cina. (Int.)

Istana juga menilai isu TKA Cina memiliki motif politik tertentu. Kendati begitu tak dapat dipungkiri, sejumlah fakta menunjukkan pelanggaran yang dilakukan oleh TKA Cina. Berikut lima kasus TKA Cina sebagaimana dirilis Republika Online:

1. Pekerja Seks Komersial (PSK)

Direktorat Jenderal Imigrasi mengamankan 76 wanita warga negara Cina dari beberapa tempat hiburan malam pada Sabtu  31 Desember 2016 malam. Mereka diamankan dalam rangka penertiban malam tahun baru 2017.

Dirjen Penindakan dan Pengawasan Keimigrasian, Yurod Saleh mengatakan operasi pengawasan orang asing tersebut digelar selama dua malam. Mereka merazia tempat-tempat hiburan yang diduga memfasilitasi kegiatan orang asing yang dilakukan secara ilegal.

“Operasi dua malam menjelang tahun baru itu berhasil mengamankan 76 perempuan RRC usia sekitar 18-50 tahun,” ujarnya kepada wartawan pada Minggu (1/1/2017).

Ke-76 WNA Cina ini modusnya bekerja sebagai terapis pijat. Namun terbongkar dengan ditemukannya barang bukti seperti pakaian dalam, alat kontrasepsi seperti kondom dan alat pelumas, serta bukti pembayaran.

“Mereka ini pekerja seks komersial dengan tarif mulai dari Rp2,8 juta sampai dengan Rp5 juta,” katanya.

2. Bepergian tak bawa Paspor

Kantor Imigrasi Kelas I (Kanim) Malang baru-baru ini mengusir 143 warga negara Cina yang sedang berwisata di Kota Malang. Mereka terdiri atas 139 pria dan empat wanita. Pengusiran ini dilakukan karena selama berada di Malang mereka bepergian tanpa membawa Paspor.

Menurut keterangan Kepala Kanim Malang, Novianto Sulastono, peristiwa itu terjadi pada pertengahan Desember. Keberadaan ratusan WN Cina tersebut diketahui dari pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim Pengawas Orang Asing (PORA).

“Setelah diinvestigasi lebih jauh kehadiran mereka ternyata untuk bekerja di Surabaya dan Gresik, namun menunggu terbit IMTA (Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing) dari Disnaker,” jelasnya melalui media pada Kamis (29/12/2016).

Tindakan pengusiran tersebut dilakukan untuk mengantisipasi pelanggaran lain terkait keimigrasian.

“Tidak bawa paspor karena katanya masih ditahan di Kantor Imigrasi Tanjung Perak untuk mengurus IMTA dan mereka juga menyadari kalau keberadaan mereka dipertanyakan,” tambahnya.

3. Berada di lokasi proyek pembangunan PLTU

Kantor Imigrasi Kelas I Samarinda Kalimantan Timur mengamankan 12 warga Cina di lokasi proyek pembangunan PLTU Handil Kecamatan Muara Jawa Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kepala Bidang Intelijen, Penindakan, Informasi dan Sarana Komunikasi Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Kaltim, Kenedi di Samarinda, menyatakan ke-12 WNA berkewarganegaraan Cina itu diamankan karena tidak bisa menunjukkan dokumen keimigrasian yang sah.

“Mereka diamankan saat dilakukan pengecekan di lokasi pembangunan PLTU Handil Muara Jawa, Kamis siang,” ujarnya kepada media pada Kamis (22/12/2016).

Ke-12 WNA itu diamankan dari dua perusahaan subkontraktor proyek pengerjaan pembangunan PLTU Handil. Ia merinci  sebanyak 10 orang diamankan dari PT Indo Fudong Konstruksi, enam orang diantaranya dapat menunjukkan dokumen perjalanan yakni izin tinggal kunjungan, sementara empat orang tidak dapat menunjukkan dokumen perjalanan.

“Informasi dari perusahaan menyatakan, dokumen keempat orang itu masih dalam proses pengurusan perpanjangan izin tinggal kunjungan,” tambahnya.

Dua WNA berkewarganegaraan Cina lainnya diamankan dari PT Xinhuo, juga menggunakan dokumen izin tinggal kunjungan.

4. Tanam Benih Cabai Berbakteri

Benih dan tanaman cabai, bawang daun, dan sawi hijau yang dibawa dan ditanam oleh warga negara Cina dimusnahkan.

Pemusnahan dua kilogram benih cabai, 5.000 batang tanaman cabai dan satu kilogram benih bawang daun dan sawi hijau dilakukan dengan cara dibakar dengan incinerator di Instalasi Karantina Hewan Kantor Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta.

Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Antarjo Dikin menyebutkan, Kantor Imigrasi telah kecolongan atas kegiatan berbahaya tersebut. Mengingat bibit dan tanaman itu membawa bakteri yang belum pernah ada di Indonesia dan belum bisa diberikan perlakuan apa pun terhadap tanaman yang terindikasi.

“Kalau saya bilang ini imigrasi kebobolan. Seharusnya kalau sudah lewat masanya kok belum balik ya dicari-cari dong,” ungkapnya di Kantor Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta pada Kamis (8/12/2016).

Warga negara Cina diketahui melakukan aksi tanam secara ilegal, mengingat tersangka memakai paspor wisata. Berdasarkan hasil uji laboratorium yang diterbitkan oleh Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian pada 24 November, benih cabai yang ditanam dinyatakan positif terinfestasi bakteri erwinia chrysantemi, organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) A1 golongan 1.

5. Menyalahi izin tinggal di Indonesia

Kantor Imigrasi Kelas II Madiun, Jawa Timur mendeportasi dua warga negara asing asal Cina yang diduga menyalahi izin tinggal di Indonesia. Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Madiun, Sigit Roesdianto mengatakan, kedua WNA tersebut adalah Weiqiang Zhao (47 tahun) dan Zuo Yuo Wen (49).

“Keduanya diamankan petugas Kantor Imigrasi Madiun di sebuah hotel di kawasan Kota Madiun, dua hari lalu,” ujarnya pada Jumat (30/12/2016).

Kedua warga negara Cina tersebut diduga bekerja di Madiun, padahal izin tinggal yang dimilikinya adalah untuk berkunjung atau berlibur, bukan bekerja. Penangkapan warga negara asing tersebut berdasarkan informasi dari masyarakat, lalu pihak petugas melakukan pendalaman.

Awalnya, petugas mengamankan empat TKA. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, dua orang di antaranya merupakan pekerja legal atau resmi. Hal ini dibuktikan dengan adanya dokumen kontrak kerja sah, sedangkan dua lainya hanya menggunakan visa turis.

“Keduanya yang menyalahi aturan ini langsung kami berikan tanda terima untuk menemui petugas pengawasan dan penindakan (wasdak) guna pemeriksaan lebih lanjut,” tambahnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed