oleh

LPPOM MUI Sulsel Minta Pemotongan Hewan Disertifikasi Halal

SULSELONLINE.COM, MAKASSAR – Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Selatan menyatakan produksi daging hewan dari Rumah Potong Hewan (RPH) yang ada di daerah itu belum bersertifikasi halal.

Rumah potong hewan. (Int.)

Wakil Direktur LPPOM MUI Sulsel Drh Wahyu Suhaji mengatakan penyembelihan hewan yang menghasilkan daging konsumsi masyarakat merupakan hulu penentu kehalalan produk daging dan turunannya.

“Oleh karena itu, pengelola RPH yang melakukan pemotongan hewan untuk konsumsi masyarakat di Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam, harus disertifikasi halal,” ujarnya kepada wartawan, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, sangat penting untuk mendapatkan sertifikasi halal karena penduduk Indonesia, khususnya Sulsel adalah masyarakat yang mayoritas beragama Islam yang tunduk pada hukum syariah.

Dokter hewan yang menjadi pengajar di Fakultas Peternakan Univesitas Hasanuddin Makassar itu pun menjelaskan tentang konsep halal, baik secara umum maupun secara syariah.

“Jadi halal itu ada dua, ada secara umum dan ada secara syariah. Kalau umum, seperti mendapatkan barang atau makanan itu dengan cara halal. Tapi kalau secara syariah, jelas sekali harus tunduk pada aturan yang ditetapkan dalam ajaran Islam,” ujarnya.

Menurutnya, regulasi yang mengatur tentang sertifikasi halal sudah ada sejak lama dengan berdasarkan pada Undang Undang Nomor 18 Tahun 2009 yang diubah menjadi UU Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Dirinya menyatakan hampir semua produk pangan di Indonesia menggunakan bahan dari daging, apalagi di Sulsel yang kaya dengan beberapa usaha kuliner, sangat mengandalkan bahan pangan daging.

Dia mencontohkan beberapa usaha kuliner khas Sulsel yang memiliki bahan pangan daging yang cukup digemari masyarakat seperti pallubasa, coto Makassar, sop saudara, sop konro, sop kikil, dan rendang.

Selain itu juga beberapa komoditas pangan lain berbahan pangan daging yang cukup banyak dikonsumsi masyarakat seperti sosis, sate, burger, dendeng dan ayam goreng.

“Orang Indonesia itu umumnya pemakan daging, dan jika ini tidak menjadi perhatian, maka bisa saja akan menjadi masalah di kemudian hari,” ujarnya, mengutip Antara, Sabtu (28/1/2017). (*)

Bapenda Sulsel       DPRD Kota Makassar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *