oleh

Kisah Pria Nikahi Mayat: Imam Hanya Mengurus Jenazah Bukan Menikahkan

Kisah seorang pria bernama Edi yang menikahi kekasihnya ketika sudah terbujur kaku menjadi mayat, masih ramai diperbincangkan. Kisah cinta berakhir tragis itu pun langsung menuai reaksi banyak pihak.

Edi mencium mayat Herni. (Ist.)

Di media sosial, tak sedikit yang mengagumi kesetiaan Edi. Namun, sejumlah pihak menyayangkan digelarnya pernikahan dengan mayat yang dianggap tak lazim. Dalam Islam, pernikahan tersebut dianggap tidak sah, sebab salah satu rukun nikah tak terpenuhi. Pernikahan dengan mayat tak bisa disahkan.

Menanggapi hal tersebut, pihak keluarga Herni, bukan Erni seperti yang diberitakan sebelumnya, yang diwakili Syamsuddin, paman korban, berusaha menjelaskan kejadian pada Jumat 3 Februari sebelum pemakaman Herni itu.

“Saya ada di tempat waktu itu. Kami mengundang imam kampung untuk mengurus jenazah, bukan untuk menikahkan,” ungkapnya, mengutip Fajar, Rabu (8/2/2017).

Pihak Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Balusu Kabupaten Barru pun mengakui tidak menerima berkas administrasi pernikahan tersebut.

Jika Islam menilai pernikahan dengan mayat tak bisa disahkan, maka budaya Bugis-Makassar pun menyatakan hal yang sama. Menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Prof Nurhayati Rahman, istilah perkawinan dalam suku Bugis juga bisa disebut ‘mabinne’. Artinya menanam benih. Maksudnya, menanam benih dalam rumah tangga.

“Tetapi, dalam budaya Bugis, menikah dengan mayat itu tidak ada. Bahkan, dalam naskah I La Galigo tidak dijelaskan hal itu,” ungkapnya.

Sementara itu, terkait Herni yang bunuh diri, motif kematiannya tetap menjadi misteri. Semua orang bertanya-tanya. Bahkan, orang tua dan sang kekasih, Ahmad Haidir, dibuat penasaran. Mereka hanya tahu Herni meminum racun rumput sebelum mengembuskan napas terakhir.

Ibu Herni, Wati menyampaikan, saat dibawa ke puskesmas, Herni hanya mengucap maaf telah berbuat khilaf. Setelah itu, dia tak pernah sadarkan diri hingga meninggal.

Wati tak habis pikir atas keputusan putri keduanya tersebut untuk mengakhiri hidupnya dengan cara itu. Padahal, sehari-sehari putrinya yang baru saja menamatkan pendidikan di STIKES Baramuli Pinrang tersebut dikenal periang. Setahu orang terdekatnya, dia tak punya masalah dengan siapa pun.

Herni justru sering memperingatkan keluarganya agar tidak sembarangan menyimpan benda-benda beracun. Maklum, orang tuanya adalah petani yang kerap menggunakan pestisida.

Keluarga korban juga sempat meminta penjelasan kepada Edi, sapaan Ahmad Haidir, terkait dengan hubungan mereka selama ini. Menurut pengakuan sang kekasih, seperti yang ditirukan ibu korban, sejak mereka berkenalan hingga pacaran, tak pernah ada pertengkaran.

Wati maupun suaminya, La Juma, serta keluarga besar mereka menyatakan tak pernah menghalangi niat keduanya untuk menikah. Sejak Herni memperkenalkan Edi, tak pernah ada kata penolakan yang terlontar.

Begitu juga keluarga Edi di Nias Sumatera Utara. Lewat telepon, Edi mampu meyakinkan orang tuanya untuk memberikan restu. Termasuk merelakan sang putra menjadi mualaf menjelang pertunangan. Kedua pihak sepakat pernikahan dilangsungkan Oktober mendatang dengan mahar Rp 40 juta.

Menurut Husban, kakek korban, sudah beberapa kali Edi datang menemui mereka dan menyatakan keseriusan serta keinginan menjadikan Herni sebagai istri.

Upaya mendapatkan konfirmasi langsung dari Edi tak membuahkan hasil. Setelah meladeni wawancara singkat pada Minggu 5 Februari, pria yang kini bekerja di Enrekang tersebut seolah menutup diri. Nomor ponselnya pun tak aktif.

Cintanya kepada Herni memang begitu dalam. Di akunnya di Facebook, Edi bahkan masih meng-upload foto-foto Herni menjelang kematiannya. Terakhir di-upload Kamis, 2 Februari jam 18.50 Wita. “Dia istri saya dan akan selamanya menjadi istri saya,” ujarnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed