oleh

Ini Alasan Dilarang Gunakan Ponsel saat Isi Bahan Bakar di SPBU

SULSELONLINE.COM – Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU yang terletak di dekat Patung Kuda Maros tiba-tiba meledak, Selasa malam 7 Maret lalu. Ledakan yang terjadi sekira jam 19.34 wita itu berasal dari undergroun petrol tank atau tangki bawah tanah. Ledakan yang terdengar sangat keras itu mengakibatkan delapan orang terluka.

Tim Labfor Polda Sulsel didampingi sejumlah anggota Polres Maros melakukan olah TKP di SPBU 74.905.15 Maros. (Ist.)

Polisi menduga ledakan itu diakibatkan penggunaan ponsel oleh seseorang yang berada di sekitar tangki bawah tanah di area SPBU yang menjadi sumber ledakan. Skala ledakan terdengar hingga jarak sekira 100-200 meter.

Ledakan di SPBU 74.905.15 Maros tersebut adalah insiden kedua dalam sebulan terakhir di Sulsel. Pertengahan Januari 2017 lalu, yakni Selasa 17 Januari, SPBU di Jalan Bintang Watang Sawitto Pinrang juga meledak. SPBU itu terbakar diduga akibat adanya pelanggan yang menggunakan ponsel saat tengah mengisi BBM. Ledakan itu melukai dua warga dan seorang operator dispenser atau nozel SPBU.

Lantas, mengapa ponsel bisa menjadi sumber ledakan di SPBU dan mengapa dilarang menggunakan ponsel di SPBU?

Setiap SPBU selalu mengimbau pengendara agar tidak menggunakan telepon selular mereka saat mengisi bahan bakar. Imbauan itu terpampang dalam spanduk dan stiker yang dipasang di SPBU.

Guna mendukung imbauan tersebut, situs berbagi video Youtube misalnya, mengungkap kejadian nyata tragedi kebakaran akibat penggunaan ponsel selama mengisi bahan bakar. Tak hanya itu, beberapa pengguna juga menyempatkan diri untuk melakukan penelitian dan membuktikan imbauan tersebut.

Dari laman Facebook Divisi Humas Mabes Polri, satu unit ponsel dapat mengeluarkan frekuensi yang cukup tinggi. Setiap ponsel juga mengeluarkan bunga api yang berukuran 1 mikron atau setara seperseratus milimeter. Percikan ini kerap kali keluar di sekitar antena koil akibat perbedaan tegangan yang cukup tinggi.

Tak hanya itu, Light Emitting Diode (LED) yang digunakan dalam ponsel berbeda dengan LED pada umumnya. LED ponsel biasanya dipasang ‘telanjang’, sehingga membuat filamen dioda bisa bersentuhan langsung dengan udara bebas.

Sementara, LED pada umumnya diberi selubung tabung dari plastik sehingga filamennya terlindung. Dengan demikian, ketika LED ponsel dinyalakan, maka akan timbul pijar. Pijar inilah yang menimbulkan percikan api dari koil tersebut.

Meski begitu, percikan api ini sebenarnya tak mampu menyulut uap bensin dalam di udara terbuka. Tapi lain cerita jika udara yang ada sudah cukup jenuh sekali dengan uap bensin tersebut. Jika cukup jenuh, maka uap bensin tersebut akan dapat terbakar oleh percikan yang cukup kecil tersebut. Efeknya, bisa timbul ledakan.

Nah, dengan penjelasan ini, masih mau kah menyalakan ponsel saat mengisi bahan bakar? (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed