oleh

Terbongkar, Kejahatan Seksual Terhadap Anak Melalui Media Sosial

Kepolisian membongkar kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur atau Fedofili. Penyidik Polda Metro Jaya menangkap empat pelaku yakni, WW (27), DS (24), DF (17) dan SHDW (16).

Press release kasus pedofil online. (Ist.)

Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan mengatakan, empat pelaku mengunggah foto atau video yang menampilkan kejahatan seksual terhadap anak melalui akun Facebook Official Candy’s Group. Pelaku yang ditangkap berperan sebagai admin dan member akun media sosial itu.

Grup tersebut dibentuk memiliki sekitar 7.000 member. Grup ini melakukan aktivitas kejahatan pornografi anak secara online, baik sesama jenis atau lain jenis. Admin grup memberi syarat bagi yang ingin bergabung, salah satunya harus aktif mengunggah foto atau video berkonten pornografi anak.

“Posting video atau gambar porno anak belum pernah di-upload, korban tidak boleh sama. Jadi korban bertambah. Jika tidak, akan dikeluarkan,” jelasnya, mengutip Metro News, Rabu (15/3/2017).

Dua pelaku yang ditangkap pernah melakukan pelecahan atau kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Salah satunya adalah WW yang pernah melecehkan dua orang anak perempuan di bawah umur, yaitu NNF (12) dan YAM (8).

Tindakan serupa juga pernah dilakukan DF, yang melecehkan enam anak perempuan, di antaraya, AQL (3), WD (8), ML (4) FSK (6), AF (5) dan RK (5).

“Dari pengakuan yang bersangkutan masih banyak grup lain, masih akan kita lakukan penyelidikan dan tindakan penegakan hukum terhadap member lainnya juga,” ujarnya dalam press release kasus pedofil online tersebut yang juga dihadiri Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi.

Atas perbuatannya itu, pelaku dijerat dengan pasal 27 ayat (1) jo pasal 45 ayat (1) UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan/atau pasal 4 ayat (1) Jo pasal 29 dan/atau pasal 4 ayat (2) jo pasal 30 UU RI nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi.

Ancaman hukuman paling lama enam tahun dan denda paling banyak dan atau pidana denda paling banyak Rp6 miliar. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed