Begini Pandangan Islam Tentang Muslimah Pamer Foto di Media Sosial

SULSELONLINE.COM –¬†Wanita adalah makhluk yang Allah Azza wa Jalla ciptakan sebagai pasangan kaum lelaki. Fitrah alam yang menjadikan wanita cantik dan menarik di pandangan lawan jenisnya sesuai dengan fitrahnya, perempuan jadi sumber keindahan.

Ilustrasi Muslimah selfie. (Int.)

Olehnya, wanita banyak diriwayatkan sebagai sumber fitnah. Banyak kerusakan dan kehancuran yang disebabkan oleh fitnah tersebut.

Ketua Muslimah Markaz Imam Malik (MIM) Makassar, Ustadzah Rosdiana mengutip satu hadist Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam; “Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurutnya, kemuliaan wanita sangat dijaga syariat Islam, hingga diturunkannya ayat-ayat suci untuk menjaga kehormatannay. Agar tidak merusak orang lain, terlebih dirinya sendiri. Wanita yang telah diberi hidayah, dengan cahaya Islam, maka hendaklah menjaga nikmat dunia.

“Karena menjaga fitnah di era digital ini, sama dengan menahan nafsu untuk menjaga diri dari pandangan-pandangan di dunia maya,” ujarnya, mengutip Harian Amanah, Sabtu (1/7/2017).

Ditambahkannya, seorang Muslimah yang senang meng-upload foto-fotonya di dunia maya melalui akun media sosial sebaiknya merenungi sabda Rasulullah yakni; “Pandangan adalah satu anak panah di antara banyak anak panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah Azza wa Jalla akan memberikan keimanan dan ia merasakan manisnya di hatinya”.

Allah Ta’ala telah mencipta wanita dan paling mengetahui kebaikan atau keburukan untuknya. Ketika Allah memerintahkan sesuatu, maka jelas kebaikan atasnya. Sebaliknya, jika Allah melarang sesuatu, maka jelas ada keburukan darinya.

“Banyaknya mafsadaat atau kerusakan yang ditimbulkan dari kebiasaan meng-upload foto Muslimah, maka kita katakan untuk menahan diri dari hal tersebut. Kecuali jika ada manfaat dan nilai yang bisa diambil dari perbuatan tersebut. Manfaat yang disepakati secara syar’i sebagai manfaat, bukan manfaat yang diakui oleh nafsu belaka atau mengumbar aurat atau memamerkannya,” jelasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *