Warga Makassar Beli Tiket via Online Tapi Direfund Orang Lain

Hati-hatilah membeli tiket penerbangan secara online, walaupun itu melalui situs ternama dan terpercaya. Pasalnya, belum sepenuhnya aman dan bisa saja terjadi sesuatu di luar dugaan hingga uang melayang.

Akun Facebook Fyra Sahrir. (Int.)

Baru-baru ini, pemilik akun Facebook Fyra Sahrir menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya seusai membeli tiket secara online untuk ayah dan ibunya yang akan melakukan perjalanan dari Makassar Sulawesi Selatan ke Balikpapan Kalimantan Timur, pergi-pulang.

Tiket dibeli atau di-booking pada Kamis 6 Juli dan rencananya penerbangan dari Makassar ke Balikpapan pada Sabtu 8 Juli, lalu kembali pada Selasa 11 Juli.

Nahasnya, saat jadwal keberangkatan tiba, calon penumpang bernama Mahadi dan Juwida ditolak di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros, ketika akan check-in. Petugas maskapai beralasan tiket milik mereka telat di-refund atau dibatalkan, lalu uangnya diambil atau diuangkan. Mereka kemudian kaget, pasalnya diakui jika refund tak pernah dilakukan sekalipun.

Ketika Fyra Sahrir melakukan konfirmasi secara langsung, pihak perusahaan penjual tiket juga mengaku tidak pernah terjadi refund dan tiket masih dapat digunakan. Ketika ditanyakan kepada petugas dari maskapai, siapa yang melakukan refund? Dijawabnya, seseorang bernama Linda.

Fyra Sahrir mengaku jika orang bernama Linda tersebut tidak dikenalnya sama sekali, bahkan petugas maskapai juga mengakui sama. Fyra Sahrir, Mahadi, Juwita sangat kecewa pada perusahaan penjual tiket, maskapai, pasalnya tiketnya telah disalahgunakan dan belum ada bentuk pertanggungjawaban nyata telah diberikan.

Kekecewan bertambah lantaran keduanya akan melakukan perjalan untuk menghadiri resepsi pernikahan adik dari Fyra Sahrir.

Berikut selengkapnya tulisan Fyra Sahrir dan kini menjadi viral sejak di-posting pada Minggu (9/7/2017) malam.

Hati-hati Beli Tiket Li*** via Travel***, Bisa di Refund Sembarang Orang

Tulisan ini sekedar sharing agar tidak ada lagi yang mengalami hal yang serupa. Siapa tau dengan adanya tulisan ini ada yang bisa share pengalaman yang sama dan bagaimana menyelesaikannya.
Tanggal 6 Juli 2017 pagi, saya membeli tiket Makassar – Balikpapan – Makassar via Travel***. Untuk perjalanan tanggal 8 Juli dan 11 Juli 2017. Dari Travel*** kami membeli tiket maskapai Li**. Tiket tersebut saya belikan untuk Bapak dan Ibu yang akan menghadiri resepsi pernikahan adik saya di Samarinda.

Tanggal 8 Juli 2017 Pukul 11 siang Bapak sudah berangkat dari Takalar, berdua mengendarai motor, yang berjarak sekitar 37 km dari Makassar. Mereka sangat bersemangat siang itu. Padahal pesawatnya baru boarding malam. Tak lupa mereka membawa kue tradisional (baje) yang sengaja dibuat khusus sehari sebelumnya. Saya yang masih menghadiri halal bi halal bersama teman terpaksa pulang lebih cepat.

Tidak menyangka mereka datang jam segini. Pukul 5 sore kami berangkat ke Bandara dari rumah. Sengaja shalat magrib di jalan karena takut telat. Pukul 6.15 check in di bandara dan betapa kagetnya ketika pihak L*** menginformasikan tiket mereka sudah di-refund. Bagaimana mungkin saya me-refund tiket perjalanan orang tua untuk menghadiri pernikahan adik saya???

Saat itu juga saya protes ke pihak maskapai Li** karena merasa tak pernah melakukan refund. Bukannya membantu, pihak Li** malah terkesan tidak peduli. Mereka tetap ngotot bahwa tiket itu sudah di-refund. Dan mereka meminta kami memastikan ke pihak Travel***. Saya pun menghubungi CS Travel***. Informasi yang kami dapatkan bahwa di sistem Travel***, tiket tersebut masih aktif dan tidak terjadi refund.

Kami kembali melayangkan protes ke pihak Li** di Bandara. Tetapi sekali lagi mereka tidak koperatif. Tetap teguh mengatakan bahwa di sistemnya, tiket orang tua saya sudah di-refund oleh seseorang bernama Linda pada pukul 1 siang tadi.

Linda? Siapa lagi itu? Bukankah proses refund itu tak mudah? Harus sesuai nama yang pesan? Mengapa si “Linda” ini bisa seenaknya me-refund tiket orang tua saya dan pihak Li** meng-approve-nya? Kami pun bertanya ke pihak Li** siapa si Linda itu. Malah mereka dengan seenaknya menjawab “Ibu saja tidak tau siapa Linda, apalagi saya?” Jawaban yang makin membuat kami emosi jiwa.

Sekali lagi kami minta konfirmasi Travel*** untuk kasus ini. Tetapi mereka tetap tidak cukup membantu. Mereka tetap kekeh menyampaikan tiket yang kami beli tidak pernah di-refund. Dan mereka tidak mengenal siapa Linda itu. Mereka hanya mengatakan akan melakukan investigasi ke pihak maskapai Li** tetapi pada hari senin nanti.

Dari beberapa kali pingpong antara Travel*** dan Li**, kami tidak juga mendapatkan solusi yang membantu. Melalui email Travel*** menyarankan untuk membeli tiket kembali dengan dana pribadi. Tetapi kami mengatakan saat ini kami tak punya dana lagi.

Diantara kekalutan dan kerempongan yang mengesalkan itu saya melihat ke arah Bapak. Dia sudah terduduk lemas bersama kopernya. Tertunduk pasrah. Dan meminta kami menghentikan saja protes yang membuat emosi kami hampir sampai di ubun-ubun itu. Beliau menyampaikan ikhlas uang 4 juta yang beliau pinjam itu hangus begitu saja. Dan akan membayarnya saat gaji 13 nanti cair.

Kami pun menelpon adik di Samarinda. Memohon maaf karena Bapak dan Ibu tidak dapat menghadiri resepsi pernikahannya. Dari mertuanya kami tahu, disana dia menangis. Bapak hanya tertunduk. Berusaha menyembunyikan air matanya yang tak sanggup di tahannya juga.

Malam itu juga orang tua kami langsung balik ke Takalar. Mereka menolak tawaran kami untuk menginap di Makassar. Berapa kali kami menawarkan menginap, sebanyak itu juga mereka menolak. Mereka tetap ingin pulang ke Takalar malam itu juga saat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Pulang dengan rasa kekecawaan luar biasa.

Saya tidak peduli lagi mengenai siapa yang salah. Entah itu pihak Travel** ataupun pihak Li**. Tapi rasa kecewa yang mendalam ini tak bisa tergantikan dengan sekedar jumlah materi. Kekecewaan saya sebagai orang yang mengurus pembelian tiket untuk Bapak. Kekecewaan Bapak yang tidak bisa melihat resepsi pernikahan anaknya.

Kekecewaan adik saya yang tidak didampingi satupun keluarganya pada resepsi pernikahannya. Rasa kecewa yang membuat kami menangis dalam diam. Menyembunyikan tetesan air mata antara satu dan yang lain, yang sama-sama kecewa, agar tidak makin melukai. Rasa kecewa yang mungkin tidak akan dipahami bagi yang tidak mengalaminya. Termasuk pihak Travel*** dan Li** yang sangat melukai kami.

Berikut kami lampirkan bukti2 yang kami miliki bantu kami dengan share status ini agar sampai ke pihak-pihak terkait. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *