Arkeolog Temukan Perhiasan Milik Manusia Purbakala di Maros

MAROS, SULSELONLINE.COM – Pusat Arkeologi Nasional (Arkenas) bersama tim arkeologi Sulawesi Selatan didampingi Konsulat Jenderal Australia melakukan penggalian arkeologi di situs gua batu kapur, Leang Bettue di Kelurahan Kalabirang Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros.

Penggalian arkeologi di gua Leang Bulu Bettue Maros. (Ist.)

Penggalian ini melibatkan mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar dan Universitas Halu Oleo Kendari. Dalam penggalian itu ditemukan beberapa peralatan yang dahulu digunakan manusia purbakala untuk mengolah binatang, juga perhiasan yang berasal dari tulang dan gigi binatang.

Konsul Jenderal Australia di Makassar, Richard Mathews mengatakan, manusia purba sudah mengenal perhiasan jenis liontin yang terbuat dari tulang. Tulang tersebut dilubangi dengan menggunakan alat.

“Tulang kecil itulah yang dijadikan liontin. Memang lubang liontin sangat kecil,” ujarnya saat memantau penggalian di Leang Bulu Bettue didampingi Kepala Balai Arkeologi Sulawesi Selatan Budianto Hakim pada Rabu pekan lalu.

Perhiasan yang digunakan oleh manusia yang hidup di Leang Bulu Bettue yang berumur sekitar 30.000 tahun itu terbuat dari tulang kuskus. Saat menemukan liontin, peneliti menduganya sebagai jari manusia. Namun setelah diperiksa, temuan tersebut hanya liontin yang mirip jari manusia.

Temuan tersebut menjadi tanda bahwa manusia purba pernah tinggal di gua dengan panjang 300 meter tersebut.

“Hasil penelitian ini akan berdampak berdampak pada pariwisata. Hiasan kuno berupa liontin akan terkenal. Di sinilah salah satu tempat manusia purba pernah hidup,” ujarnya, mengutip Berita Maros, Senin (28/8/2017).

Sementara Arkeolog Unhas Iwan Sumantri mengatakan, temuan liontin dari tulang kuskus itu juga menunjukkan bahwa manusia yang mendiami gua Leang Bulu Bettue tersebut lebih suka makan kuskus dibanding binatang lain, padahal saat itu, anoa dan gajah purba juga banyak.

“Mereka sudah menggunakan perhiasan, jadi sudah lama orang bergaya,” ujarnya.

Selain itu, peneliti juga menemukan barang yang menyerupai gigi tikus, kopi dan lukisan-lukisan tangan di dinding gua serta batu yang sengaja dibentuk.

“Meski banyak temuan baru, kami belum bisa berkomentar banyak. Kecuali kalau sudah diakui secara internasional,” katanya.

Tahun 2014 lalu, peneliti menemukan sebuah lukisan di dalam gua Leang Timpuseng yang letaknya tidak jauh dari penemuan liontin ini. Lukisan itu sudah diakui berusia 39.900 tahun atau lebih tua dari lukisan purba yang ada di El Castillo Spanyol.

Tim arkeolog ini akan terus bekerja selama masa proyek berlangsung. Diharapkan, selain penemuan liontin, peneliti juga menemukan hal baru yang akan mengubah ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang arkeologi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *