Melly Goeslaw Ceritakan Kondisi Terkini Pengungsi Palestina

SULSELONLINE.COM – Melly Goeslaw berbagi cerita setelah menyelesaikan tugasnya dalam aksi kemanusiaan di perbatasan Turki dan Suriah.

Dalam penuturannya, pencipta lagu berusia 43 tahun tersebut menggambarkan kondisi Kilis, Turki yang menjadi salah satu tempat pengungsian warga Palestina dan Suriah.

Selain itu, Melly Goeslaw juga menjelaskan kondisi para pengungsi saat ini. Seolah kehilangan harapan, pengungsi asal Suriah dan Palestina yang mayoritas perempuan dan anak-anak pasrah jika harus kehilangan kepala keluarga yang pergi ke medan perang.

“Jadi kalau dari pengungsian ini ke Suriah kami sudah ngelihat benderanya. Pengungsi pengungsi itu kalau yang di Kilis itu campur, ada orang Suriah ada orang Palestina. Yang Palestina nyampe ke pengungsian itu mereka yang berhasil melarikan diri lewat laut,” ujar Melly.

“Jadi ada kurang lebih kalau enggak salah 120 ribu orang ditampung di situ. Mayoritas janda syahid sama anak-anak. Bapak bapaknya kan ikut perang,” lanjutnya dilansir Okezone, Minggu (24/12/2017).

“Mereka juga sudah hilang harapan kali ya bapak bapaknya bakal balik. Pokoknya sudah putus komunikasi. Nah ibu ibunya sama anak anak itu 120 ribu orang yang berhasil melarikan diri lewat laut. Padahal yang melarikan diri itu pasti banyak banget tapi mayoritas juga tenggelam di tengah enggak sampai ke perbatasan itu,” tambahnya lagi.

Kurang dari satu pekan Melly Goeslaw berada di lokasi pengungsian warga Palestina dan Suriah. Istri Anto Hoed ini meninggalkan Tanah Air pada Minggu, 17 Desember dan tiba di Indonesia pada 24 Desember.

Meskipun berada di lokasi yang terbilang berbahaya, Melly Goeslaw bahagia bisa turut meringankan beban para pengungsi. Bersama Opick, penyanyi sekaligus pencipta lagu ternama ini menyalurkan bantuan yang telah dikumpulkan dari Indonesia.

Berada beberapa hari disana, Melly Goeslaw dan rombongan sempat dipersulit untuk masuk ke daerah Kilis, Turki. Penjagaan diakuinya sangat demi keamanan para pengungsi.

Sementara itu, psikologi para pengungsi cukup terganggu. Mereka bahkan sempat ketakutan saat berhadapan dengan orang asing meskipun bertujuan untuk memberikan bantuan.

“Kayak sudah apatis sama keadaan enggak ada senyum, diajak ngomong saja susah. Enggak ada ekspresi. Pas kita masuk ke dekat kantornya itu lebih parah mereka bener bener enggak mau disamperin gitu, ketika ada orang asing mereka sembunyi ke dekat sampah, tempat apapun yang bisa mereka sembunyi. Mereka sembunyi enggak mau disamperin jadi kita harus pelan-pelan banget samperinnya. Ada beberapa yang mau tapi mayoritas enggak mau,” pungkasnya, dilansir Rakyatku. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *