Badaruddin Andi Picunang, Aktivis Tahan Banting

Oleh: Rusman Madjulekka
MENDADAK namanya jadi “buah bibir” pasca pengumuman dan pengundian nomor urut partai politik (Parpol) peserta Pemilu 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum lama ini.Ia tampil bersama Hutomo Mandala Putra alias Tomy Soeharto di perhelatan tersebut mewakili Partai Berkarya. Anak muda itu bernama Badaruddin Andi Picunang (46). Pria bugis Palopo ini disebut-sebut sebagai pionir dibalik lolosnya Partai Berkarya dari verifikasi KPU. Kabarnya, sampai tiga kali ia masuk rumah sakit selama masa persiapan verifikasi parpol saat itu. Badar-begitu ia akrab disapa- yang sebelumnya fungsionaris di DPP Partai Golkar ini kerap dianggap sebagai “kutu loncat”. “Saya hanya membuat loket baru, karena loket yang lama sudah banyak orang dan antriannya panjang,” tutur Badar tersenyum menjawab tudingan tersebut. Butuh waktu panjang baginya membangun trust dengan pengorbanan waktu dan materi. Jejak kaki Badar di rimba politik nasional itu penuh kelok nan terjal. Bahkan ketika gagal ikut dalam Pilwakot Palopo di Sulawesi Selatan dalam Pilkada serentak Juni 2018, ia tak patah arang. Namanya pun terdengar nyaring dibalik kesuksesan Partai Berkarya lolos sebagai peserta Pemilu 2019.Sebelum aktif di parpol, Badar juga berkecimpung sebagai aktivis mahasiswa, aktif juga di beberapa organisasi profesi dan organisasi kemasyarakatan (Ormas). Dimata kawan-kawannya, pria yang mengawali tempaan sebagai aktivis pers mahasiswa di koran kampus “Identitas” Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar ini dikenal adalah sosok anak muda yang tangguh dan “tahan banting”. Semasa jadi mahasiswa di jurusan Kelautan Unhas angkatan 1989, ia tinggal di pondokan dekat kampus dengan segala keterbatasan dan kekurangan. Namun hal itu tidak menyurutkan naluri aktivisnya. Ia pun dipercaya menjadi menjadi Ketua Senat Mahasiswa pertama Fakultas Kelautan Unhas. Dimasa itu, Badar getol memperjuangkan gagasan besar benua maritim dan isu-isu kelautan dengan menggelar seminar yang mendatangkan B.J.Habibie & Jusuf Kalla. Bersama kawan-kawanya, Badar pun merintis wadah perjuangan mahasiswa kelautan Indonesia bernama Himatekindo dan terpilih sebagai Sekjen pertama. Bahkan setelah menyelesaikan studi pun, Badar menginisiasi wadah Iskindo (Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia).Kemudian Badar “merantau” ke Jakarta dan berlabuh di Partai Golkar karena ajakan Fachry Andi Leluasa, anggota DPR RI ketika itu. Sebagai pendatang baru, bahkan ia berani maju sebagai caleg di dapil DKI & maju sebagai calon Bupati di Luwu. “Meski gagal, Badar tetap tegar. Tak pernah putus asa, terus merajut asa dibalik kegagalan. Tak banyak aktivis “tahan banting” seperti Badar,” tutur Awaluddin, kawan semasa kuliah Badar di Unhas.    Di Jakarta, selain pernah menjadi staf ahli Kepala BP Migas, Andi Sommeng, Badar juga membangun beberapa bisnis untuk menopang kehidupan di ibukota. Dipercaya Tommy Soeharto menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Berkarya bukan tanpa alasan. Badar sebelumnya memiliki deretan pengalaman keorganisasian politik. Sebut saja Ketua Forum Redam Korupsi, Ketua LKSEM, Wasekjen KNPI (2011-2014), Wasekjen DPP AMPI Golkar (2010-2015), dan anggota serta pengurus Pemuda Pancasila, HIPMI, KADIN, ICMI, PGI (2000 – sekarang).  Kini dengan posisi Sekjen Partai Berkarya, tidak membuat Badar “berubah” dan ibarat kacang yang lupa kulitnya. “Sepuluh tahun lalu, dia pernah bantu saya. Katanya ada sedikit rejeki kak,” kisah Moelawarman, seniornya di koran kampus Unhas.   Tak hanya itu saja. “Ia bahkan masih ingat akarnya dan tetap menjalin silaturahmi dengan teman-teman alumni Kelautan yang ada di Jakarta,” tambah Awaluddin. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *