oleh

Soni Sumarsono: Defisit Anggaran Sulsel Rp183 Miliar Telah Selesai

SULSELONLINE.COM, MAKASSAR – Serah terima jabatan (sertijab) Gubernur Sulsel, dari Penjabat Gubernur Sulsel, Soni Sumarsono kepada Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah dan Wakil Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman dilaksanakan di Ruang Pola Gubernur Sulsel, Jumat (7/9/2018).

Sertijab diawali dengan pemutaran video pelantikan Gubernur Sulsel dan Wakil Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman di Istana Negara, Jakarta. Kemudian penandatangan serah terima jabatan dan memori jabatan.

Dilanjutkan sertijab Ketua TP PKK Sulsel periode 2018-2023. Dari Raden Roro Tri Rachayu ke Liestiaty F Nurdin.

Soni Sumarsono menegaskan, defisit Rp 183 miliar Pemprov Sulsel telah ia selesaikan dengan baik. Selama menjabat lima bulan, diujung pengawalannya merasa bersyukur, tugas tidak mudah memimpin Sulsel dapat diselesaikan.

Menurutnya, dibutuhkan pengalaman, dalam menjabat di Sulsel dalam enam bulan, paling utama mengawal transisi.

“Sulsel tidak mudah ditangani, diperintahkan tugas saya adalah membuat suasana politik berlangung aman, damai dan lancar. Termasuk mengantarkan Pilkada serentak. Tugas dari awal Pilkada, hingga pelantikan, serta serah terima jabatan. Tugas saya sudah selesai, mengawal transisi di Sulsel, banyak hal saya lakukan di Sulsel,” ungkapnya.

Untuk keempat pasangan calon yang bertarung di Pilkada di Sulsel bersyukur luar biasa, karena bisa berjalan dengan baik. Serta Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel pilihan masyarakat telah terpilih.

Tugasnya mengantarkan terpilihnya pimpinan terbaik di Sulsel. Dia mengharapkan kontestasi sudah selesai. Untuk itu dia meminta agar mereka dulunya lawan, sekarang berteman dalam membangun Sulsel.

“Saya berharap ke empat kontestan menyatu kembali,” ucapnya.

Dia menyebutkan juga, menangani Sulsel tidak mudah, setiap daerah punya karakteristik berbeda. Dia melakukan pendekatan khusus.

“Saya menjawab untuk Sulsel, satu minggu setelah menjabat, saya memperlajari peta, membangun Sulsel berbasis budaya dan berorientasi ke-Indonesia-an,” paparnya.

Hal lain yang disampaikan dalam memimpin untuk tidak membedakan-bedakan dalam berkomunikasi.

“Ini yang disebut dengan sipakatau, sipakallebi, sipakainge dan sipatokkong. Inilah yang mengantarkan kepemimpinan saya hingga hari ini,” tambahnya.

Adapun rangkuman tugas Soni Sumarsono dalam memimpin di Sulsel diserahkan kepada Nurdin Abdullah dalam bentuk sebuah buku memori jabatan, tujuannya adalah memastikan semua urusan pemerintahan di Sulsel berjalan dengan baik.

Selanjutnya, dia menyebut lagu Mars Sulsel telah lahir, yang dia harapkan menjadi payung pemersatu di Sulsel yang beragam etnis dan suku.

“Mudah-mudahan mendengarkan lagu Mars Sulsel, saya mengingat Sulsel. Mungkin jarak memisahkan kita. Tetapi hati saya ada di Sulsel,” ujarnya.

Dia juga berterima kasih kepada Forkopimda Sulsel yang telah menjalankan tugas pemerintahan dengan baik. Mereka melakukan pengabdian luar biasa dan dedikasi yang tinggi. Sehingga menjadi provinsi dengan penyelenggaraan Pilkada tiga terbaik secara nasional. Sehingga KPU se Indonesia melaksanakan rakor evaluasi di Sulsel.

Dinamika di Sulsel luar biasa, status Sulsel dengan zona merah menjadi zona hijau. Fenomena kotak kosong juga terjadi di Makassar.

“Sehingga hari ini saya menerima lima tim dari internasional. Tim ini, penelitian mengapa kotak kosong di Makassar menang, sehingga Makassar menjadi destinasi politik di Indonesia,” tambahnya.

Tugas lainnya, yakni mengawal program strategis di Sulsel, seperti PLTB Sidrap, Kereta Api Trans Sulsel, beberapa bendungan. Tugas ini akan dilanjutkan oleh gubernur baru Sulsel.

“Alhamdulliah semua berjalan dengan baik. Dan pesan saya sebagai pertanggungjawaban, tidak ingin memberikan beban pada pemerintah baru, berupa defisit anggaran, terpaksa pemangkasan dilakukan sehingga defisit Rp183 miliar selesai,” ujarnya.

Beban lainnya di Sulsel yang diharapkan dapat diselesaikan adalah beberapa Perda masih bermasalah, terutama terkait reklamasi, dengan kompleksitas yang tinggi. Sementara untuk Perda lainnya, terkait Perda Anggaran Perubahan telah dia tandatangani dan diselesaikan dengan baik.

Tugas lainnya yang belum terselesaikan adalah hibah untuk membangun kebanggaan Sulsel, untuk memiliki masjid komprehensif hibah untuk Yayasan Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar. Serta Tugu Pahlawan Indonesia di depan Benteng Rotterdam Makassar agar dijaga.

“Ini siap dibongkar, masih ada prasastinya, saya menitipkan dan berharap semoga bisa ditangani dengan baik sebagai peninggalan sejarah. Karena tugu tersebut adalah lokasi pertama TNI mendarat,” ujarnya.

Salah satu cita-cita lainnya adalah menciptakan wisata halal di Sulsel, sebab Sulsel belum dalam status tersebut. Bagi birokrasi di Sulsel, birokrasi yang masuk kategori luar hiasa, Sulsel satu dari enam provinsi yang menerapkan e-budgetting dan e-planning.

Adapun yang dilakukan di Sulsel selama enam bulan juga dituangkan ke dalam buku dengan judul ‘Mengawal Transisi di Sulawesi Selatan’.

“Saya dan istri pamit, esok pagi dengan terbitnya matahari saya akan meninggalkan Sulsel, kembali ke Jakarta sebagai Dirjen Otda Kemendagri, kalau ada salah saya mohon maaf, mudah-mudahan saya bisa menjadi duta Sulsel di pusat,” pungkasnya.

Sementara itu, Nurdin Abdullah menyebut Soni Sumarsono sebagai gubernur spesialis dalam penanganan Pilkada daerah rawan.

“Mari kita memberikan apresiasi, jika daerah yang zona merah menjadi zona hijau. Inilah Pilgub paling tenang dari seluruh Pilgub di Indonesia. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed