oleh

Penjelasan JK Terkait CPNS dan Honorer K2

Pemerintah sudah menyiapkan kebijakan terobosan untuk mengatasi minimnya pelamar CPNS 2018 yang lulus seleksi kompetensi dasar (SKD), baik jalur umum maupun Tenaga Honorer K2.

Bukan menurunkan nilai ambang batas alias passing grade. Tetapi mencari pelamar dengan nilai tertinggi. Meskipun begitu, secara resmi rencana ini belum tertuang dalam peraturan.

Gambaran skenario penanggulangan minimnya pelamar CPNS baru yang lolos ambang batas seleksi kompetensi dasar (SKD) itu diungkapkan Wakil Presiden, Jusuf Kalla.

Dia menegaskan, pemerintah tidak menurunkan passing grade dalam tahapan SKD rekrutmen CPNS 2018. Pemerintah sedang mempertimbangkan upaya supaya tidak ada formasi yang kosong atau tidak terisi.

“Passing grade tidak diturunkan. Hanya pelamar yang terbaik dari dua ribuan formasi,” ujarnya, di kantor Wakil Presiden RI, mengutip media, Rabu (14/11/2o18).

Jumlah pelamar CPNS yang mendaftar secara online mencapai 4,4 jutaan orang. Kemudian pelamar yang lolos seleksi administrasi dan berhak ikut SKD ada 3,6 jutaan orang.

Sementara formasi yang dibuka ada 238.015 lowongan yang tersebar di 76 kementerian atau lembaga serta 525 pemerintah daerah.

“Namun yang dibutuhkan kira-kira 200 ribuan. Guru saja 120 ribu. Jadi kira-kira 200 ribu sekian lah. Itu yang lolos jadi CPNS, kira-kira 4 persen saja,” sambungnya.

Dari awal, pemerintah memang ingin menurunkan jumlah PNS. Memang tetap ada rekrutmen, tapi jumlahnya lebih sedikit daripada PNS yang pensiun. Salah satu caranya dengan menekan melalui berbagai syarat dalam tes CPNS.

“Kita ingin turunkan jumlah pegawai negeri dengan cara itu karena kita berlebihan. Maka semua warga yang ingin jadi PNS harus berdasarkan hasil tes. Supaya kemampuan mereka untuk menjadi PNS itu betul-betul ada standartnya. Ini kan sudah melalui beberapa tahap ujian,” jelasnya.

Termasuk untuk para Tenaga Honorer K2 yang ingin menjadi PNS, mereka yang telah berusia lebih dari 35 tahun tidak bisa mendaftar. Pemerintah sudah menyiapkan skema untuk menerima mereka yang berusia lebih dari 35 tahun.

“Kalau sudah lebih umurnya 35 tahun dia boleh berdasarkan kontrak, semua bisa berdasarkan kontrak itu solusinya. Sama saja yang dia terima tapi berdasarkan kontrak. Anggaran untuk membiayai tenaga kontrak itu dari APBN,” ungkapnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed