oleh

Maulid Nabi Muhammad Masih Jadi Tradisi Warga Maros

MAROS – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan bakul telur beserta pernak-pernik dan hiasannya masih menjadi momen menarik di Kabupaten Maros. Tradisi ini masih dilaksanakan masyarakat Maros sebagai bentuk rasa syukur, termasuk warga masyarakat Kelurahan Soreang Kecamatan Lau.

Menurut Seniman Maros, Ilham Halimsyah, dulu bakul yang digunakan terbuat dari anyaman daun lontar atau daun kelapa kering, namun seiiring zaman, saat bakul anyaman tidak populer lagi, masyarakat memakai wadah ember atau baskom plastik beraneka ukuran dan warna. Justru ukuran dan warna beragam itu membuat suasana peringatan maulid lebih meriah.

“Selain ember dan baskom, masyarakat juga ada yang memakai panci aluminium dan rak plastik sebagai wadah untuk mengisi telur-telur rebus yang diberi warna. Namun apapun wadahnya, namanya tetap bakul maulid,” ujarnya, sebagaimana ditulis dalam catatannya di Facebook, Selasa (20/11/2018).

Dia menambahkan, perkembangan lainnya, jika dulu telur-telur berwarna diletakkan di batang kayu kemudian diberi hiasan kertas warna-warni, sekarang telur-telur itu diletakkan di penutup wadah, juga ada yang disimpan di dalam ember sebagai isi bakul.

Selain telur, bakul diisi beras atau nasi, penganan ketan atau songkolo, ikan bakar, ikan goreng parape, ikan kambu, tumpi-tumpi dan ayam goreng. Bahkan beberapa bakul di bagian atasnya diisi gula, teh, kopi, biskuit, aneka makanan ringan dan jajajan anak-anak, juga buah-buahan.

Dalam peringatan Maulid Nabi, warga berpartisipasi secara sukarela, setiap rumah tangga menyiapkan aneka makanan dalam bakul-bakul tersebut untuk dikumpulkan di masjid sebelum salat duhur.

Usai salat duhur berjamaah, imam masjid memimpin zikir dan doa bersama, mengucap salawat dan salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Setelah itu bakul-bakul tersebut dibagikan.

Semua keluarga akan mendapatkan hantaran dan bakul dengan tetap memperhatikan masyarakat kurang mampu di sekitarnya. Bagi keluarga mampu, meraka membawa dua hingga tiga bakul, bahkan lebih untuk dikumpulkan di masjid.

“Bakul-bakul itu dibagikan secara acak, sehingga tidak ada pembawa bakul yang menerima milik sendiri, ini menumbuhkan rasa kebersamaan Karena itu, peringatan Maulid Nabi ala Bugis-Makassar memiliki makna mempererat silaturrahim dan memupuk jiwa sosial lewat kebiasaan saling berbagi,” tambahanya.

Membuat bakul dalam tradisi peringatan Maulid Nabi diyakini masyarakat sebagai simbol kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Sedangkan isi bakul, berupa hasil kebun, hasil sawah, hasil laut dan hasil ternak, sebagai wujud sedekah dari harta umat Muslim. Sebagai kesyukuran atas berkah yang diberikan oleh Allah yang Maha Kuasa.

Maka tidak salah jika tradisi turun-temurun masyarakat Bugis-Makassar ini masih tetap dipelihara. Mereka para warga, ingin bergembira menyambut datangnya Rasul Allah, seperti alam semesta yang juga bergembira saat Nabi Agung akhir zaman, Kekasih Allah SWT yang sempurna, Muhammad SAW lahir ke bumi. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed