oleh

Ribuan Rumah Terendam dan Warga Mengungsi di Konawe Utara

KONAWE UTARA – Hujan deras mengguyur Kabupaten Konawe Utara (Konut) sejak Sabtu 1 Juni hingga Ahad 9 Juni menyebabkan sekitar 1.000 rumah terendam banjir dan ribuan orang mengungsi sejak Jumat 7 Juni lalu.

Data resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Konawe Utara (Konut) mengungkap, sebanyak 4.089 orang mengungsi, jumlah ini terdiri dari 1054 kepala keluarga yang bermukim di enam kecamatan.

Kepala Bidang Kedaruratan Bencana BPBD Konut, Djasmuddin menyampaikan, selain hujan yang berkepanjangan, banjir juga disebabkan luapan sungai Lasolo dan rendahnya beberapa lokasi pemukiman warga di enam kecamatan. Keenamnya yakni Kecamatan Andowia, Asera, Oheo, Langgikima, Landawe dan Wiwirano.

“Saat ini, warga korban banjir sudah diupayakan berada di lokasi yang aman. Kami masih melakukan evakuasi pada sejumlah warga yang menjadi korban,” ujarnya, melalui media, Senin (10/6/2019).

Dari enam kecamatan yang terendam banjir, sebanyak 28 desa terisolasi. Penyebabnya, sejumlah akses jalan dan jembatan putus menuju ke sejumlah desa.

“Jalan terendam banjir, arus kendaraan tersendat sehingga pengendara motor dan roda empat banyak yang terhalang menuju lokasi,” tambahnya.

Kerugian akibat kerusakan fasilitas umum karena banjir yang melanda Konawe Utara ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah. Hingga Ahad kemarin, tercatat ada 56 unit rumah warga hanyut terbawa banjir.

Bupati Konawe Utara, Ruksamin sudah meninjau langsung kondisi pengungsi yang tersebar di sekitar enam kecamatan. Data yang dikeluarkan, tercatat kerugian makin bertambah setiap hari.

Sebanyak 970,3 hektare sawah terendam dan 432 hektar tambak ikan air asin terendam di Kecamatan Motui. Tidak hanya itu, ada 11 hektare kebun palawija yang rusak dan terancam gagal panen.

Sebanyak 83,5 hektare tanaman jagung juga terendam banjir. Jagung, diketahui merupakan komoditas andalan yang dibudidayakan Pemkab Konawe Utara.

“Sejauh ini, kami sudah tempatkan pengungsi di wilayah yang aman. Tim BPBD dan Pemda masih melakukan peninjauan ke sejumlah lokasi,” katanya.

Untuk fasilitas publik, sebanyak 3 jembatan yang berada di wilayah Kecamatan, Asera dan Oheo tidak bisa diakses karena putus. Paling parah di Asera, sejumlah pengendara motor dan roda empat terjebak di jalur jembatan dan jalan yang putus.

Sejumlah fasilitas pendidikan juga ikut terendam. Diantaranya, 4 unit bangunan sekolah dasar dan 1 unit sekolah menengah pertama.

“Satu buah puskesmas dan tiga buah masjid juga terendam. Sejauh ini komunikasi di wilayah yang terendam banjir masih sulit karena jaringan telepon seluler terganggu,” paparnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed