oleh

Suami Paksa Istri Berhubungan Badan Termasuk Pemerkosaan

JAKARTA – Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Adriana Venny menilai, suami yang memaksa istri untuk melakukan hubungan seksual adalah bentuk pemerkosaan terhadap istri atau lebih tepatnya marital rape.

Tindakan ini sering disebut kekerasan seksual. Marital Rape adalah hubungan seksual antara pasangan suami istri dengan cara kekerasan, paksaan, ancaman atau dengan cara yang tidak dikehendaki pasangannya masing-masing.

Menurutnya, kekerasan seksual juga masuk ke dalam kategori Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

“Jadi KDRT itu dia memaksa istrinya untuk melakukan sesuatu tapi dia tidak mau. Itu bentuk pemerkosaan atau kekerasan seksual pada perempuan ekstrem yang dapat berakhir kepada kematian,” ujarnya, melaluin media, Senin (8/7/2019).

Dia mengatakan, seorang istri bisa saja menolak suami apabila menolak melakukan hubungan suami istri dengan alasan tertentu.

Menurutnya, pemerkosaan dalam perkawinan suatu hal yang sering kali dianggap sepele oleh berbagai pihak. Sebab beberapa orang yang jadi korban pemerkosaan dalam rumah tangga jarang sekali melapor ke pihak kepolisian.

“Kasus ini terkadang dianggap sepele padahal sebenarnya ini kasus yang penting, sayangnya korban tidak menganggap itu bentuk pemerkosaan yang dilakukan suaminya,” jelasnya.

Bahkan menurutnya, kadang polisi juga seringkali menyepelekan kasus pemerkosaan terhadap istri.

“Polisi mengira kasus pemerkosaan itu bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” ungkapnya.

Padahal, kekerasan seksual ini bisa mengakibatkan trauma fisik dan emosional pada korban. Selain itu, juga menjadi suatu hal yang menakutkan bila kekerasan seksual yang dilakukan ibunya diketahui sang anak.

“Ini bisa menjadikan trauma mendalam baik itu bagi anaknya maupun bagi korban. Ini akibatnya bisa berkepanjangan entah anaknya jadi memiliki karakter emosional atau bisa saja anaknya akan jadi seperti pelaku,” paparnya.

Diberitakan sebelumnya, pada Jumat 5 Juli lalu, seorang pria bernama Anton Nuryanto membacok istrinya, FZ karena menolak ketika diajak berhubungan badan.

Akibat dibacok suaminya, FZ, warga Jalan Ancol Selatan II Sunter Agung Tanjung Priok Jakarta Utara itu sempat mengalami luka serius dan harus dirawat di rumah sakit.

Sementara pelaku, suaminya dibawa ko Polsek Tanjung Priok. Dia dikenakan Pasal 44 Undang Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed