oleh

Kisah Hidup Supir Bupati yang Kini Jadi Bupati

Kemiskinan tidak membuat Indartato berkecil hati dalam menggapai kesuksesan. Latar belakang yang kurang beruntung, dengan masa kecil sebagai anak pamong praja membuat dirinya terbentuk menjadi sosok sederhana.

Penghasilan orangtuanya yang terakhir memegang jabatan wedono atau pembantu bupati relatif pas-pasan kala itu. Akibatnya, dia harus menahan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.

Begitulah kisah Bupati Pacitan, Indartato. Selain dikenal lugas, putra pasangan Sudarmanto – Kasiati ini juga tidak muluk-muluk. Cita-citanya hanya ingin menjadi sopir.

Keinginan itu bukan tanpa alasan. Di mata Indartato muda yang tinggal di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan, profesi sopir merupakan simbol kemakmuran.

Di saat kebanyakan orang baru bisa menikmati nasi thiwul atau nasi berbahan baku ketela, sebagai santapan sehari-hari, para sopir sudah bisa menyantap nasi beras di warung.

“Dari waktu kecil saya jarang makan enak. Teman-teman bisa makan nasi putih keluarga saya makan tiwul. Itupun masih harus dibagi dan makannya bersama-sama,” ungkapnya, kepada media.

Dorongan itu yang membuat pria kelahiran Ponorogo 27 September 1954 tersebut memberanikan diri belajar mengemudi.

Atas jasa tetangganya yang memiliki kendaraan angkutan jenis pick up, Indartato belajar menguasai kendaraan hingga akhirnya berhasil memperoleh Surat Ijin Mengemudi.

Bermodal keterampilan itu, dia mencoba mengadu nasib dengan melamar pekerjaan di Pemkab Pacitan.

Rupanya, nasib baik berpihak padanya. Berbekal ijazah SMA, pada tahun 1975 Indartato diterima bekerja menjadi tenaga harian. Setahun kemudian, posisinya dinaikkan setingkat lebih tinggi menjadi tenaga harian tetap dengan posisi baru sebagai sopir bupati yang saat itu dijabat Mohammad Kusnan.

Sejak saat itulah karier Indartato terus merangkak naik. Tahun 1978 Bupati Kusnan memberinya kesempatan tugas belajar ke Akademi Pendidikan Dalam Negeri (APDN).

Indartato mengawali kariernya pada jabatan struktural sebagai Camat Pringkuku pada tahun 1984. Saat itu usianya baru 30 tahun, usia termuda untuk seorang camat.

Karena tuntutan jabatan, posisinya terus berpindah-pindah dari satu instansi ke instansi yang lain. Terakhir, bapak 3 anak, hasil perkawinannya dengan Luki Tri Baskoro Wati memangku jabatan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Pacitan hingga pensiun tahun 2010.

“Dana saya ketika akan maju bupati Rp 33 juta dari uang taspen pensiunan,” ungkapnya, mengutip kisah inspirasi dari Kick Andy, Sabtu (31/8/2019).

Indartato merupakan Bupati Pacitan dua periode, yakni 2011-2016 dan 2016-2021. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed