oleh

54 Tahun IAS Mengarungi Masa Persemaian Jiwa

“Saya tidak mengambil uang Negara. Saya hanyalah korban konspirasi politik. Saya korban kriminalisasi isu PDAM…”

Inilah penggalan kalimat pembukaan ketika DR Ilham Arief Sirajuddin (IAS) melakukan pembelaan (pledoi) pada sidang Pengadilan Tindak Korupsi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada 22 Februari 2016, lalu.

Pledoi itu diberi judul “Demi Air Warga Makassar, Saya Jadi Korban Konspirasi Politik.”

Pernyataan tersebut sebagai ungkapan pemberontakan jiwanya yang tidak menerima menjadi tersangka Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan dugaan korupsi bekerjasama pengelolaan dan transfer uang di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Makassar untuk tahun 2006-2012.

Dugaan itu dinilai merugikan negara hingga Rp38,1 miliar. Kasus ini melibatkan Direktur Utama PT Traya Tirta Makassar, Hengky Wijaya yang meninggal dunia saat perkara masih berproses dipersidangan.

Aco, sapaan akrab IAS, dijerat dengan pasal penyalahgunaan wewenang dan upaya memperkaya diri sendiri dan orang lain, dia diancam hukuman 20 penjara.

Aco terus melakukan perlawanan hukum dan memenangkan proses Praperadilan. Namun demikian, “perang” hukum dengan KPK terus berlanjut dan akhirnya IAS harus menjalani vonis 4 tahun penjara.

IAS telah merasakan dinginnya tembok Rumah Tahanan (Rutan) Guntur Jakarta saat menjadi tahanan KPK, setelah vonis hakim dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin Jawa Barat (Jabar).

Pada 7 Januari 2019 dari Lapas Sukamiskin pindah ke Lapas Kelas I A Makassar. Dan, Senin 15 Juli 2019, IAS menghirup udara bebas dari Lapas Makassar.

Mantan Wali Kota Makassar dua periode (2004-2009 dan 2009-2014) ini menapaktilasi perjalanan hidupnya melalui buku yang ditulis oleh putrinya, Haera Ilham dan Emaru dan testimoni pada peringatan ulang tahunnya yang ke-54 di Ballaroom Novotel Makassar, Senin (16/9/2019).

IAS muncul kembali setelah menghilang dari  belantara politiik dan kembali menyapa, sekalian tasyakuran dan bedah bukunya berjudul, “Ilham Bagi Sosok IAS, Reputasi, Prestasi, Jeruji Besi dan Keikhlasan, ” oleh DR Hasrullah MA (Dosen Unhas Makassar), Ustaz DR Das’ad Latief, Irfan Hidayatullah (Dosen Unpad Bandung).

Acara ini dihadiri mantan Walikota Makassar, Andi Herry Iskandar, mantan Walikota Makassar, Danny  Pomanto dan mantan Wakil Wali Kota Makassar, Syamsurijal  (Daeng Ical), sejumlah kerabat, sahabat serta pendukung setia IAS.

Selama menjalani masa hukumannya, ayah dua putra dan dua putri ini mengaku tak pernah berputus asa, dia menyebut Lapas Sukamiskin sebagai tempat “Persemaian Jiwa”, di sini dia memperdalam ilmu agama, menghabiskan hari-harinya dengan mempelajari Alquran, dipandu seseorang ustaz di Lapas, menumpahkan segenap beban kehidupannya di sajadah (tikar untuk shalat).

IAS mengaku menemukan ketenangan batin dan ikhlas menerima kehendak Tuhan terhadap dirinya. Keikhlasan itu juga tergambar dari istri dan putra-putrinya yang lapang dada menerima musibah yang menimpa keluarga ini.

Haera, putrinya yang meraih cumlaude di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) 2019, bahkan sering kali menulis catatan meneduhkan untuk ayahnya agar tabah dan memetik hikmah dari kejadian itu.

Dia menyebut, inilah langkah Allah untuk lebih mendekatkan IAS kepada anak-istrinya karena selama memangku jabatan walikota, nyaris waktunya tersita hanya untuk kegiatan masyarakat.

IAS yang akrab disapa Aco sangat bersyukur kepada Allah SWT, karena dengan musibah ini, istrinya, Aliyah Mustika yang semula dikhawatirkannya, ternyata mampu tampil sebagai wanita “tangguh”, tidak hanya rutin memberi perhatian terhadap IAS di Lapas, tapi juga mampu membimbing  dan mengurus putra-putrinya, hingga semua  berhasil menyelesaikan studi di bangku perguruan tinggi di dalam dan luar negeri.

IAS menyebut Aliyah, wanita pasangan hidupnya yang dinikahi 28 Juni 1992 itu, adalah wanita yang sangat hebat, memiliki semangat juang dan kepercayaan diri yang tinggi, hal itu dibuktikan dari kemampuannya mengukir prestasi di Pemilu 2019, Aliyah Mustika lolos ke Senayan untuk periode kedua sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI asal Sulawesi Selatan dari Partai Demokrat, saat IAS masih harus menghabiskan sisa hukumannya di Lapas.

Buku IAS setebal  187 halaman itu diwarnai catatan para kolega, isinya juga memaparkan penilaian terhadap IAS, prestasi selama menjadi Walikota Makassar dua periode.

IAS pernah dinobatkan oleh Majalah Tempo sebagai 10 tokoh 2008 yang bekerja dengan hati menggerakkan daerah.

IAS disebut sebagai tokoh rendah hati yang memiliki hubungan emosional dari berbagai lapisan, dia tidak mengenal sekat dalam berkomunikasi, semua yang mengenalnya pun selalu membangun kerinduan.

Seperti kerinduan yang mewarnai  peringatan usianya ke 54 di Ballroom Novotel, “hujan” peluk cium terus menyambutnya.

“Selamat pak IAS.. Selamat, kami selalu bersamamu,” ucap para pendukung yang menyalaminya. (*Kiblat Said)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed