oleh

Sulsel Raih Peringkat 4 Pertumbuhan Ekonomi Nasional

MAKASSAR – Gubernur Sulawesi Selatan, Prof HM Nurdin Abdullah dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman berhasil mengantarkan Sulsel duduk di peringkat 4 pertumbuhan ekonomi nasional.

Prestasi tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Bambang Kusmiarso di hadapan seluruh pelaku usaha dan pihak terkait.

DIa menyatakan, Sulsel saat ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup besar.

“Sulawesi Selatan berada di posisi keempat dari seluruh Indonesia, setelah provinsi Kalimantan dan tiga provinsi lainnya se Indonesia,” ungkapnya di The Rinra Hotel, Rabu (25/9/2019).

Selaian berada pada peringkat ke-4 ekonomi nasional, pertumbuhan ekonomi Sulsel juga mencapai 7 persen.

Bambang Kusmiarso melanjutkan, pencapaian tersebut tidak terlepas dari kerja keras Gubernur Sulawesi Selatan, Prof HM Nurdin Abdullah dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman selama kurang lebih satu tahun.

Dia melanjutkan, pertumbuhan ekonomi tersebut naik secara signifikan disebabkan oleh empat faktor yakni kenaikan gaji ASN, petani coklat, industri yang menghasilkan nikel dan kebutuhan ikan hingga menghasilkan ekspor keluar dari Sulsel.

“Kenaikan tunjangan ASN menjadi pendorong perekonomian Sulsel. Pertumbuhan nikel sampai 93 persen seluruh Indonesia dan berasal dari Sulawesi, Maluku dan Papua atau Sulampua. Kemudian petani coklat dan ekspor ikan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di Sulsel,” jelasnya.

Sementara itu, Prof HM Nurdin Abdullah mengaku, dirinya bersama Andi Sudirman Sulaiman sudah berhasil mengubah kepercayaan kepada masyarakat Sulsel untuk membangun kolaborasi dengan seluruh elemen.

“Saya sudah satu tahun membangun kolaborasi dengan seluruh elemen. Bantaeng dan Takalar menjadi pusat industri. Dan saya kira tugas kita ini berat tapi tidak ada yang sulit kalau kita melakukan bersama,” jelasnya.

Pada kesempatan itu juga, dia menyampaikan, seharusnya yang menjadi penyumbang pajak terbanyak bukan dari pajak kendaraan tapi harusnya dari sektor pertanian.

“Saya kira tidak ada satupun manusia yang beli mobil dulu, beli rumah dulu tahun ini tahun depan baru beli makanan. Kalau kita mau tingkatkan ikan dan nelayan kita, harus menyediakan teknologi penangkapan ikan. Dan masalahnya kita adalah ego sektoral, kampus itu harus menjadi dapur kebijakan dunia usaha,” paparnya.

Selain itu, perpindahan Ibu Kota Negara di Kalimantan merupakan salah satu peluang bagi Sulsel untuk terus mendorong inovasi baru untuk mengembangkan hasil pertanian. Begitu juga, dengan pengembangan pariwisata yang ada.

“Sebelum ibu kota negara pindah ke Kalimantan, kita ini adalah penghasil pangan terbanyak. Saya melihat Sulsel ini sektor pariwisata ini yang layak kita jual, kita memperbesar Bandara Sultan Hasanuddin Makassar untuk mengurangi kepadatan di Bali dan Jakarta,” jelasnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed