oleh

Cerita Warga Gowa Selamatkan Keluarga dari Rusuh Wamena Papua

Pengungsi Wamena dari Gowa
Pengungsi Wamena dari Gowa, Nurul.

GOWA – Tak ada yang berbeda pagi itu, semua seperti biasanya, Jalan Timur Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, tetap normal dan cuaca cerah berawan.

Nurul Yakin salah satu perantau Wamena, asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tiba di Kantor Pos, tempat ia bekerja sekitar pukul 08.00 WIT, Senin 23 September 2019.

Suasana yang damai, berselang satu jam kemudian tiba-tiba mencekam. Tidak ada tanda-tanda akan ada kerusuhan, yang kemudian menewaskan 33 orang di kota itu.

“Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Hari Senin itu semua siswa sekolah tetap belajar, sekolah juga tidak diliburkan, semuanya seperti biasa,” kata Nurul saat ditemui di rumah keluarganya, Griya Majannang Permai Pallangga, Kabupaten Gowa, Sabtu 5 Oktober 2019.

Pukul 09.00 WIT, semua yang tampak seperti biasanya, tiba-tiba menakutkan. Nurul yang masih membersihkan ruang kantornya, tiba-tiba menyaksikan teriakan histeris dari segala arah.

“Selesai bersih-bersih di kantor, tiba-tiba ada orang teriak-teriak dari luar kantor. Katanya ada kerusuhan dan pembakaran. Saya kaget, kan selama ini masyarakat sipil baik-baik saja. Kita tidak pernah mendengar apa-apa. Jadi kejadiannya betul-betul secara tiba-tiba,” ungkapnya.

Tak jauh dari pandangan Nurul, terjadi aksi pembakaran, perusakan dan suara teriakan di pusat Kota Wamena. Gumpalan asap hasil pembakaran dia saksikan, api dan asap menjulang tinggi ke langit.

Tak ada hal lain yang bertahan lama di pikiran Nurul, kecuali harus menyelamatkan dua orang anak dan istrinya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung bergegas menuju rumah kontrakan di Jalan Honai Lama, Wamena, untuk menemui istri, Titin Irayani dan dua orang anaknya, Arsila Nahwa dan Dzaki Zafran Syabani serta adiknya.

“Setelah itu saya balik ke kios, ke rumah karena istri saya menelepon katanya ada kerusuhan dan saya punya dua anak kecil. Kami bersembunyi di dalam rumah dan saya bersembunyi di tuan tanah ada namanya kepala suku di situ beliau bernama Lio Kosai,” ujarnya.

Selama kurang lebih delapan jam, Nurul Yaqin bersama istri dan dua orang putri kecilnya bersembunyi di rumah ketua suku itu. Sekitar pukul 16.00 WIT, sejumlah aparat kepolisian dan TNI mulai mengevakuasi warga termasuk dirinya untuk mengungsi ke Kodim 1702.

Situasi yang sangat mencekam sore itu, membuat Nurul Yaqin dan keluarganya tak sempat menyelematkan harta benda yang ia miliki. Ia bersama istri dan anaknya hanya membawa pakaian yang melekat pada tubuh.

Kodim 1702 menjadi salah satu tempat pengungsian di Kota Wamena. Nurul Yaqin bertahan selama enam hari di Kodim 1702 bersama ribuan pengungsi lainnya sebelum ia diberangkatkan ke Jayapura menggunakan pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara (AU).

Kalau misalnya ada yang lebih baik untuk sementara saya di Gowa dulu

“Untuk bisa menggunakan Hercules, kami harus menunggu karena waktu itu padat sekali orang berdesak-desakan untuk naik. Satu minggu saya ngungsi di Kodim, habis itu saya ke Jayapura rumah keluarga,” kisahnya.

Setelah dua hari mengungsi di rumah keluarga di Jayapura dan melihat kondisi Wamena yang masih mencekam, Nurul Yaqin memutuskan untuk membawa keluarganya kembali ke Gowa. Berkat pinjaman uang, ia akhirnya menggunakan pesawat komersial untuk membawa keluarganya kembali ke Kabupaten Gowa.

“Dari Jayapura ada yang dermawan membantu saya, saya pinjam dulu uang untuk beli tiket. Yang penting istri dan anak-anak saya sampai ke Gowa ke Makassar dulu,” ungkapnya.

Nurul Yaqin menceritakan, keberadaan di Wamena sejak 2015 lalu karena ditugaskan sebagai da’i pedalaman dari Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Jawa Timur.

Selama menyebarkan syiar Islam di Tanah Papua tersebut, Nurul Yaqin mengungkapkan bahwa tidak ada kendala berat yang ia hadapi. Bermodalkan ilmu agama yang ia peroleh selama mondok di Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Jawa Timur, Nurul Yaqin terus berdakwah dari masjid ke masjid.

Memanfaatkan waktu luangnya, selain sebagai pegawai di Kantor Pos, ia juga memanfaatkan waktunya untuk mengajar mengaji anak-anak penduduk muslim. Selama perjalanan dakwahnya, Nurul Yaqin mengaku juga sudah mengislamkan beberapa warga non muslim.

“Selama ini saya di sana itu ngajar anak-anak ngaji. Artinya selama ini saya bersama masyarakat Papua itu baik-baik saja. Orang Papua itu semuanya baik-baik orang Papua semuanya ramah-ramah. Cuma ini adalah musibah bagi kita semua kita harus bersabar,” ucapnya.

Sementara untuk kembali ke Kota Wamena, Nurul Yaqin mengaku butuh waktu untuk berpikir tiga kali. Menurutnya peristiwa kerusuhan, perusakan, pembakaran dan teriakan yang terjadi di depan mata masih terngiang-ngiang di ingatannya. Trauma yang ia alami bersama keluarga membuatnya harus berpikir panjang untuk kembali ke Wamena.

“Kita lihat kondisi dulu situasi dulu, memang trauma masih ada di antara kita, saya sendri masih trauma melihat kejadian itu. Wallahu ‘a’lam Kita tidak tahu ke depannya bagaimana. Kalau misalnya ada yang lebih baik untuk sementara saya di Gowa dulu. Untuk sementara saya bertahan di sini dulu, siapa tahu nanti ada jalan lebih baik,” katanya.

Di Kabupaten Gowa sendiri, Nurul Yaqin mengaku tidak membawa apa-apa. Kecuali pakaian yang melekat dan beberapa bantuan dari dermawan. Saat ini Nurul Yaqin tinggal di rumah keluarga pihak istrinya di Griya Majannang Permai, Desa Bontoala, Kecamatan Pallangga. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed