oleh

Mengenal Buzzer dan Influencer di Indonesia

Ponsel
Ilustrasi pengguna ponsel.

Beberapa hari ini, kata buzzer menjadi perhatian publik. Terutama di kalangan pengguna media sosial.

Hal itu berawal saat Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko meminta kepada buzzer yang selama ini mendukung Jokowi untuk tidak menyuarakan hal yang desdruktif bagi pemerintahan Jokowi.

Menurutnya, dalam situasi saat ini tidak diperlukan lagi buzzer yang bersuara desdruktif, namun dukungan politik yang lebih membangun.

Selain itu, selama ini Moeldoko mengamati bahwa para buzzer sering melemparkan kata-kata yang tidak enak didengar dan tidak enak di hati.

Lantas apa itu buzzer?

Pengamat media sosial, Enda Nasution mengungkapkan bahwa buzzer merupakan akun-akun di media sosial yang tidak mempunyai reputasi untuk dipertaruhkan.

“Buzzer lebih ke kelompok orang yang tidak jelas siapa identitasnya, lalu kemudian biasanya memiliki motif ideologis atau motif ekonomi di belakangnya dan kemudian menyebarkan informasi. Kan tidak ada konsekuensi hukum juga menurut saya, ketika ada orang yang mau mem-bully atau menyerang atau dianggap melanggar hukum, dia tinggal tutup aja akunnya atau menghapus akunnya atau dibiarkan saja hingga tidak aktif lagi,” ujarnya, mengutip Kompas, Selasa (8/10/2019).

Bila ada akun yang memiliki nama yang jelas dan latar belakang yang jelas, maka disebut influencer.

Dengan begitu akun tersebut tidak bisa seenaknya mengunggah sesuatu, karena bila salah atau terdapat orang yang tidak suka, dapat menimbulkan risiko terhadap pemilik akun tersebut.

“Dalam kategori influencer, mereka memiliki nama asli dan latar belakang yang jelas, misalnya politisi, pebisnis atau pengamat-pengamat politik, kita tidak bisa menyebut mereka sebagai buzzer, mereka adalah influencer yang punya preferensi dukung mendukung sesuatu isu atau orang,” paparnya.

Fenomena buzzer sebenarnya sama seperti ketika media sosial pertama kali dijadikan ajang untuk perang opini dan berusaha memenangkan opini publik.

“Nah dalam alam demokratis yang sifatnya kontestasi seperti ini, maka kemudian siapa yang menang secara opini, maka dia juga yang dianggap lebih populer, akhirnya kehadiran buzzer mulai muncul di situ,” jelasnya.

Hal itu dikarenakan ruang-ruang publik sekarang tidak lagi dipenuhi media mainstream, tetapi juga media sosial yang sama-sama mempengaruhi dan berusaha meyakinkan publik terhadap satu atau lain isu.

“Jadi sebenarnya konsekuensi real dari kehadiran ruang publik dan juga sistem demokrasi, makanya muncul lah buzzer-buzzer ini, kelompok-kelompok yang berusaha untuk berperang atau memenangkan opini di ruang publik,” tambahnya.

Enda Nasution juga mengatakan, buzzer ada yang dibayar dan ada juga yang hanya sukarelawan. Bila  dia sukarelawan, biasanya karena motif ideologis, karena memang dia setuju dengan isu ini.

Sedangkan buzzer yang dibayar biasanya memiliki motif ekonomi, artinya mungkin selain mendukung, dia juga profesional di bidang tersebut sehingga mendapat bayaran.

Menurutnya, kehadiran buzzer memiliki dampak di masyarakat.

“Dampaknya yakni kebingungan dari masyarakat, siapa yang harus dia percaya, walaupun ada sumber-sumber yang kredibel misal media yang kredibel, pemerintah juga masih sebagai sumber yang kredibel. Tapi di zaman media sosial seperti sekarang, informasi tidak dilihat dari sumbernya yang mana, bahkan seringkali enggak tahu sumbernya dari mana karena merupakan hasil copy paste dari WhatsApp atau status Facebook dan sebagainya,” jelasnya.

Sehingga, yang terjadi adalah masyarakat harus menentukan sendiri harus percaya dengan siapa. Kebanyakan masyarakat mempercayai sesuatu melalui referensi yang telah dia miliki sebelumnya.

“Bila dia merasa kelompok A itu jahat, maka informasi yang mendukung referensi itu, akan dia percaya dan akhirnya dia sebarkan, begitu juga sebaliknya,” ungkapnya.

Dia menambahkan, banyak informasi yang sering kali membuat kita hidup dalam ketidakpastian.

“Bila akan terus begini, kita akan terjebak dalam popularism artinya seolah-olah yang paling populer itu yang benar, padahal kebenaran itu bukan masalah populer atau tidak,” pungkasnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed