oleh

YLBHI Minta Fakta Terkait Akbar Alamsyah Tak Ditutupi

JAKARTA – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menduga ada fakta yang ditutupi pihak kepolisian terkait kejadian yang menimpa Akbar Alamsyah, yang meninggal dunia usai dirawat di RSPAD Gatot Subroto Jakarta karena tempurung kepalanya pecah.

YLBHI meminta kepolisian untuk jujur.

“Pernyataan yang berbeda-beda ini jelas mencurigakan,” kata YLBHI, Asfinawati, kepada detikcom, Sabtu (12/10/2019).

Pernyataan yang dimaksud merujuk penjelasan pihak kepolisan yang simpang siur.

Polisi sempat menjelaskan Akbar Alamsyah menderita luka di bagian kepala akibat terjatuh dari pagar depan Restoran Pulau Dua, saat demonstrasi ricuh di kawasan DPR RI, pada Rabu 25 September lalu.

Polisi ketika itu menyebut Akbar Alamsyah dievakuasi oleh pekerja bangunan yang sedang melakukan renovasi di sekitar kawasan DPR, namun tak disebutkan ke mana Akbar Alamsyah dievakuasi.

Namun setelahnya, polisi menerangkan anggota Polres Jakarta Barat bernama AKP Rango menemukan Akbar Alamsyah tergeletak di trotoar saat aparat menyisir massa demonstrasi rusuh.

Polisi mengatakan posisi Akbar Alamsyah dikelilingi batu-batu dan langsung dievakuasi ke Polres Jakbar bersama para massa demonstrasi yang tertangkap.

Sesampai di Polres Jakbar, Akbar Alamsyah diinterogasi terkait keterlibatannya dalam kerusuhan itu.

Dari saksi-saksi yang diperiksa, polisi menyampaikan Akbar Alamsyah ikut melakukan kerusuhan sehingga sempat ditetapkan sebagai tersangka.

YLBHI merasa dari runutan pernyataan polisi itu ada kejanggalan terkait kasus Akbar Alamsyah.

Dia mengatakan perlu dilakukan autopsi oleh tim independen untuk mengungkap fakta terkait meninggalnya Akbar Alamsyah.

“Perlu ada autopsi oleh tim yang independen. Sementara menunggu autopsi, Polri harus membuka informasi kepada publik terkait nama polisi-polisi yang membawa korban ke polres, tim medis, dan yang membawa ke RS Pelni dan RSPA. Menutup-nutupi fakta tidak akan membawa perbaikan apapun untuk citra Polri. Karena itu Polri harus membuka dengan jujur dan tidak menutup-nutupi fakta apapun,” ungkap Asfinawati

Dia menuturkan kepemimpinan Kapolri, Jenderal Tito Karnavian diuji dalam kasus ini. Dia pun meminta Presiden RI, Jokowi memberikan atensi pada kasus ini.

“Pada kasus semacam ini, kepemimpinan Kapolri diuji. Presiden harus memberi perhatian kepada kasus ini, karena ini kasus kematian kelima,” tandasnya.

Diketahui, Akbar Alamsyah berada di sekitar gedung DPR saat demonstasi pada Rabu 25 September. Saat itu, kerusuhan pecah selepas magrib.

Setelah Akbar Alamsyah tak kunjung pulang, keluarga mendapati Akbar Alamsyah dalam kondisi luka parah di RS Polri. Keluarga menyebut kepala Akbar Alamsyah bengkak dan wajahnya tak bisa dikenali.

Akbar Alamsyah lalu dirujuk ke RSPAD dan dirawat dalam keadaan koma sejak saat itu hingga tutup usia pada Jumat 11 Oktober kemarin,.

Tempurung Akbar Alamsyah disebut hancur dan ginjalnya bermasalah. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed