oleh

Kolonel HS: Ambil Hikmah Buat Kita Semua

Istri Dandim Kendari, Kolonel Hendi Suhendi, Irma Zulkifli Nasution, menangis saat mendampingi suami yang dicopot dari jabatannya pada Sabtu, kemarin.

Dandim Kendari, Kolonel Hendi Suhendi dicopot gegara isi postingan sang istri di Facebook. Postingan sang istri dianggap bernada nyinyir terhadap peristiwa yang dialami Menko Polhukam, Wiranto.

Jabatan Komandan Kodim (Dandim) Kendari kemudian diserahkan dari Kolonel Hendi Suhendi ke Kolonel Inf Alamsyah.

Serah terima jabatan (sertijab) Dandim Kendari ini dipimpin oleh Komandan Korem 143 Haluoleo, Kolonel Inf Yustinus Nono Yuliato di Aula Jenderal Sudirman Korem 143 Haluoleo Kendari.

Istri Kolonel Hendi Suhendi, Irma Zulkifli Nasution yang saat sertijab menggenakan seragam hijau Persatuan Istri Tentara (Persit) meneteskan air mata.

Matanya berkaca-kaca saat pemberian ucapan selamat dari personel Kodim, Korem, serta anggota Persit Kendari.

Sedangkan, Kolonel Hendi Suhendi terlihat tegar selama proses sertijab.

Seusai acara, Kolonel Hendi Suhendi menyampaikan dirinya menerima apapun keputusan pimpinan. Dia siap menjalankan hukuman yang dijatuhkan kepadanya.

“Saya terima, jadikan pelajaran, saya terima salah. Apapun keputusan dari pimpinan saya terima dan memang itu mungkin pelajaran bagi kita semua. Ambil hikmah buat kita semua,” ujarnya, mengutip media, Ahad (13/10/2019).

Padahal Kolonel Hendi Suhendi baru menjabat selama 55 hari sebagai Dandim Kendari.

Setelah dicopot dari jabatan sebagai Dandim Kendari, dia akan menjalani hukuman disiplin militer selama 14 hari ke depan, yaitu penahanan ringan. Penahanan tehitung mulai Sabtu 12 Oktober, kemarin.

Sebelumnya, KSAD, Jenderal Andika dan KSAU, Marsekal Yuyu Sutisna menjatuhkan sanksi pencopotan pada tiga anggota TNI akibat unggahan sang istri.

Tiga anggota personel TNI yang mendapatkan sanksi adalah Kolonel HS yang menjabat sebagai Dandim Kendari, Sersan Dua Z dan Peltu YNS, anggota POMAU Lanud Muljono Surabaya.

Sementara ketiga istri mereka, yakni IPDL, LZ, dan FS, telah dilaporkan ke polisi karena dianggap melanggar UU No 19 Tahun 2016 tentang ITE.

Jenderal Andika Perkasa mengatakan, pencopotan anggotanya tersebut telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 tahun 2014 yaitu tentang disiplin militer.

Kepala Subdinas Penerangan Umum TNI AU, Kolonel (Sus) Muhammad Yuris dalam keterangan tertulis, menjelaskan bahwa dalam urusan politik, posisi prajurit TNI AU dan keluarganya (KBT/Keluarga Besar Tentara) harus netral.

Hal yang sama juga dijelaskan oleh Kepala Penerangan Komando Daerah Militer (Kapendam) XIV Hasanuddin, Letnan Kolonel Maskun Nafik, bahwa sikap atau pernyataan seorang istri perwira atau personel TNI bisa berimplikasi menjadi gangguan atau polemik dalam kondisi sosial masyarakat.

Pada akhirnya, sikap keluarga personel TNI itu akan menjatuhkan kehormatan prajurit militer.

“Akhirnya, martabat militernya menjadi terganggu atau boleh dikatakan kehormatan militernya jatuh. Ibaratnya seperti itu,” ujarnya kepada Kompas.com.

Menurutnya, selama ini pimpinan TNI berulang kali mengingatkan agar para prajurit, istri prajurit atau keluarga TNI tidak mengunggah hal-hal yang berkaitan dengan politik, suku, agama, dan ras.

“Atau membuat konten-konten yang menjatuhkan martabat sebagai prajurit atau istri prajurit atau men-share, memposting, meskipun bukan buatannya sendiri,” paparnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed