oleh

Emak-emak Bugis Pakai Perhiasan Emas Seberat 3 Kg

Video seorang wanita dengan perhiasan emas mencolok menjadi perhatian warganet. Perhiasannya menghiasi anggota tubuhnya, Sabtu (12/10/2019).

Di tanah Bugis, wanita yang selalu tampil dengan perhiasan emas berlebih dijuluki Indo’ Ulaweng (ibunya emas) atau bahasa kerennya;  “Emak Emas”.

Si emak berpakaian ‘hajjah’ khas Bugis itu, mengaku mengenakan perhiasan emas seberat 3 kg. Wow!

Dalam video yang diunggah di Twitter itu, terlihat perempuan berusia sekitar 60-an tahun, merinci 13 item dan berat perhiasan emasnya.

Tujuh item gelang di dua pergelangan tangannya, masing-masing; 70 gram, 50 gram, dan 145 gram. Di tangan kanan, empat item; 110 gram, 120 gram, dan dua gelang yang masing-masing dia sebut 65 gram.

Di leher, ada dua rantai kalung tembaga kuning masing-masing 100 gram, dan satu kaling liontin yang juga diklaim “300 grem”.

Ini belum termasuk 5 jenis cincin di 7 jemari dua tangannya.

Sayangnya di akun media sosial itu tadi dirinci siapa identitas si emak-emas Bugis “300 grem emas” itu. Video berdurasi 60 detik itu hanya disebut sebagai fakta.

Sebelumnya, berita “emak emas Bugis” juga viral dua tahun lalu. Juga di bulan Oktober.

Video wanita Bugis, –yang belakangan diidentifikasi bernama Hajjah Ondeng–, viral dengan julukan “toko emas berjalan.”

Hajjah Ondeng yang “pamer” aneka perhiasan emas di selasar terminal Keberangkatan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar itu, berkelakar dirinya adalah “PSK” di negeri Jiran.

Konon perhiasan emas Hajjah Ondeng diakui seberat emas 1,19 kg.

Kata “konon” dan “diakui” kami pakai karena fakta perihal berat perhiasan itu belum ditakar dengan timbangan bertera resmi atau ISO. Itu baru pengakuan.

Bahwa belakangan ada berita soal siapa Hajjah Ondeng, putrinya yang masih duduk di bangku SMA itupun baru cerita.

Kabar dengan kualitas fakta absolut soal kegemaran orang Bugis “menilai” status sosial dengan tembaga tua itu muncul November 2017.

Di sebuah resepsi pernikahan kampung di Desa Cumpiga Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone, Senin, 20 November 2017, juga bikin heboh.

Si mempelai pria menikahi wanita bernama Ernawati , warga Desa Tarasu, Kecamatan Kajuara, Bone, sekitar 41 km dari Awangpone, dengan “mahar kawin” sekitar 100-an cuncin emas dan seperangkat alat sholat.

Lalu, di bulan Juli 2018 lalu, sekitar 6 wanita paruh baya juga dengan pakaian “hajjah poci-poci” Bugis, juga viral se nusantara.

Dengan balutan perhiasan emas di sebuah resepsi pernikahan keluarga di Sulawesi Selatan, emak emas Bugis itu, show up.

– Kenapa wanita Bugis?

Mengapa “emak emas” Bugis senang mengoleksi perhiasan metal kuning berkilau itu? Bukan hanya di Bugis atau Makassar, emas adalah simbol kesejahteraan sosial dan ekonomi global.

Bukan Dolar Amerika, mata uang internasional yang sesungguhnya adalah gold coin.

Seperti harga tanah tambangnya, nilai emas stabil, dan cenderung naik dan bernilai investasi abadi. Beda dengan emas yang stabil dan beredar tanpa batas, dan mudah ditransaksikan.

Berlian (diamond) atau giok memang bernilai tinggi, sayang labil dengan area edar elitis.

Sejatinya masih ada dua jenis logam mulia lain, Platinum dan Palladium. Namun, seperti berlian perdagangannya terbatas dan tak seliquid emas.

Untuk menakar nilai ekonomi dan prestisiusnya logam mulia bernama emas, Confusius, –begawan legendaris Tiongkok–, mengumpamakannnya dengan keabadian persahabatan manusia.

“Teman baru itu ibarat berlian. dan teman lama itu ibarat emas.”

Teman baru selalu diperkenalkan, diceritakan dan dipamer. Sedangkan teman lama sering dilupakan. Namun meski indah, kuat, dan kinclong, berlian tak berarti tanpa diikat emas.

Bangsa-bangsa berperadaban tua, menjadikan emas simbol kejayaan, kesejahteraan, dan kemakmuran.

Emas tetap jadi kasta tertinggi harta benda di bangsa dan ras mayoritas dunia; seperti Meditarian dan Kaukasusian Mesir, Ibrani Yahudi, Semith Arab, Negro Afrika, Hellian Yunani, Anglo-Saxon Eropa, Mongolid China, hingga Hispanik-Latin Amerika.

Guru Besar Ilmu Budaya dari IKIP (kini) Universistas Negeri Makassar, Prof Dr Darmawan Mas’ud MA (1937-2009), menyebut emas mendapat tempat dalam peradaban Bugis-Makassar, Mandar dan Toraja, karena, jadi ultimate culture symbol di momen perkawinan.

“Emas dan tanah jadi mahar dan sompa, saat seorang manusia dewasa akan membangun klan dan keluarga mandiri.”

Emas itu adalah logam paling tinggi, tua dan nilai ekonomisnya diakui semua bangsa di dunia setelah manusia melewati zaman batu, zaman tembaga dan perunggu.

Mendiang antroplog kelahiran Mandar ini menyebut, hampir di semua sentra ekonomi provinsi, kita hingga level kecamatan di Sulawesi dan timur Indonesia, selalu ada toko perhiasan emas.

“Jika dalam satu komunitas wilayah sudah ada toko emas di dekat pasae, berarti di situ ada petani, nelayan, saudagar, pedagang yang makmur,” ujarnya dalam sebuah kuliah antropologi di PPs IKIP Ujungpandang, awal dekade 2000-an.

– Lantas kenapa hanya perempuan perempuan Bugis yang “memamerkan” perhiasan emasnya?

Sosiolog Hukum Islam dari UIN Alauddin Makassar, Dr Zulhasari Mustafa MAg, menyebut itu sebagai bagian dari ajaran Islam.

“Ini bukan konteks riya, melainkn sosial budaya. Fiqhi wanita diperbolehkan memakai cincin emas, dan pria memakai cincin perak.”

Lagian, wanita diperbolehkan memakai perhiasan logam emas untuk fadilah kesehatan di usia produktif atau sebelum masa manupouse.

Itu karena wanita datang bulan dan darahnya keluar tiap bulan. Ada anjuran syarii, saat sudah manupouse, perhiasan emas wanita dilepas sebelum tidur.

Emas dalam penelitian ilmiah logam yang bisa larut dengan darah, sedangkan perak tidak.

“Syarii itu tak semata sesuai Quran dan hadist, tapi juga basihat sahabat, ijtihan ulama atau penelitian ilmiah, dan maqasidu’ syarii atau ketentuan yang merujuk Quran dan Sunnah dan bermanfaat secara turun temurun,” ujarnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed