oleh

Polisi Ungkap Tahapan Rekrutmen Teroris

Syahril Alamsyah alias Abu Rara, pelaku penusukan Menkopolhukam, Wiranto, masuk dalam pemetaan aparat ihwal terorisme, tapi dia tidak ditangkap karena belum melewati tahap i’dad atau bangun kekuatan.

Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, ada lima tahapan pergerakan kelompok teroris. Sedangkan Abu Rara belum capai tahap akhir.

Syahril Alamsyah alias Abu Rara berharap ditembak mati setelah melakukan aksinya demi memenuhi rencana jihadnya.

Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, jika ditembak mati, jihad menurut pemahamannya bakal berhasil.

“Dia punya harapan, saya ditangkap, saya akan melakukan perlawanan semaksimal mungkin, saya akan ditembak, ditembak mati. Jihadnya berhasil,” ungkapnya, mengutip media, Selasa (15/10/2019).

Abu Rara disebut tak tahu kalau pejabat yang akan diserangnya itu adalah Wiranto. Dia disebut merencanakan penyerangan itu secara spontan saat tahu ada helikopter datang ke lokasi itu.

Brigjen Dedi Prasetyo juga mengatakan, para teroris melakukan kajian untuk mendokrtin paham radikal. Khususnya mengajarkan jihad pada anggota yang baru bergabung.

“Setelah itu, tokoh itu lakukan ta’lim umum berupa mendoktrin dan sampaikan ajaran mengenai cara-cara berjihad dalam rangka mematangkan sisi mental, spiritual, dan fisik,” jelasnya.

Tahap selanjutnya adalah menggelar kajian khusus bagi anggota yang sudah menapaki tahapan awal. Pada titik itu, teroris dapat menilai kesiapan anggota yang baru bergabung.

“Setelah ta’lim khusus, berarti sudah ada penilaian dari tokoh yang melakukan perekrutan yang melakukan pengajaran terhadap orang yang dianggap sudah cukup kuat untuk menjadi simpatisan, baru nanti mereka melakukan Idat,” sambungnya.

Jika Abu Rara hanya sekali bertemu pentolannya di JAD Bekasi, Abu Zee. Bahkan, Abu Rara hanya menjalin komunikasi melalu sosial media usai bertemu Abu Zee.

“Abu Rara ini terpisah, setelah berkomunikasi melalui media sosial, hanya sekali terus dia pergi ke Kampung Menes. Di Menes, belum ditemukan persiapan atau bukti otentik perbuatan melawan hukum,” imbuhnya.

Dalam penyerangan itu, Abu Rara dan istrinya, Fitria disebut membagi tugas untuk menyerang target masing-masing. Sang istri yang diperintahkan menyerang polisi juga memberikan perlawanan.

“Begitu juga istrinya, ‘Kamu melakukan perlawanan sebisa mungkin’. Makanya sampai istrinya nekat melakukan perlawanan ke Kapolda,”ujarnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed