oleh

Sosok 11 Pahlawan Nasional Asal Sulsel

SULSELONLINE.COM – Bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan setiap 10 Nopember. Hari ini ditetapkan untuk memperingati pertempuran Surabaya yang terjadi pada tahun 1945.

Saat itu, tentara dan milisi Indonesia yang pro-kemerdekaan berperang melawan tentara Britania Raya dan Belanda yang merupakan bagian dari Revolusi Nasional Indonesia.

Hari nasional ini ditetapkan melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959 pada 16 Desember 1959.

Menjelang Hari Pahlawan, pemerintah melalui Presiden RI memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada tokoh-tokoh yang dimilai berjasa dalam perjuangan merebut dan mengisi kemerdekaan.

Dari deretan nama-nama Pahlawan Nasional, beberapa di antaranya berasal dari tanah Sulawesi Selatan. Siapa saja mereka dan bagaimana perjuangannya? Berikut 11 Pahlawan Nasional asal Sulsel.

– Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin lahir di Gowa pada 12 Januari 1631 dan wafat di Gowa pada 12 Juni 1670, pada udia 39 tahun.

Sultan Hasanuddin adalah Raja ke-16 Gowa, karena keberaniannya, dia dijuluki “De Haantjes van Het Osten” oleh Belanda, yang artinya “Ayam Jantan dari Timur”.

Dia dimakamkan di Katangka Gowa. Diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 087/TK/1973 ada 6 November 1973.

– Emmy Saelan

Emmy Saelan lahir di Malangke Luwu pada 15 Oktober 1924 dan wafat di Makassar pada 23 Januari 1947, pada usia 22 tahun.

Emmy Saelan adalah seorang pejuang wanita, dia merupakan bagian dari keluarga kerajaan Luwu. Dia hijrah ke Kota Makassar bersama keluarganya pada usia 5 tahun.

Ayahnya, Amin Saelan, adalah tokoh pergerakan taman siswa di Makassar dan sekaligus penasehat organisasi pemuda. Seorang adiknya yang laki-laki, Maulwi Saelan, adalah tokoh pejuang dan pernah menjadi pengawal setia Bung Karno.

– Ranggong Daeng Romo

Ranggong Daeng Romo lahir Kampung Bonebone Polongbangkeng Takalar pada 1915 dan wafat di markas besar Lapris Langgese Takalar pada 27 Februari 1947.

Ranggong Daeng Romo menempuh pendidikan di Hollandsch Inlandsch School dan Taman Siswa di Makassar, setelah sebelumnya menimba ilmu agama di pesantren di Cikoang Takalar.

Dia bekerja sebagai pegawai sebuah perusahaan pembelian padi milik pemerintah militer Jepang ketika menduduki Sulawesi. Kemudian dia menggalang kekuatan melalui melawan penjajahan Belanda melalui perang gerilya.

– Opu Daeng Risadju

Opu Daeng Risadju adalah pejuang wanita, yang memiliki nama kecil Famajjah. Opu Daeng Risaju merupakan gelar kebangsawanan Kerajaan Luwu yang disematkan pada Famajjah yang memang merupakan anggota keluarga bangsawan Luwu.

Opu Daeng Risaju merupakan anak dari pasangan Opu Daeng Mawellu dengan Muhammad Abdullah to Barengseng yang lahir di Palopo pada 1880. Dia turut berjuang melawan penjajahan Belanda menuju kemerdekaan Indonesia.

Andi Djemma

Andi Djemma lahir di Palopo pada 15 Januari 1901  dan wafat di Makassar pada 23 Februari 1965, pada usia 64 tahun.

Andi Djemma adalah Datu Luwu, tokoh Indonesia dan dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia pada 8 November 2002.

– Andi Pangerang Petta Rani

Andi Pangerang Petta Rani dilahirkan pada awal Abad XX, tepatnya pada 14 Mei 1903 di Desa Mangasa Gowa. Daerah Kabupaten Gowa telah lama kondang sebagai sebuah kerajaan yang terbesar di wilayah timur Indonesia.

Andi Pangerang Petta Rani bernama lengkap atau Andi Pangerang Petta Rani Karaeng Bontonompo Arung Macege Matinroe ri Panaikang adalah putra dari Raja Kesultanan Bone XXXII yang bernama Andi Mappanyukki dan ibunya adalah seorang ningrat bernama I Batasai Daeng Taco.

– Andi Abdullah Bau Massepe

Letnan Jenderal TNI Andi Abdullah Bau Massepe lahir di Massepe Sidenreng Rappang (Sidrap) pada tahun 1918 dan wafat di Parepare pada 2 Februari 1947, pada usia 29 tahun.

Andi Abdullah Bau Massepe adalah pejuang heroik dari Sulawesi Selatan. Dia merupakan Panglima pertama TRI Divisi Hasanuddin dengan pangkat Letnan Jendral. Dia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 9 November 2005.

– La Madukelleng

La Maddukkelleng lahir di Belawa Wajo pada 1700 dan wafat di Sengkang Wajo pada 1765. Dia adalah bangsawan dari lingkungan kerajaan Wajo dan merupakan Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 109/TK/1998 pada 6 November 1998.

– Pajonga Daeng Ngalie 

Pajonga Daeng Ngalle lahir di Takalar pada 1901 dan wafat dunia di Takalar pada 23 Februari 1958.  Pajonga Daeng Ngalle adalah Karaeng (kepala pemerintahan distrik) Polongbangkeng pada tahun 1934.

– Pong Tiku

Pong Tiku atau Pontiku dan Pongtiku lahir pada 1846  dan wafat pada 10 Juli 1907. Dia dikenal dengan nama Ne’ Baso, adalah pemimpin dan gerilyawan Toraja yang beroperasi di Sulawesi bagian selatan.

– Andi Sultan Daeng Radja

Andi Sultan Daeng Radja lahit lahir di Matekko Gantarang Bulukumba pada 20 Mei 1894 dan wafat di Makassar pada 17 Mei 1963, pada udia 68 tahun.

Andi Sultan Daeng Radja adalah tokoh kemerdekaan Indonesia, putra pertama pasangan Passari Petta Tanra Karaeng Gantarang dan Andi Ninong.

Semasa muda, Sultan Daeng Radja dikenal taat beribadah dan aktif dalam kegiatan Muhamamadiyah. Merupakan pendiri Masjid Tua di Ponre yang pada jamannya terbesar di Sulawesi Selatan.

Pada 2 Desember 1945 NICA menangkap Andi Sultan Daeng Radja kemudian dibawa ke Makassar untuk ditahan. Pada 17 Maret 1949 Sultan Daeng Radja menjalani hukuman pengasingan ke Menado Sulawesi Utara hingga 8 Januari 1950.

Perjuangan Andi Sultan Daeng Radja dalam melawan penjajahan di Indonesia, mendapat penghargaan dari Pemerintah Indonesia, sebagai Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana yang diberikan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 085/TK/2006 pada 3 November 2006. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed