oleh

Kapolsek di Pinrang Bersimpuh di Hadapan Warga

SULSELONLINE.COM – Aksi Kapolsek Cempa Kabupaten Pinrang, Iptu Akbar Andi Malloroang bersimpuh saat ricuh warga dan petambang di Desa Salipolo, viral di media sosial.

Kapolsek memohon agar warga tidak menganiaya petambang yang sudah tersungkur di tanah.

“Kapolsek ini kan berpikir jangan sampai timbul korban jiwa. Kan sudah luka ini yang penambang, tapi masyarakat juga ada luka,” ujar Kapolres Pinrang, AKBP Bambang Suharyono, melalui media, Selasa (12/11/2019).

Kericuhan di lokasi tambang di Desa Salipoli terjadi pada Selasa 5 Nopember. Warga setempat emosional saat pekerja tambang hendak beroperasi di desa tersebut.

“Itu rawan, sebelumnya kan ada konflik juga, karena masyarakat menolak aktivitas penambangan sehingga alat berat tambang ditarik. Tapi kemarin pekerja tambang turun lagi dengan menerjunkan alat berat lagi. Memang masyarakat di desa Salipolo mengangkat isu lingkungan sehingga menolak aktivitas tambang,” jelasnya.

AKBP Bambang Suharyono juga mengatakan, sejumlah pihak sebenarnya sudah memediasi warga dengan pekerja tambang.

Kemudian disepakati rekomendasi agar tidak dilakukan aktivitas penambangan sampai ada keputusan mediasi. Namun kericuhan terjadi karena pekerja tambang kembali beraktivitas.

Sementara itu, Kapolsek Cempa Kabupaten Pinrang, Iptu Akbar Andi Malloroang menjelaskan alasannya bersimpuh memohon agar warga tidak menganiaya penambang, karena si penambang sudah tersungkur di tanah.

“Kenapa saya langsung terduduk, karena masyarakat sudah dalam keadaan marah sekali. Sudah nggak bisa dibendung emosinya. Tangan saya langsung bermohon, saya katakan bahwa ‘Sudah Pak, ini orang sudah jatuh, sudah Pak, sudah’. Setelah itu ada beberapa dari masyarakat tersadar, makanya mereka langsung mengatakan juga ‘sudah, sudah, sudah’,” jelasnya.

Dia menceritakan, kejadian yang terekam dalam video itu adalah bentrokan antar masyarakat Desa Salipolo Cempa Pinrang dengan penambang pasir pada pekan lalu. Warga menolak adanya aktivitas penambangan di wilayah desa mereka.

“Itu yang videoin saya kurang tahu karena anggota kami di sana lagi amankan warga yang lain saat kejadian. Mungkin warga yang merekam,” sambungnya.

Dia juga mengatakan, bahwa dirinya dan 3 anggotanya menghampiri lokasi tambang. Satu anggota intel Polsek Cempa ditugaskan mengawasi pergerakan warga.

“Bapak Kapolres telepon kami, telepon ke Polsek, saya diperintahkan ‘Pak Kapolsek tolong turun ke lapangan, ada informasi ada pergerakan masyarakat Desa Salipolo akan turun ke lokasi tambang untuk melakukan penghentian terhadap tambang yang ada di situ. Memang waktu itu Pak Kapolres tidak bisa turun ke lapangan karena sedang mendampingi tim dari Polda Sulawesi Selatan untuk pembuatan Sekolah Polisi Negara di Pinrang. Setelah kami sampai di lokasi tambang, bertemu penjaga tambang, saya sampaikan ‘Kalau bisa kita keluar dari area tambang sini.’ Setelah kami sampaikan, kami malah dimarah-marahi, ‘Kalau memang mereka masyarakat desa mau datang, silakan datang ke sini, kita baku bunuh’,” paparnya.

Beberapa saat kemudian datang 250 warga desa ke lokasi tambang sambil membawa senjata tajam dan bambu runcing. Akbar lalu meminta bantuan pasukan dari Polres Pinrang, sambil mencegah warga memasuki lokasi tambang.

“Kami sampaikan, ‘Tak usahlah kita ke tambang. Biar saya yang hubungi ke tambang supaya tak usah lakukan aktivitas’. Kami tidak dihiraukan, malah masyarakat merangsek masuk, maju sampai ke tempat eskavator, di sana mereka melakukan aksi anarkis mau melakukan pembakaran,” tuturnya.

Dia menerangkan ketika dirinya sedang berupaya negosiasi dengan warga untuk tak bertindak anarkis, terjadi bentrokan di mana kedua kelompok saling menyerang. Pihak tambang merasa ekskavator mereka terancam akan dibakar.

“Pihak dari tambang ini beranggapan mereka punya eksavator dirusak, makanya mereka maju ke depan bawa parang. Sekitar 5 meter dari ekksavator, mereka berhadapan saling mengayunkan parangnya. Pada saat itu saya melihat kondisi, saya sedikit ke samping, pada saat ada celah saya masuk (di antara warga dan penambang), karena saya lihat ada dari penambang sudah jatuh karena matanya dilempari pasir, setelah itu mereka (penambang) tumbang,” jelasnya.

Dia yang khawatir penambang jadi bulan-bulanan warga desa, langsung bersimpuh di sebelah tubuh penambang dan memohon agar warga tak melakukan pengeroyokan. Warga yang melihat Akbar memohon akhirnya luluh

“Di situ dalam hati saya ‘Alhamdulillah mereka mundur’. Penambang bawa parang panjang, sedangkan dari masyarakat banyak bawa bambu runcing panjang, mereka gunakan bambu runcing sambil melempar pasir ke arah penambang. Pada saat kena pasir, banyak penambang jatuh. Ada dua korban sebenarnya. Yang dalam video viral itu korban kedua. Korban pertama, pada saat mereka saling serang, saya sempat ke korban pertama karena sudah jatuh. Setelah saya kuasai, saya peluk, saya suruh lari saat masyarakat sudah beralih ke korban kedua. Namun dia lari ke arah semak belukar. Setelah dia lari ke semak belukar, saya datangi korban kedua yang viral itu,” tambahnya.

Iptu Akbar Andi Malloroang mengatakan korban pertama menderita luka tebas akibat benda tajam di bagian bahu dan tangan dan berhasil ditemukan setelah sebelumnya terkapar di tengah semak belukar area pertambangan. Sementara korban kedua terkena pasir di mata.

“Korban pertama diparang, luka cukup parah. Tangan sebelah kiri urat tendonnya, hampir putus, bahunya ada bekas luka tebas juga,” imbuhnya.

Dia menerangkan status area tambang di desa itu sebenarnya mendapat izin dari pemerintah setempat. Namun warga menolak aktivitas tambang karena khawatir akan terjadi abrasi di desa mereka.

“Status tempat tambang itu memang punya izin. Namun masyarakat tidak menerima tambang itu kareba apabila akan dilakukan penambangan, mereka khawatir akan terjadi abrasi pada kampungnya. Makanya mereka bilang ‘Mendingan mereka mati, supaya anak cucunya nggak kena abrasi’. Kejadiannya spontan sekitar 30 menit. Itu cepat kejadiannya,” jelas ayah tiga anak ini.

Pascakejadian, sebanyak 30 personel polsek dan polres disiagakan untuk berjaga di lokasi. Keesokan harinya, Selasa 5 Nopember, pasukan ditarik karena situasi dianggap kondusif.

“Pasca-kejadian itu ada sekitar 30 personel berjaga di sana sekitar sehari. Sekarang sudah tidak dijaga karena situasi sudah membaik, karena eskavator sudah diangkut pulang pemilik. Saat itu masih dijaga karena warga Salipolo mengancam kalau tidak diangkat alat eskavator, mereka akan membakar,” ungkapnya.

Viral
Kapolsek Cempa Pinrang, Iptu Akbar Andi Malloroang.

Ketika ditanya hal apa yang membuat dia nekat melindungi penambang yang hendak dikeroyok warga, Akbar mengaku teringat dengan almarhum kakaknya.

“Terus terang dulu saya punya kakak meninggal, sama dalam kejadian kaya gini. Waktu saya kecil, saya punya kakak meninggal karena dianiaya beramai-ramai orang. Nah saya terinspirasi, seandainya ada orang yang selamatkan saya punya kakak seperti yang saya lakukan, mungkin saya punya kakak masih hidup. Orang tua saya bilang kakak saya nggak tahu apa-apa, dihadang di jalan, dibunuh ramai-ramai. Itulah yang terlintas di pikiran saya. Waktu itu kakak saya nggak ada yang bantu, makanya dalam hati saya, saya ingin kasih liat kakak saya, walaupun dia almarhum, harus kasih bangga dia karena adiknya ini masih bisa menyelamatkan orang yang dalam kondisi seperti dia dengan bantuan Allah,” sambungnya.

Terkait akar masalah bentrokan, Iptu Akbar Andi Malloroang mendapat kabar telah dilakukan pertemuan antara perwakilan warga Salipolo dengan PT ASR dan pemerintah setempat di Makassar.

Untuk sementara waktu, kegiatan tambang pasir di Desa Salipolo dilarang.

“Saya dapat info bahwa pihak tambang dilarang melakukan operasi. Menurut masyarakat kalau dilakukan penambangan, secara kasat mata mereka punya kampung dikelilingi tanggul besar. Saat beberapa tahun lalu kejadian tanggul jebol, kampung mereka kebanjiran. Makanya mereka sangat khawatir tanggul-tanggul akan roboh kalau ada penambangan,” imbuhnya, seperti dilansir dari detikcom. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed