oleh

Luhut: Indonesia Harus Punya Nuklir

SULSELONLINE.COM – Agar tidak dipandang sebelah mata oleh Negara lain, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menginginkan agar Indonesia mempunyai senjata nuklir.

Hal ini diungkapkan Luhut saat berbicara di Kantor Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Jakarta, Selasa (4/2/2020).

“Saya terpikir sebagai jenderal ingin juga (Indonesia) punya nuclear power. Tapi Presiden Joko Widodo masih memikirkan kesejahteraan (rakyat),” kata Luhut.

View this post on Instagram

Kita tidak bisa menutup mata pada dampak perubahan iklim kepada bumi kita. Namun, bukan berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah ini semua. Justru sebagai negara yang memiliki kekayaan alam melimpah, Indonesia bisa jadi pemain kunci pada produksi energi terbarukan. Itulah sedikit "optimisme" yang saya tawarkan mengenai masa depan energi terbarukan ketika bertemu dengan banyak delegasi dan calon investor di ajang @worldeconomicforum 2020. Luas danau yang dipunyai Indonesia kira-kira sekitar puluhan ribu hektar, lalu saya berhitung jika 5 persen saja digunakan untuk floating panel, itu bisa menghasilkan ratusan bahkan ribuan mega watt potensi energi listrik, apalagi kita sudah berpengalaman mengenai "floating energy" di Danau Cirata yang potensi energi listriknya mencapai 145 Megawatt. Angan saya kemudian berpikir tentang Danau Toba yang kira-kira juga punya potensi energi listrik sebesar 150 megawatt.Listrik sebesar ini bisa cukup untuk menyinari seluruh kabupaten yang ada di Danau Toba. Belum lagi potensi hutan kita yang juga jadi "carbon credit" kedua terbesar setelah Hutan Amazon. Perlu semua tahu bahwa 75%-80% potensi kredit karbon global itu ada di Indonesia. Pantas kiranya saya menyebut bahwa Indonesia adalah negara "super power of global carbon credit" karena kita berkontribusi pada kredit karbon negara-negara eropa dan negara maju lainnya. Saya kemudian teringat negara-negara besar yang sedang berkonflik akhir-akhir ini, mereka yang berkonflik itu adalah negara yang memiliki energi nuklir. Saya sampaikan kepada mereka bahwa dengan GDP senilai US$ 1 Triliun, Indonesia mampu menciptakan energi nuklir, namun bukan ini prioritas kami. Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo @jokowi kita semua diminta fokus untuk membuat kebijakan yang memprioritaskan masa depan anak cucu kita dengan utamanya mengatasi ketimpangan dan kemiskinan. Semoga dengan potensi energi terbarukan yang dipunyai Indonesia, kita bisa jemput masa depan perekonomian Indonesia yang lebih maju pun hijau sebagai "legacy" yang bisa dinikmati untuk generasi setelah kita di masa akan datang. #MenkoMarves #LBP #worldeconomicforum

A post shared by Luhut Binsar Pandjaitan (@luhut.pandjaitan) on

Ide Luhut muncul setelah melakukan kunjungan ke World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss pada awal Januari 2020 lalu.

Ketika itu ia mengikuti pembicaraan sejumlah negara dunia seperti Amerika Serikat, India, Cina, dan Korea Utara. Jenderal yang ia kenal tak mengajaknya berbicara dan hanya berbicara dengan perwakilan Negara Amerika Serikat, India, Cina, dan Korea Utara yang mempunyai nuklir.

Luhut jengkel. “Kita enggak dianggap,” kata Luhut.

View this post on Instagram

Dalam kunjungan saya ke Negeri Ginseng Korea Selatan, saya melihat betapa kompetisi teknologi antar negara ini begitu sengit. Pikiran saya bertanya, seberapa jauh Indonesia mampu mengikuti kompetisi ini ? Hari ini, saya punya jawabannya. Saya bertemu dengan Presiden dan CEO Hyundai Motor Company, Won Hee Lee di Seoul untuk menjadi saksi penandatangan nota kesepahaman investasi Hyundai Motor Company senilai US$ 1,5 miliar atau setara dengan Rp 21,8 Triliun. Komitmen Investasi Hyundai ini diikat dalam Memorandum Of Understanding/MOU dengan pemerintah Indonesia. Pabrik mobil ini akan menjadi pusat basis produksi pertama Hyundai di Asean yang bukan hanya untuk memproduksi mobil listrik melainkan juga produksi baterai mobil listrik pertamanya di Indonesia yang rencananya akan berada di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Investasi ini saya harap bisa menciptakan 23.000 lapangan kerja baru baik secara langsung maupun tidak langsung. Keberadaan pabrik ini dapat memberikan kontribusi ekonomi senilai lebih dari US$ 20 miliar selama satu dekade pertama sejak pabrik ini didirikan. Saya yakin apapun niat baik dan kerja keras yang kita upayakan akan menuai hasilnya yang indah. Saya teringat keinginan saya bahwa semua investor yang akan datang ke Indonesia tidak hanya melebarkan sayap bisnisnya melainkan juga memenuhi empat aspek diantaranya memberikan nilai tambah industry bagi Indonesia dalam mengolah rich raw/sumber daya mineral, mendidik tenaga kerja local serta yang paling penting adalah transfer teknologi untuk kepentingan kemajuan bangsa kedepannya, transfer teknologinya pun harus membawa teknologi yang ramah lingkungan untuk Indonesia. Karena saya percaya teknologi dan lingkungan hidup bisa saling mendukung, bukan menghancurkan satu sama lain. Saya ingin generasi ke depan bisa menikmati teknologi tingkat satu yang sedang kita upayakan bersama lewat produksi kendaraan listrik. Perlahan namun pasti, kita terus berusaha menjaga kelestarian alam Indonesia sembari membuat negeri yang kita cintai bersama ini maju berkompetisi dengan negara-negara maju lainnya. 📸 : @sekretariat.kabinet #MenkoMarves #LBP

A post shared by Luhut Binsar Pandjaitan (@luhut.pandjaitan) on

“Dalam hati saya sialan ini orang. Kalau saya bilang sama dia, eh jenderal, saya bilang jenderal saya juga lulusan sekolah di Amerika. You know what? Kami negara itu punya semua,” ujarnya.

Ia menyatakan, kekacauan di dunia ini karena negara-negara yang memiliki senjata nuklir. Hal itu ia sempat ia utarakan melalui pertanyaan pada forum di Davos.

Kepada perwakilan negara yang ia temui, Luhut mengaku bahwa Indonesia mau mengembangkan nuklir. Namun, lanjut Luhut, negara-negara itu melarang dan meminta Indonesia mengurungkan niatnya.

Namun Luhut ingin agar Indonesia tetap mengembangkan nuklir. “Saya bilang timbang-timbang boleh juga punya nuclear power biar enggak kalian aja yang ribut-ribut,” katanya.(*)

 

Bapenda Sulsel

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *