oleh

Ketua DPR AS: Trump Tetap Jadi Ancaman

SULSELONLINE.COM – Meski Senat Amerika Serikat (AS) meloloskan Presiden Donald Trump dari pemakzulan, Ketua DPR AS Nancy Pelosi menilainya tetap akan menjadi ancaman demokrasi.

Trump lolos dari pemakzulan karena dua pasal impeachment yang disangkakan yakni penyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi penyelidikan Kongres, tidak mendapat dukungan dari dua pertiga senat.
Untuk pasal pertama, hanya 48 anggota Senat AS yang mendukung, Senator Republik, Mitt Romney, diduga membelot dengan mendukung Demokrat.

Sementara pada pasal menghalangi penyelidikan Kongres, perbandingan suaranya adalah 53-47 yangmembuat Trump lolos dari pemakzulan pada Kamis (5/2/2020).
Nancy Pelosi mengatakan Senator Republik telah memaklumi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh presiden 73 tahun itu.

Dilansir AFP, Ketua DPR AS dari Partai Demokrat itu menyebut kaum Republikan sudah menolak sistem check and balances di Konstitusi AS.
“Dia (Trump) akan tetap menjadi ancaman bagi demokrasi Amerika. Dia akan menganggap dirinya di atas hukum dan mengubah hasil pemilihan sesuai keinginannya,” katanya.

Dikutip Al Jazeera, Pelosi mengatakan bahwa Senat tidak bisa membebaskan tanpa didasarkan bukti dan saksi yang kuat.
Dia mengeluhkan Senat AS yang dikuasai Republik menolak upaya Demokrat menghadirkan saksi baru. Salah satu saksi yang dimakasud adalah mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton.

“Dengan menekan bukti dan menolak sidang yang adil, Republikan di Senat secara sadar mau dan terlibat dalam upaya menutupi aksi Presiden,” ujarnya.
Sejumlah senator Republik, salah satunya adalah Lamar Alexander, menyatakan apa yang dilakukan Trump adalah salah.

Namun, mereka beralasan tindakan itu tidak dapat dijadikan bukti untuk melengserkannya Trump dari jabatan Presiden AS.

Ia mempersilakan publik AS untuk memutuskan nasib Trump ke depannya melalui Pilpres AS 2020 yang akan digelar pada November mendatang.
Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell menyebut bahwa pemakzulan yang dilakukan Demokrat malah akan jadi bumberang bagi mereka.

“Saat ini, mereka adalah pecundang politik. Mereka memulainya dan berpikir itu ide yang baik. Untuk jangka pendek, mereka sudah melakukan kesalahan politik,” ejeknya.
Trump dimakzulkan di DPR AS pada 18 Desember 2019 sebagai buntut percakapan teleponnya dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky.

Pada telepon itu, Trump meminta Zelensky untuk menyelidiki mantan Wakil Presiden Joe Biden, calon rival politiknya pada Pilpres AS 2020.(*)

Bapenda Sulsel

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *