oleh

Orangtua, Perokok dan Pemakai Vape Disukai Virus Corona

SULSELONLINE.com – US Centers for Disease Control and Prevention menyebutkan COVID-19 mudah menyerang orang berusia lanjut dan orang dengan kondisi medis serius.

COVID-19 juga mudah menyerang perokok, perokok vape, atau mengonsumsi obat-obatan terlarang.

“Komunitas studi harus waspada terhadap kemungkinan COVID-19 dapat menyerang beberapa populasi dengan gangguan penggunaan narkoba.”

Demikian tulis Dr. Nora Volkow, direktur National Institute on Drug Abuse dalam unggahan blog yang diterbitkan minggu lalu. Karena COVID-19 menyerang paru-paru, mereka yang merokok tembakau, ganja, atau vape bisa terancam, kata Volkow dikutip kompas.com.

“Ketika paru-paru seseorang terkena flu atau infeksi lain, efek buruk dari merokok atau vape jauh lebih serius daripada orang-orang yang tidak merokok atau vape.”

Demikian yang ditulis Stanton Glantz, profesor kedokteran dan direktur Center of Tobacco Research Control and Education di University of California, San Francisco, dalam unggahan blog pada Selasa lalu.

Tim Medis se-Sulsel Dipasok APD dari BNPB

“Vaping memengaruhi paru-paru kita di setiap level. Ini memengaruhi fungsi kekebalan di rongga hidung kita dan silia yang mendorong benda asing keluar.”

“Kemampuan saluran udara bagian atas kita untuk membersihkan virus terganggu,” kata Glantz.

“Beberapa rekan saya telah mencatat orang di bawah usia 30 yang terinfeksi COVID-19 harus dirawat di rumah sakit. Dan penyebabnya adalah vape.”

Namun, ia menambahkan, belum ada penelitian atau bukti yang cukup untuk mendukung apakah ada kaitan antara vape dan risiko virus corona.

Orang yang merokok pada umumnya berisiko tinggi mengalami komplikasi serius, seperti sindrom gangguan pernapasan akut, ketika mengalami infeksi parah.

Peluang kasus Covid-19 menjadi lebih parah 14 kali lipat di antara orang-orang yang memiliki riwayat merokok daripada bukan perokok, kata Glantz, mengutip penelitian dari Cina yang diterbitkan dalam Chinese Medical Journal.

Studi ini juga menemukan mereka yang memiliki riwayat merokok memiliki risiko 14 persen lebih tinggi terkena pneumonia.

Pasien Korsel, Italia dan China Banyak Sembuh

Selain merokok tembakau dan vape, Volkow menulis, orang yang menyalahgunakan opioid dan metamfetamin bisa berisiko mengalami komplikasi serius COVID-19 karena efek obat ini terhadap pernapasan dan kesehatan paru-paru.

Opioid memperlambat pernapasan dan telah terbukti meningkatkan angka kematian pada orang dengan penyakit pernapasan, menurut Volkow.

“Kapasitas paru-paru yang berkurang karena COVID-19 juga dapat membahayakan populasi ini,” katanya.

Sementara metamfetamin telah terbukti menghasilkan kerusakan paru yang signifikan karena sangat terikat pada jaringan paru, Volkow menjelaskan dalam sebuah wawancara.

Zat ini bisa meningkatkan risiko hasil negatif jika digunakan selama infeksi COVID-19. Dr. Allison Lin, asisten profesor psikiatri dan pusat kecanduan di
University of Michigan, mengatakan penting bagi semua orang untuk berhenti merokok karena efeknya tidak diketahui pada pasien COVID-19.

Ini sangat penting bagi orang dengan gangguan penggunaan narkoba karena mereka lebih cenderung merokok, katanya. Bagi semua orang yang terinfeksi COVID-19, Glantz menyebut, satu hal yang dapat dilakukan orang sekarang adalah berhenti merokok.

“Pada saat orang mencari cara mengurangi risiko, sangat masuk akal untuk berhenti merusak paru-paru kita,” katanya.(*)

Gejala Corona dan Ciri-ciri Corona

Positif Covid-19 di Indonesia Kini 686, Sulsel Bertambah Jadi 4..

Mantan Rektor Unhas Idrus Paturusi Positif COVID-19, Keluarga Mohon Doa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *