oleh

Nurdin Abdullah Paparkan Strategi Menjaga Ketahanan Ekonomi dan Pangan di Tengah Pandemi Covid-19

SULSELONLINE.COM — Gubernur Sulwesi Selatan, Prof HM Nurdin Abdullah, mengikuti webinar terkait Covid-19 dan dampaknya. Seminar nasional online yang dilaksanakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bosowa mengangkat tema “Strategi Menjaga Ketahanan Ekonomi dan Pangan di Tengah Pandemi Covid-19”, dilaksanakan Rabu, 13 Mei 2020.

Seminar ini juga live streaming di Facebook Fanpage dan Youtube diikuti 800 peserta terdaftar. Adapun, narasumbernya yakni Peneliti Indef – Pengamat Kritis Millenial, Bhima Yudhistira Adhinegara; Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bosowa, Arifuddin Mane; dan Anggota DPR RI, Kamrussamad.

Rektor Universitas Bosowa, Prof Muhammad Saleh Pallu, dalam sambutannya menyampaikan, pandemi Covid-19 berujung pada persoalan ketahanan bangsa dan diharapkan badai ini berakhir dan menjadi pengalaman pertama sekaligus terakhir.

“Dengan seminar ini diharapkan dapat menjadi pencerahan ekonomi dan pangan dari berbagai sudut pandang,” kata Saleh Pallu.

Diskusi ilmu pengetahuan memiliki peran penting dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Bermanfaat bagi berbagai pihak, baik peneliti, mahasiswa dan pengusaha. Kampus berperan memberikan masukan pembangunan bagi para penentu kebijakan.

Sementara, Nurdin Abdullah sangat mengapresiasi seminar ini dan berharap dapat mengulas dan menganalisis strategi apa saja yang bisa dilakukan kedepan dalam menghadapi pandemi ini.

“Pandemi Covid-19 adalah krisis yang menjadi tantangan luar biasa, bukan hanya di sektor kesehatan tetapi berimplikasi di berbagai sektor kehidupan manusia dan juga berdampak pada perekonomian dunia, termasuk Sulsel,” kata Nurdin Abdullah sebagai pengantar awal.

Untuk itu, pemerintah akan dan terus memastikan langkah-langkah cepat dan tepat untuk mengantisipasi dampaknya. Pemerintah akan memastikan ketersedian bahan pokok yang cukup dan memadai untuk kebutuhan pokok masyarakat, tidak hanya menghadapi bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri, tetapi beberapa bulan ke depan.

Lanjutnya, dua dari tiga strategi dalam menghadapi Covid-19 adalah jaring pengaman sosial dan ketahanan ekonomi. Terkait jaring pengaman sosial dengan melambatnya perekonomian di tengah pandemi ini, banyak perusahaan yang tutup dan karyawan dirumahkan dan di-PHK.

“Jaring pengaman sosial menjadi ujung tombak dalam menjaga ketahanan perekonomian,” ujarnya.

Penyaluran jaring pengaman sosial ke masyarakat berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), dan tidak kalah pentingnya adalah pemerintah melakukan deteksi warga yang tidak masuk DTKS dan itu tetap harus dicover.

“Saya mengapresiasi bahwa kita di Sulsel, kita bahu-membahu dan bergotong royong untuk menangani persoalan sosial. Banyak bantuan yang masuk ke Sulsel melalui Gugus Tugas baik itu APD dan sembako dan kita salurkan dan pertanggungjawabkan secara transparan,” bebernya.

Terkait ketahanan ekonomi, pemerintah berupaya ekonomi tetap berjalan, ekonomi saat ini bertahan di tengah keterbatasan ruang gerak akibat pandemi. Pemprov memastikan dunia usaha bertahan hidup, tidak mengalami kebangkrutan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Setelah pandemi ini dilalui, maka akan masuk ke proses recovery. Pemprov Sulsel juga memastikan ketersedian pangan selama pandemi.

Nurdin Abdullah menyebutkan, berdasarkan pemantauan dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis, perkembangan harga komoditas strategis, seperti beras, minyak goreng, bawang putih, bawang merah dan komoditas lainnya masih berada pada level terkendali, baik di pasar tradisional dan pasar moderen, maupun pedagang besar.

“Pasokan komoditas strategis di Sulsel, masih relatif terjaga. Mencermati hal ini maka masyarakat tidak perlu panik dan berbelanja secara berlebihan dalam menghadapi Covid-19. Pemerintah Sulsel berupaya menjaga agar ekonomi Sulsel tidak anjlok, akibat pembatasan aktivitas yang dikarenakan pademi ini,” jelasnya.

Perekomian seluruh dunia terpengaruh dan mengalami kemerosotan pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan. Termasuk Sulsel, dari 7 persen sekarang berada pada posisi 3,7 persen.

Sehingga, Pemerintah Sulsel terus mendorong, toko dan restoran, warung untuk mengubah proses transaksi dengan melayani pesan antar, atau pesan via online.

“Ini kita lakukan agar rantai perdagangan tetap terjaga, ekonomi kita tidak terpuruk dan anjuran physical distancing tetap dilakukan,” paparnya.

Pemprov Sulsel juga menyiapkan toko sembako daring, yang merupakan upaya Dinas Ketahanan Pangan Sulsel untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memudahkan kebutuhan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Sulsel sebagai daerah penyedia pangan nasional, pangan Sulsel harus selalu siap. Selain memenuhi kebutuhan sendiri, juga sebagai penyedia pangan beberapa daerah di Indonesia.

“Pandemi Covid-19 diharapkan angkanya terus menurun dan mencapai titik nol. Sulsel saat ini sebagai daerah dengan persentase tertinggi tingkat kesembuhan dari lima daerah episentrum. Dan semoga tidak terjadi fase kedua pandemi,” harapnya.

Ia menyebutkan, Sulsel telah berpengalaman dalam menghadapi kondisi krisis, seperti krisis ekonomi tahun 1998. Kondisi ini membawa berkah bagi Sulsel di sektor perdagangan dan ekspor. Tetapi, kondisi pandemi saat ini, bukan hanya krisis ekonomi, tetapi juga memporak-porandakan kesehatan. Sehingga, mudah-mudah kondisi dapat cepat pulih dan dapat disusun skema-skema atau skenario untuk bangkit kembali, termasuk di sektor ekonomi. Sehingga yang diPHK bisa kerja kembali.

“Dan saya percaya Pak Saleh Pallu adalah tokoh yang sangat saya kagumi, punya kapabilitas luar biasa. Harapan saya, sebagai keluarga besar Bosowa berkontribusi memutus rantai penularan Covid-19,” pungkasnya. (*)

Bapenda Sulsel

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *