oleh

Kisah Firman Anak Yatim Penjual Jalangkote di Maros yang Juga Sering Dibully

SULSELONLINE.COM MAROS – Anak penjual jalangkote di Pangkep, Rizal korban bully menjadi viral. Kini nasibnya baik, mendapat perhatian dari banyak kalangan di Indonesia.

Namun sebenarny Rizal (12 tahun) tak sendiri, banyak kisah anak penjual jalangkote yang lain, nasibnya sama tapi tidak mendapat perhatian.

Beda nasib dialami Rizal di Pangkep, penjual jalangkote dengan Firman (13 tahun) di Maros.

Sungguh nasib seseorang tidak ada yang tahu. Dua sosok anak ini sama-sama penjual jalangkote, Rizal dan Firman.

Rizal penjual jalangkote yang jadi korban bully dan viral di Pangkep. Sedangkan Firman, juga penjual jalangkote di Maros yang juga kerap jadi korban bully namun tak viral di sosial media.

Rizal viral setelah menjadi korban bully dari beberapa anak muda di kampungnya, di Kelurahan Talaka Kecamatan Marang Kabupaten Pangkep.

Saat jadi korban bullying, video Rizal yang sempat terjatuh dan luka mendadak viral dan menjadi perhatian publik.

Aksi peduli kepada Rizal pun berdatangan dari berbagai pihak, baik pemerintah, swasta dan politisi. Pihak-pihak tersebut datang bergantian memberikannya bantuan.

Tak terkecuali Gubernur Sulsel, HM Nurdin Abdullah yang juga memberinya bantuan sepeda motor listrik.

Kalangan politikus juga tak ketinggalan, putra mantan Wali Kota Makassar, Ilham Sirajuddin juga turut membantu.

Demikian pula Anggota DPRD Sulsel, A Muh Irfan AB mengunjungi Rizal di Polres Pangkep untuk memberi dukungan.

Namun nasib Rizal  berbeda dengan bocah seumurannya, Firman yang justru jarang mendapat perhatian.

Firman juga jual jalangkote keliling kota Maros dengan jalan kaki. Dia tak punya sepeda untuk digunakan.

Kisah kehidupan Firman yang menjadi tulang punggung keluarga, setelah ayahnya meninggal dunia, luput dari perhatian. Meski jualan jalangkote untuk menafkahi ibu dan adiknya, Firman tetap semangat ke sekolah.

Firman, rela berjualan jalangkote keliling kota Maros demi biaya sekolah dan hidup keluarganya. Dia tidak pernah menikmati masa kecilnya untuk bermain bersama temannya.

– Jualan ditemani adiknya

Jika pulang sekolah, Firman langsung mengambil jalangkote yang telah disediakan oleh tetangganya. Firman kadang didampingi oleh adik kandungnya, Lasinrang (7 tahun).

Firman membawa kotak jalangkote, sementara adiknya bertugas membawa penyedap rasanya.

Warga Turikale Maros ini, terpaksa berjualan setelah ibu kandungnya, Lina (40 tahun) menjadi janda sejak tiga tahun lalu. Sang ayah, Haruddin meninggal dunia karena menderita penyakit.

Lina juga bekerja sebagai tukang masak di rumah makan di Maros dengan penghasilan di bawah dari Rp 1 juta sebulan.

Penghasilan itu tidak cukup untuk biaya Firman bersama enam saudaranya.

Melihat kondisi ibunya, anak yang bercita-cita jadi Polisi ini, menggunakan waktu luangnya untuk berjualan jalangkote.

“Kalau pulang dari sekolah, saya pergi mengaji dulu. Setelah itu, saya pulang mengambil jalangkote dan berjalan kaki keliling kota Maros. Saya kasihan lihat ibu,” kata Firman, melalui media, Jumat (22/5/2020).

Anak yang senang belajar matematika ini, mengaku tidak malu untuk berjualan jalangkote. Meski seumurannya kerap membully-nya saat kebetulan bertemu di jalan.

Jika diejek atau direndahkan, Firman menanggapi bully tersebut dengan santai dan tidak marah. Perkataan temannya tersebut juga dinilai benar. Firman memang berprofesi sebagai penjual jalangkote.

Dia justru menjadikan ejekan temannya sebagai motivasi dengan lebih bersemangat untuk jualan. Jika sudah besar, Firman sudah memiliki pengalaman berbisnis. Sementara temannya belum.

“Kalau diejek, tidak ada urusan. Saya ini kerja halal, meski hasilnya tidak seberapa. Ejekan itu justru memotivasi saya untuk kerja keras untuk membantu keluarga yang selama ini dalam kesulitan,” ungkapnya.

Setiap hari, anak keempat dari tujuh orang bersaudara ini, membawa 150 biji jalangkote. Jalangkote dijual Rp 1000 per biji. Jika beruntung, Firman bisa membawa uang Rp 150 ribu per hari.

Jika jalangkotenya habis, Firman kadang mendapat upah sebanyak Rp 10 ribu. Upah tersebut dikumpulkan untuk membeli perlengkapan sekolah sendiri.

Jika ibunya memerlukan uang untuk kebutuhan, Firman membongkar celengannya.

Firman mulai berjualan pukul 16.00 wita sampai tengah malam. Tergantung dari cepatnya jalangkote jualannya habis.

Firman berjualan di sekitar kantor Pemkab Maros dan kawasan Kuliner Pantai Tak Berombak (PTB) Maros. Warga yang kerap nongkrong di area tersebut, pasti mengenal anak yang penuh semangat ini.

Kakak tertuanya, Fajar bekerja sebagai pengurus masjid dan serabutan. Saat ini, dia sudah duduk di bangku kelas tiga di SMK swasta di Maros.

– Penghasilan makin berkurang

Sejak mewabahnya coronavirus di Indonesia, banyak warga yang perekonomiannya ikut menurun.

Hal ini juga dirasakan oleh Firman, yang mengalami sepi pembeli. Hal ini terjadi semenjak masyarakat jarang keluar rumah. Penghasilannya menurun sekitar 70 persen.

Kalau biasanya dari hasil dagangannya, dia mampu memperoleh paling sedikit Rp 150 ribu, sekarang paling banyak Rp 50 ribu.

“Biasanya itu dalam satu hari dua kali habis jalangkote ku, sekarang paling banyak bisa kujual setengahnya.. Dulu itu bisa kubawa pulang paling sedikit Rp 150 ribu, sekarang paling banyak Rp 50 ribu,” jelasnya.

Dia mengaku kemarin tidak ada seorang pun yang membeli dagangannya. Padahal Firman mulai berjualan dari pukul 15.00 Wita sampai pukul 02.00 Wita, di sekitaran PTB Maros.

“Kalau tidak habis saya bagi-bagikan gratis sama orang pas jalan pulang, daripada mubazir,” tambahnya.

Firman baru duduk di kelas 1 SMP dan sudah jualan sejak kelas satu SD.

“Mama ku yang bikin, kalau Bapak sudah tidak ada sejak SD, jadi sekarang saya yang jadi tulang punggung keluarga,” jelasnya.

Ia pun berharap agar wabah ini cepat berlalu dan penjualannya bisa kembali normal seperti sebelumnya. (*)

Bapenda Sulsel

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *