oleh

Tujuh Negara Ikut Meriahkan Festival Aksara Lontaraq 2020

SULSELONLINE.COM — Festival Aksara Lontara 2020 telah dimulai. Rencana berlangsung selama tiga bulan atau hingga Agustus 2020 mendatang.

Pembukaan secara resmi festival tahunan ini dilakukan di Gedung Layanan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar, pada Kamis 25 Juni 2020.

Panitia Festival Aksara Lontaraq 2020 mengatakan, acara ini dilakukan secara virtual melalui aplikasi Zoom. Hal ini karena mempertimbangkan situasi pandemi Covid-19.

Pembukaan Festival Aksara Lontaraq yang pertama ini ditandai dengan peluncuran logo secara virtual yang diiringi pukulan gendang Tunrung Pakanjjara oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Moh Hasan Sijaya dan Founder CEO KGI Network, Upi Asmaradhana ikut mendampingi Kepala Perpustakaan Nasional RI.

Acara dipandu MC komika Baba Ong dan Duta Baca Sulsel, Rezky Amalia Syafiin. Diikuti sekitar tiga puluh undangan yang hadir di lokasi acara serta ratusan peserta dari sejumlah negara.

Di antaranya dari Belanda, Malaysia, Singapura, Australia, Selandia Baru, dan Rusia.

Acara yang dikemas dalam protokol kesehatan Covid-19 ini juga diikuti Sekretaris Daerah Sulsel, Abdul Hayat Gani, Ketua DPRD Provinsi Sulsel, Andi Ina Kartika Sari dan Pakar Filologi dan Naskah La Galigo, Prof Dr Nurhayati Rahman.

Turut hadir Sharyn Graham Davies PhD (Associate Professor Sekolah Bahasa dan Ilmu Sosial, Universitas Teknologi Auckland, Selandia Baru), Alwi bin Daud, MA, cand., PhD, (University Malaya, Malasyia) dan Dr. Kathryn Wellen (Researchers di KITLV Leiden University, Belanda).

Acara ini juga dihadiri sejumlah tokoh budayawan, akademisi serta masyarakat peduli lontaraq.

Beberapa acara akan mewarnai Festival Aksara Lontaraq 2020 ini. Di antaranya akan ada lomba aksara lontaraq tingkat SD hingga universitas dan masyarakat umum yang berlangusng 11 hingga 30 Juli 2020 .

Juga ada Konferensi dan Seminar Internasional Aksara Lontaraq pada 29 Agustus 2020.

Dalam acara peluncuran itu, juga tampil penyanyi dari Pangkep, Duo Arman Pio dan Andi Putri Ananda Ahmad yang terkenal dengan lagu-lagu Bugis.

Turut memeriahkan musisi dari Jeneponto, Muhammad Alifi yang konsisten mempopulerkan lagu-lagu berbahasa Makassar

Panitia Festival Aksara Lontaraq 2020, Upi Asmaradhana mengatakan, festival ini sebuah gerakan kebudayaan yang disebutnya sebagai gerakan gotong royong.

“Aksara lontaraq merupakan aset terbesar yang dimiliki sulsel, bisa menjadikan identitas budaya Sulsel pada masa-masa yang akan datang. Gagasan dari festival ini, untuk menjaga anak-anak dan budaya kita. Kita juga berharap, festival ini bisa menjadi event tahunan ke depannya,” ujar Founder dan CEO KGINetwork itu, melalui rilis media, Minggu (28/6/2020).

Sementara, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Hasan Sijaya pada sambutannya dengan aksen dan tutur bahasa Makassar mengatakan, Pappasang battu ri mangkasara, salama ki kepada peserta.

Pada abad 16 sampai 20 Masehi, aksara ini masih di jajaran Sulsel. Namun penerapannya terbatas dalam kehidupan sehari-hari.

“Hal yang menarik di sini, leluhur kita dulu, sebelum memberikan pesan ke anak-cucunya, ketika ingin merantau ke suatu daerah, pesannya adalah jaga hartkat dan martabatmu, melalui pappasang aksara lontaraq,” papar kadis yang juga hobi menyanyi lagu daerah Sulsel ini.

Dewan Pengarah Panitia , Prof Nurhayati Rahman, menilai festival ini adalah sebuah gerakan budaya yang mesti didukung semua pihak.

“Ini sebuah momentum yang luar biasa. Selama berpuluh-puluh tahun kita baru bisa menggelar acara seperti ini lagi,” kata peneliti naskah kuno I La Ligo ini.

Ketua DPRD Sulsel, Andi Ina Kartika Sari dalam sambutannya menyambut baik kegiatan ini. Dia berjanji akan bekerjasama dan membantu panitia dan masyarakat untuk menjadikan aksara Lontaraq sebagai bagian dari kelembagaan pemerintah.

“Kita merespon baik gagasan ini. Insya Allah saya dan DPRD Sulsel siap berkontribusi dan bekerjasama,” katanya.

Sekprov Sulsel, Abdul Hayat Gani mengatakan, era globalisasi ini merupakan tantangan bersama bagaimana produk budaya tetap dicintai dan digunakan oleh anak bangsa.

Resistensi terjadi, pengaruh dari luar juga demikian, sehingga budaya yang dimiliki harus dikembalikan agar berjaya di tanah sendiri.

“Tentu, kita ingin mengembalikan kejayaan ini. Bagaimana adat kita rawat dan jaga dengan baik,” katanya.

Dia mengapresiasi langkah penyelenggara serta para penggiat budaya. Pemprov Sulsel mengapresiasi proses-proses yang terjadi dalam festival ini dan upaya pelestarian aksara Lontaraq.

Langkah lainnya yakni memperkuat sistem pendidikan yang ada. Terutama hadirnya sekolah atau institusi pendidikan budaya seperti Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Sulsel.

“Sehingga apa yang kita lakukan ini merupakan pembangunan untuk kejayaan Provinsi Sulawesi Selatan,” harapnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *