oleh

Covid-19 Bermutasi Jadi D614G, Penularannya Lebih Cepat

SULSELONLINE.COM – Ilmuwan menyebut virus corona Covid-19 bermutasi itu dan secara resmi disebut D614G atau hanya ‘G’. Virus ini mempengaruhi protein paku virus, struktur yang memungkinkannya bisa menginfeksi sel manusia lebih cepat.

Semakin efektif protein paku itu, maka semakin mudah virus memasuki tubuh inang alias menular. Ini yang diduga berada di balik tingginya kasus Covid-19 yang tinggi di Eropa dan Amerika.

Hasil penelitian menduga bahwa mutasi yang mengubah asam amino 614 dari ‘D’ (asam aspartat) menjadi ‘G’ (glisin) itu membuat protein paku pada SARS-CoV-2, virus corona penyebab Covid-19, lebih efektif. Para peneliti menemukannya pada 70 persen dari sekitar 50 ribu genom virus jenis itu yang telah diunggah ke basisdata.

Ahli virus di Scripps Research Institute, Hyeryun Choe, menerangkan bahwa studi epidemiologis dan data itu secara bersama menjelaskan mengapa mutasi varian G menyebar di Eropa dan Amerika Serikat sangat cepat. “Ini bukan hanya kebetulan,” ujar dia seperti dikutip laman Fox News, Selasa 30 Juni 2020, dikutip Tempo.co.

Ini Panduan Kesehatan Salat Idul Adha dan Penyembelihan Kemenag Sulsel

Choe merupakan penulis utama dari makalah penelitian yang belum dipublikasikan tentang peningkatan kemampuan infeksi SARS-CoV-2 varian G dalam kultur sel di laboratorium. Dia mengatakan, ada dua alasan mengapa varian G lebih efektif dalam menyebarkan infeksi.

Dia menerangkan, dalam mutasi, bagian luar dari protein yang berikatan dengan reseptor sel manusia sulit putus atau pecah. Itu dianggap kelemahan dari SARS-CoV-2 yang berkembang dari Wuhan, Cina.

Choe menambahkan bahwa varian G memiliki lebih banyak protein paku daripada D, dan mengatakan alasan itu membuat mutasi varian ini 10 kali lebih menular dalam percobaan laboratorium.

“Saya pikir mutasi ini terjadi sebagai kompensasi,” kata Choe. Dia menambahkan mutasi itu tidak berdampak mematikan virus bagi mereka yang terinfeksi, hanya bagaimana cara menularkannya.

Mutasi juga ditemukan lebih menular dalam empat studi yang belum ditinjau oleh rekan sejawat atau peer review. Satu studi itu ditemukan para ilmuwan di Los Alamos National Laboratory yang menyimpulkan bahwa pasien memiliki lebih banyak virus varian G dalam tubuhnya, dan membuat mereka lebih mungkin menularkannya kepada orang lain.

Tapi sebagian penelitian lain percaya, perlu lebih banyak penelitian untuk menentukan seberapa efektif mutasi dalam menyebarkan virus. “Intinya adalah, kami belum melihat sesuatu yang pasti,” kata Jeremy Luban, ahli virus di University of Massachusetts Medical School.(*)

Menteri Perhubungan Budi Karya Minta Kementerian Keuangan Beri Subsidi Rapid Test

Bapenda Sulsel

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *