oleh

Mbah Lindu Meninggal, Jual Gudeg di Yogyakarta Sejak Zaman Belanda

SULSELONLINE.COM – Mbah Lindu meninggal dunia, Minggu (12/7/2020), di usianya yang mencapai 1 abad. Ia adalah penjual gudeg paling legendaris di Kota Yogyakarta.
Ia dikenal sederhana dan ramah. Nama lengkapnya Biyem Setyo Utomo.

Ia mengaku telah berjualah gudeg sejak masa penjajahan Jepang. Saat itu, dirinya berjalan kaki dari rumahnya di Klebengan, Caturtunggal, E-6 Depok, Sleman, ke kawasan Kaliurang.

“Tahunnya kapan saya sudah lupa, tapi sebelum Jepang datang. Wong Jepang datang itu saya sudah punya anak satu,” ujarnya saat diwawancarai Kompas.com pada Selasa (19/1/2016) pagi.

Mbah Lindu sempat mengungkapkan alasan dirinya tetap berjualan gudeg hingga akhir hayatnya. “Saya mau berjualan terus sekuatnya. Mau diberikan rezeki banyak atau sedikit ya harus tetap disyukuri,” katanya.

Sejak zaman penjajahan hingga meninggal dunia, ia tak pernah mengganti resep andalannya sejak pertama berjualan.
Karena usia, Mbah Lindu sejak dua tahun terakhir tidak lagi berjualan melayani pelanggannya. Namun, Mbah Lindu saat di rumah pun masih bekerja membantu menyiapkan racikan gudeg.

“Masih sering membantu merebus telur, lombok, duduk terus mau ke dapur jatuh. Saat itu saya yang di rumah terus dipanggil, terus dibawa ke (rumah sakit) Panti Rapih,” cerita Mudiati, anak Mbah Lindu.

Lalu, pada hari Minggu (12/7/2020) sekitar pukul 18.00 WIB, Mbah Lindu berpulang di usia 100 tahun. Sebelum meninggal, menurut Mudiati, Mbah Lindu tak alami sakit keras.

“Sedo (meninggal) di rumah ini, tadi sekitar pukul 18.00 WIB. Karena sudah sepuh (usianya sudah tua),” ujar Mudiati, Minggu (12/07/2020), dikutip kompas.com.

Mbah Lindu pernah berjualan di sebuah poskamling di Jalan Sosrowijayan, Kota Yogyakarta. Meski hanya poskamling di pinggir jalan, setiap pagi sekitar pukul 05.00 WIB, pelanggannya sudah mengantri.

Di depan lapaknya yang sederhana, ada kursi berukuran 1,5 meter tanpa meja.

Para pelanggan yang ingin menyantap gudeg, akan disajikan dengan pincuk, piring dari pelepah pisang yang dijepit dengan lidi. Suasana tersebut seakan membawa para pelanggan menikmati gudeg di masa lalu Kota Yogyakarta. (*)

Bertubi-tubi Keistimewaan Yogyakarta Digoyang

Bapenda Sulsel

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *