oleh

Cerita Mahasiswa Indonesia Hadiri Shalat Jumat Pertama di Hagia Sophia

SULSELONLINE.COM — Shalat Jumat pertama dilaksanakan di Hagia Sophia, 24 Juli 2020. Gedung berusia 1.500 tahun yang semula adalah katedral dengan sambutan “Allahu Akbar” Tuhan Maha Besar, oleh masyarakat di dalam dan di luar masjid yang mengikuti ibadah pertama dalam 86 tahun terakhir.

Sekitar 1.000 orang dizinkan untuk masuk ke Hagia Sophia melalui pemeriksaan keamanan, sementara yang lainnya melakukan shalat di seputar masjid.

Pada 1934, di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Turki modern, setelah jatuhnya Ottoman, masjid itu dijadikan museum.

Lukisan dan ornamen Kristiani ditutup tirai dengan menggunakan mekanisme khusus selama waktu shalat tetapi tetap akan dipajang.

Gedung ini dibangun pada abad keenam sebagai katedral namun dijadikan masjid pada 1453 ketika Ottoman, biasa disebut juga dengan Kekhalifahan Utsmaniyah, di bawah Mehmed II atau Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel yang kemudian berganti nama menjadi Istanbul.

Cerita mahasiswa Indonesia “sambutan Allahu Akbar, terharu dan merinding”

Dua orang mahasiswa Indonesia yang mengikuti shalat Jumat di seputar Hagia Sophia adalah Darliz Aziz dan Danis Nurul.

Darliz Aziz, mahasiswa asal Aceh, yang sudah berada di seputar Hagia Sophia, beberapa jam sebelum shalat dimulai, mengatakan walau matahari cukup terik, jemaah tetap bersemangat.

“Saat Presiden Erdogan mengawali dengan awal surah Al-Baqarah, masyarakat menyambut dengan Allahu Akbar, Tuhan Maha Besar, bersemangat menyambut Hagia Sophia sebagai masjid. Saya merasakan suasana yang guyub dari masyarakat Turki, Mereka berdatangan dari seluruh provinsi yang ada di Turki dari berbagai kota. Kebetulan, saya berjumpa dengan salah satu warga Turki yang berasal dari kota Denizli atau Pamukkale sebuah kota yang eksotis pemandangannya di Kawasan Barat Daya Turki. Dia mengatakan mengajak keluarganya bersama untuk merayakan pengembalian status Hagia Sophia dan mereka rela menginap selama satu malam,” paparnya.

Sementara, Danis Nurul, seorang mahasiswi, berjalan sekitar empat kilometer menuju Hagia Sophia bersama dengan ribuan warga lain yang berbondong-bondong menuju masjid agung ini.

“Terasa sekali warga sangat antusias, tidak hanya dari Turki, tapi banyak juga yang datang dari negara lain. Orang-orang rela berpanas-panasan, dengan menggelar sajadah di jalan. Dari jarak sekitar satu kilometer dari masjid, orang antre melewati tenda-tenda yang disediakan untuk mengambil masker dan disinfektan,” katanya lagi. Terharu banget bisa menyaksikan momen spesial ini, dan merinding, terutama ketika mendengar azannya,” ungkapnya.

Dianjurkan memakai masker dan petugas kesehatan dikerahkan

Gubernur Istanbul, Ali Yerlikaya mengatakan, muslim sangat senang, semua orang ingin hadir di pembukaan shalat Jumat pertama.

Namun ia mendesak mereka yang ingin mengikuti shalat Jumat untuk membawa masker, sajadah, serta bersabar dan memahami kondisi untuk mencegah penyebaran Covid-19, dalam pidatonya melalui televisi pada Kamis 23 Juli.

Ia menambahkan para petugas kesehatan dikerahkan di Hagia Sophia dan seputarnya.

Menteri Agama Turki, Ali Erbas mengatakan masjid agung ini dapat menampung sekitar 1.000 orang untuk sekali shalat. Banyak yang hadir di seputar masjid duduk di luar Hagia Sophia.

– Erdogan undang Paus yang “sangat sedih” karena Hagia Sophia dijadikan masjid lagi

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengundang Paus Fransikus untuk menghadiri pembukaan masjid, lapor kantor berita Anadolu. Namun sejauh ini belum ada laporan bagaimana tanggapan Paus.

Pada 12 Juli lalu, Paus mengatakan “sangat sedih” atas keputusan Turki menjadikan Hagia Sophia kembali menjadi masjid. Paus pernah mengunjungi Hagia Sophia dalam kunjungan ke Turki pada 2014.

Shalat Jumat pertama akan dipimpin oleh Ketua Direktur Keagamaan Turki, Ali Erba. Mosaik dan lukisan Kristiani akan ditutup tirai selama shalat Jumat dan waktu shalat lain.

“Mekanisme tirai yang digunakan mirip dengan yang dipakai dalam industri film. Tidak ada satu pun paku yang akan digores di struktur beton itu,” lapor harian Turki Hurriyet.

Karpet yang akan dipakai untuk shalat Jumat diproduksi di Provinsi Manisa, salah satu pabrik karpet pertama di Turki, kata surat kabar itu.

“Terbuat dari bulu domba 100 persen, karpet hijau yang dipasang dengan motif Ottoman abad ke-17,” tambah harian tersebut.

– Kemenangan dalam upaya kelompok Islamis

Bagi kelompok Islamis Turki, Hagia Sophia kembali dijadikan masjid menandai mimpi lama mewujudkan kembali simbol kejayaan Ottoman.

Namun bagi pihak lain, perubahan ini dianggap kemunduran untuk salah satu gedung dengan arsitek terindah di dunia.

Bagi Yunus Genc, salat di Hagia Sophia pada Jumat 24 Juli, menandai kemenangan dalam upaya puluhan tahun oleh kelompok Islamis seperti organisasi yang dia pimpin, untuk kembali menjadikan gedung kuno ini menjadi masjid.

Organisasi Genc, Anatolian Youth Association, sebelumnya melakukan berbagai protes dan menyelenggarakan salat di luar Hagia Sophia, sementara kelompok lain melakukan upaya legal untuk menjadikan museum sebagai masjid.

Sultan Mehmed II membeli masjid pakai uangnya sendiri

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan pada 10 Juli lalu menetapkan gedung yang menjadi katedral selama 900 tahun itu, sebagai masjid, setelah pengadilan membatalkan status bangunan ikonik yang ditetapkan UNESCO sebagai peninggalan bersejarah.

“Kami memperjuangkan ini selama bertahun-tahun,” kata Genc di depan masjid Kamis 23 Juli.

Kubah dan menara Hagia Sophia menandai langit Istanbul selama satu abad terakhir.

“Hagia Sophia adalah simbol dan kami, seperti Muslim lain, ingin dibuka sebagai masjid. Saat Sultan Mehmed, sang penakluk datang ke Istanbul, ia membeli Hagia Sophia dengan uangnya sendiri sebagai simbol penaklukkan dan ingin dijadikan masjid.”

Kelompok yang dipimpin Genc adalah gerakan yang dibentuk oleh perdana menteri pertama Islamis Turki, Necmettin Erbakan, yang partainya, Partai AK, memimpin Turki di bawah kepemimpinan Erdogan selama 17 tahun.

Selama kepemimpinannya Erdogan membentuk ulang Turki modern yang didirikan tokoh sekuler negara itu, Mustafa Kemal Ataturk, dengan mencabut larangan memakai jilbab di depan umum, meningkatkan pendidikan keagamaan.

Di tengah kekacauan dan pemberontakan di Timur Tengah pada 2011, Erdogan juga berupaya mengangkat posisi Turki sebagai kekuatan regional dan memimpin kelompok Muslim Sunni. Menetapkan Hagia Sophia sebagai masjid, adalah petanda ke arah “mencapai pembebasan” masjid Al-Aqsa di Yerusalem.

Erdogan mendorong langkah mengubah Hagia Sophia menjadi masjid sebelum pemilihan daerah tahun lalu, langkah yang menyebabkan pukulan bagi Partai AK. Para pejabat mengatakan langkah itu memenuhi keinginan mendalam masyakat di negara itu.

“Keputusan menjadikan Hagia Sophia sebagai masjid adalah tuntutan lama mayoritas rakyat Turki,” kata juru bicara Presiden, Ibrahim Kalin.

Ia mengatakan di bawah kepemimpinan Erdogan, masjid dan sinagog untuk masyarakat minoritas Kristen dan Yahudi Turki juga dibangun atau direnovasi, seperti dilansir kompas.com dari Sumber BBC Indonesia, Sabtu (25/7/2020). (*)

Bapenda Sulsel

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *