oleh

Balon Gubernur Sulteng Anwar Hafid, Dulu Jalan Kaki ke Sekolah

Drs. H. Anwar Hafid, M.Si, adalah mantan Bupati Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Ia menjabat Bupati Morowali selama dua periode, mulai 2007 hingga 2018.

Siapa sangka Pria kelahiran 14 Agustus 1969 di Wosu, Bungku Barat, Kabupaten Morowali, Sulteng, ini dulunya berjalan kaki saat ke sekolah.

Kala menjabat Bupati Morowali di periode pertama, anak dari pasangan H. Abdul Hafid dan Hj. Misrah yang menikahi Hj. Nirwanti Bahasoan, S.P. ini, belum genap berusia 40 tahun. Sehingga, Anwar Hafid mendapat julukan bupati termuda.

Sebelum menjadi bupati, Anwar Hafid pernah menjabat sebagai Asisten Bagian Pemerintahan Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

***
MOROWALI adalah sebuah kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Poso di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah yang disahkan dalam Undang-Undang Nomor 51 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Buol, Kabupaten Morowali, dan Kabupaten Banggai Kepulauan.

Kabupaten Morowali beribukota di Bungku, Kecamatan Bungku Tengah, Provinsi Sulawesi Tengah. Kabupaten muda ini memiliki berbagai potensi cukup besar, baik di sektor perkebunan, pertanian, kelautan, perikanan maupun pariwisata.

Sektor yang paling potensial di Morowali adalah pertambangan. Tidak mengherankan jika banyak orang menyebut kabupaten ini sebagai tanah 1001 tambang. Jenis tambang di Morowali, di antaranya nikel, marmer, minyak bumi, dan kromit.

Selain pertambangan, daerah kaya hasil “sentuhan tangan” Anwar Hafid ini juga terdapat banyak perkebunan sawit.

Anwar Hafid yang juga adalah Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Tengah, dikenal sebagai figur yang merakyat. Tak heran jika Anwar yang mendapatkan gelar magisternya di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Sulawesi Selatan, terpilih untuk kedua kalinya menjadi bupati setelah periode pertamanya pada tahun 2007-2012 lalu.

Bupati Pertama Terapkan Kuliah Gratis

Selama menjabat bupati pada periode pertama (2007-2012), Anwar Hafid yang merupakan alumni Fakultas MIPA UMI ini berhasil melakukan banyak perubahan di Morowali. Hal yang paling menonjol di periode pertama kekuasaannya adalah digulirkannya program Pendidikan Gratis dan Kesehatan Gratis.

Program Pendidikan Gratis yang digulirkan Anwar dimaksudkan memberikan kesempatan kepada segenap lapisan warga Morowali mengenyam pendidikan formal, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat itu, Morowali menjadi satu-satunya kabupaten yang menerapkan pendidikan gratis hingga SMA.

Di periode kepemimpinannya yang kedua (2013-2017), program Pendidikan dan Kesehatan Gratis masih tetap bergulir. Bahkan, khusus di sektor pendidikan, kini putera-puteri Morowali bisa kuliah dengan mudah. Pasalnya, terobosan fenomenal kembali diluncurkan oleh H. Anwar Hafid di periodenya yang kedua, yaitu Kuliah Gratis.

Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali telah menganggarkan melalui APBD yang dialokasikan untuk bantuan dana pendidikan strata satu (sarjana) bagi putera-puteri Morowali. Hal ini tentunya bertujuan untuk memajukan kualitas sumber daya manusia (SDM) anak-anak daerah.

Dengan adanya program tersebut, tentunya semua pihak berharap bahwa tidak akan ada lagi anak-anak Morowali yang tidak kuliah hanya karena terhambat persoalan ekonomi. Karena, Pemerintah Kabupaten Morowali telah menyiapkan dana untuk membantu biaya perkuliahan. Program ini termasuk satu-satunya di Indonesia.

Program kuliah gratis ini bukannya tanpa rintangan. Harus diakui bahwa tidak semua rencana dapat berjalan dengan mulus. Mulai dari persoalan pendataan, serta kendala-kendala lainnya, menjadi penghambat bagi program ini di awal peluncurannya pada tahun 2013. Namun, tentunya itu adalah hal biasa yang pasti terjadi. Bahwa, segala sesuatu akan terasa rumit pada awal-awalnya, namun ketika sudah mulai berjalan, pelan-pelan akan menjadi ringan.

Program Kuliah Gratis adalah sesuatu yang mulia, perwujudan dari tanggung jawab negara terhadap warganya, seperti diamanatkan dalam UUD 1945 bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pendidikan.

Hanya saja kemudian, program ini perlu pengawasan yang ketat dari semua elemen yang ada agar benar-benar berjalan seperti seharusnya. Sebab, sebagus apa pun sebuah rencana, jika pelaksanaannya tidak profesional maka hasilnya akan melenceng dari rencana, bahkan bisa-bisa merugikan daerah serta negara.

Pada suatu kesempatan, Anwar Hafid kepada wartawan menjelaskan bagaimana dia saat baru saja menjabat Bupati Morowali, langsung menggratiskan pendidikan dan layanan kesehatan bagi rakyat Morowali.

“Tanggal 23 Desember 2007 saya dilantik. Tanggal 1 Januari 2008, saya berdiri di hadapan rakyat Morowali, saya menyatakan hari ini tidak boleh ada lagi rakyat Morowali yang bersekolah dengan dipungut biaya. Hari itu juga saya sampaikan ke masyarakat kalau ada yang sakit jangan ada yang membayar untuk pengobatannya,” ujarnya.

Alasan Anwar Hafid menerapkan kebijakan tersebut karena merasa berutang budi kepada rakyat yang telah memilihnya tanpa politik transaksional.
“Rakyat memilih saya jadi Bupati Morowali tidak dengan uang,” ujarnya.
Tapi, berapa banyak hari ini pemimpin, ketika terpilih, dia tidak mau lagi peduli kepada rakyatnya. Dia tidak peduli berapa banyak orang yang putus sekolah, dia tidak peduli kalau banyak orang yang terkapar mati di rumahnya tidak bisa berbuat karena tidak punya uang.

“Kenapa mereka tidak punya nurani? Karena, mereka telah menghabiskan uang untuk menjadi pemimpin,” kata Anwar Hafid.

Sekolah Jalan Kaki

Selama bersekolah di SMA Negeri 1 Poso, Anwar Hafid tinggal di rumah sang paman di Moengko Baru, Kecamatan Poso Kota.

“Kalau tanggal muda, tanggal 1 sampai 10, saya waktu itu masih naik taksi. Setelah itu, tanggal 10 ke atas, saya naik DN 11, atau jalan kaki. Dari Moengko Baru menyusuri Kayamanya, lalu memotong pasar, tembus ke SMA 1,” kata Anwar Hafid mengenang suka dukanya saat masih duduk di bangku SMA.

Anwar juga berkisah tentang penugasannya sebagai Kepala Desa di pelosok Palopo, Sulawesi Selatan, desa di atas gunung yang hanya bisa dijangkau jalan kaki dan naik kuda. “Tujuh tahun saya tidak pulang- pulang,” ujarnya.

Maju di Pemilihan Gubernur Sulawesi Tengah

Kini, menjelang pemilihan gubernur (Pilgub) Sulawesi Tengah tahun 2020, baliho dan billboard bergambar Anwar Hafid sudah menyebar di berbagai pelosok wilayah Sulawesi Tengah.

Fenomena merebaknya baliho dan billboard menandakan masyarakat menginginkan Anwar Hafid kembali memimpin untuk wilayah lebih luas lagi dibandingkan daerah yang dipimpin sebelumnya, yaitu dari menjadi Bupati Morowali meningkat menjadi Gubernur Sulawesi Tengah.

Bagi Anwar Hafid, politik adalah jalan pengabdian bagi rakyat, di mana kekuasaan dikelola untuk diabdikan bagi kesejahteraan rakyat.(*)

Balon Wakil Gubernur Sulteng Pasha Ungu Pirangi Rambut

Bapenda Sulsel

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *