oleh

Kisah Siswa SMP di Makassar Masuk Sekolah karena Tidak Punya HP untuk Belajar Online

SULSELONLINE.COM — Pandemi  Covid-19 membuat aktivitas pembelajaran di sekolah dilakukan secara daring atau online.

Namun, keputusan belajar online tersebut ternyata tak bisa dilakukan semua kalangan.

Seperti yang terjadi di Sekolah Menegah Pertama Negeri (SMPN) 27 Kota Makassar, pada tahun ajaran baru ini, ada tiga siswa di sekolah tersebut yang terpaksa masuk sekolah karena tidak mampu membeli handphone (HP) untuk digunakan belajar secara daring.

Ketiga siswa itu, Rusli, Muh Nur dan Muh Abdi Bintang.

“Iya sudah ada tiga yang masuk sekolah, yang dua ini sama seperti Rusli tidak mampu beli HP juga,” kata Humas SMPN 27 Makassar, Naston mengutip Suara.com, Sabtu (8/8/2020).

Naston mengemukakan pada tahun ajaran baru ini ada 300 siswa baru yang diterima di SMPN 27 Makassar. Dari 300 siswa tersebut 30 persen di antaranya masuk melalui jalur non-zonasi kategori prestasi dan jalur afirmasi prasejahtera.

“Siswa kita di sini umumnya berasal dari keluarga menengah ke bawah. Ada dari anak tukang batu, tukang bentor dan sejenisnya,” ujarnya.

Rusli lulus melalui jalur afirmasi prasejahtera. Hanya saja, saat pelajaran dimulai pada Senin 3 Agustus 2020 lalu, Rusli mendatangi pihak sekolah bersama orang tuanya.

Mereka meminta untuk belajar di sekolah dengan karena tidak memiliki HP.

Rusli merupakan anak yang kurang mampu, ayahnya bekerja sebagai buruh harian, sementara ibunya hanya ibu rumah tangga.

Atas persetujuan pihak sekolah, Rusli akhirnya diperbolehkan belajar secara daring dengan menggunakan fasilitas di ruang labolatorium SMPN 27 Makassar.

Rusli telah menjalani aktivitas belajar secara daring di SMPN 27 Makassar seorang diri selama empat hari, dari Senin 3 Agustus hingga Kamis 6 Agustus 2020.

Naston mengaku di masa pandemi Covid-19 ini, pembelajaran memang dilakukan secara daring, mulai pukul 08.00 pagi, hingga 12.00  siang.

“Pelajaran tidak normal seperti biasa, untuk satu pertemuan itu teman-teman guru biasanya antara 30 menit sampai 40 menit,” katanya.

Dalam waktu empat hari itu, Rusli tidak pernah mengeluh. Bahkan terlihat santai, walaupun harus belajar seorang diri di sekolah.

Selain itu, dua siswa lainnya, yakni Muh Nur dan Muh Abdi Bintang juga meminta belajar di sekolah. Hal itu dilakukan karena kedua siswa ini tidak memiliki HP.

Muh Nur merupakan anak yang sudah tidak memiliki orang tua, ia ditampung neneknya.

“Muh Nur belajar di sekolah atas arahan rekan guru, karena diketahui memang anak yatim piatu. Rusli kelas 7.2, Muh Nur kelas 7.1, Muh Abdi Bintang kelas kelas 7.7,” tambahnya.

Atas simpati dermawan, dua di antara tiga siswa yang tidak memiliki HP tersebut mendapat bantuan berupa handphone android.

Bantuan itu diberikan kepada Rusli dan Muh Nur agar dapat digunakan untuk belajar secara daring atau online di rumahnya.

Bantuan H itu diberikan oleh anak dari Kadis Pendidikan Makassar, Dimas Parawansah. Bantuan HP tersebut diserahkan kepada Rusli di rumahnya, yang terletak di Macini Sombala Tamalate Makassar.

Phak sekolah berharap setelah menerima bantuan HP, Rusli dan Muh Nur dapat belajar online dari rumah, seperti yang dilakukan oleh siswa-siswa lainnya. (*)

Bapenda Sulsel

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *