oleh

Mengenal Tiga Datuk Minang Penyebar Islam di Sulawesi Selatan

SULSELONLINE.COM — Sejarah Islam di Sulawesi Selatan tak lepas dari peran tiga ulama asal Minangkabau, Sumatera Barat.

Tiga ulama ini datang ke Makassar kemudian tinggal di Sulsel hingga akhir hayat mereka.

Dikisahkan bahwa di penghujung abad ke-17, kapal yang membawa Datuk ri Bandang (Abdul Makmur, Khatib Tunggal), Datuk ri Pattimang (Sulaiman, Khatib Sulung) dan Datuk ri Tiro (Abdul Jawad, Khatib Bungsu), merapat ke bandar Somba Opu milik Kerajaan Gowa-Tallo.

Namun sejumlah catatan menyebut bahwa Islam sudah ada di Sulsel waktu itu, meski penyebarannya belum pesat. Tiga abad sebelum mereka, sudah ada Sayyid Jamaluddin al-Akbar al-Husaini, seorang ulama asal Malabar di India, yang berdiam di Kerajaan Wajo sejak tahun 1320.

Menurut peneliti dari Balai Litbang Agama Makassar, ketiga Datuk ini datang menyebarkan agama Islam atas permintaan Raja Tanete. Sebelumnya, kepala pemerintahan Kerajaan Barru tersebut mengirim utusan ke tanah Minang terlebih dahulu, menyampaikan maksud dan tujuan undangan.

Di sisi lain, sebuah catatan turut menulis jika mereka diutus oleh Sultan Aceh dan Sultan Johor, seperti dilansir dari IDN Times, Ahad 9 Agustus 2020.

1. Datuk Tellue atau Datuk Tallua dari Minangkabau Sumbar dan bermukim di Sulsel hingga akhir hayat

Setelah tiba di Makassar, mereka rupanya tak langsung melakukan aktivitas syiar Islam. Pengamatan dan pembacaan kondisi masyarakat dan politik kerajaan di Sulsel waktu itu jadi hal utama.

Beberapa keterangan diperoleh, antara lain Datuk Luwu adalah raja paling dihormati sebab posisi Kerajaan Luwu sebagai kerajaan tertua dan disebut sebagai asal leluhur para raja-raja di Sulawesi Selatan.

Sementara yang paling kuat adalah Raja Gowa dan Raja Tallo.

Berbekal informasi tersebut, mereka berangkat ke Luwu untuk menemui Datuk Luwu yang berkuasa waktu itu, La Patiware Daeng Parabu dengan gelar Petta Matinroe’ ri Malangke (1587-1615).

Menurut naskah Lontara Wajo, sang petinggi Luwu kemudian memeluk agama Islam pada 15 Ramadan 1013 H atau tahun 1603.

Tak lama kemudian, menyusul para petinggi dari Kerajaan Gowa-Tallo, di antaranya Raja Tallo, I Malingkaan Daeng Mayonri (1539-1623), sang raja keenam. Ia digelari Sultan Abdullah Awalul Islam oleh ketiga Datuk, sekaligus menjadikan Islam sebagai agama resmi sejak 1605.

Atas jasa menyebarkan Islam di Sulsel, masyarakat Bugis menggelari ketiganya Datuk Tellue sementara orang Makassar menyebut Datuk Tallua.

2. Masjid Katangka Gowa jadi saksi bisu penyebaran agama Islam oleh ketiga Datuk

Setelah para petinggi dari dua kerajaan berpengaruh di Sulsel memeluk agama Islam, para Datuk itu kemudian berpencar, membagi tempat dakwah menurut kondisi sosial dan kemampuan mereka.

Hal tersebut dikemukakan dalam buku Sistem Nilai Islam dalam Budaya Bugis-Makassar yang ditulis oleh Abdullah Hamid, peneliti dan sejarawan yang fokus terhadap dinamika masyarakat lokal Sulsel.

Datuk ri Bandang yang ahli ilmu hukum dan syariat Islam bertugas di wilayah Gowa-Tallo. Waktu itu, masyarakatnya masih kerap melakukan judi, minum ballo’ atau minuman keras tradisional dan sabung ayam.

Datuk Pattimang yang ahli tauhid atau konsep keesaan bertugas di Luwu lantaran masyarakatnya masih memegang sistem kepercayaan lama, yakni menyembah Dewata Seuwae.

Datuk Pattimang disebut mengajarkan hal-hal sederhana seperti sifat-sifat Tuhan.

Datuk ri Tiro yang menguasai ilmu tasawuf atau sufisme bertugas di Bulukumba, bagian selatan. Waktu itu, masyarakatnya masih percaya terhadap hal-hal berbau kebatinan dan sihir.

Sebuah riwayat menyebut jika Datuk ri Tiro mengakhiri masa kekeringan di wilayah tersebut dengan memunculkan mata air usai menancap tongkatnya ke tanah.

3. Nama Datuk ri Tiro diabadikan Pemkab Bulukumba untuk nama Islamic Centre sebagai bentuk penghormatan

Ketiga Datuk ini menetap di Sulsel hingga mengembuskan napas terakhir. Makam Datuk ri Bandang berada di Jalan Sinassara Kecamatan Tallo Kota Makassar. Datuk Pattimang wafat di Desa Pattimang Kabupaten Luwu.

Sementara pusara Datuk ri Tiro dapat dijumpai di Kelurahan Eka Tiro Kecamatan Bonto Tiro Kabupaten Bulukumba.

Makam mereka ramai dikunjungi para peziarah yang datang memberi penghormatan. Setelah ketiganya mangkat, Islam menyebar lebih luas di Pulau Sulawesi. (*)

Bapenda Sulsel

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *