oleh

Penumpang KRL Wajib Pakai Masker Kain 3 Lapis, Tidak Boleh Pakai Masker Scuba

SULSELONLINE.COM – Sekarang adalah hari pertama penerapan kewajiban menggunakan masker yang efektif mencegah droplet di dalam Kereta Rel Listrik (KRL). Masker scuba tidak boleh lagi digunakan di dalam KRL.

“Mulai Senin (21/9) KCI mewajibkan seluruh penggunanya untuk memakai masker yang terbukti efektif dalam mencegah droplet atau cairan yang keluar dari mulut dan hidung,” ujar VP Corporate Communications PT KCI Anne Purba, dalam keterangannya, Jumat (18/9) lalu.

PT KCI mengajak para pengguna KRL menggunakan masker dengan cara yang tepat, yakni menutupi hidung dan mulut sampai ke dagu.

Masker scuba atau buff termasuk masker satu lapis, bukan masker tiga lapis. Memang aturan yang mulai diterapkan hari ini tidak menyebut soal pelarangan masker scuba. Namun sebelumnya, PT KCI telah melakukan sosialisasi kepada pengguna KRL agar menghindari pemakaian masker buff dan masker scuba.

“Hindari pemakaian masker scuba atau buff yang hanya 5% efektif dalam mencegah risiko terpaparnya akan debu, virus, dan bakteri,” tulis Instagram @commuterline, ditengok sejak Selasa (15/9) pekan lalu.

Operasi Disiplin Protokol Kesehatan Covid-19 di Maros Sasar Warga Tak Pakai Masker

Ahli Epidemiologi: Saat ini, Masker adalah ‘Vaksin’ Terbaik Cegah Covid-19

PT Kereta Api Indonesia dan PT Kereta Commuterline Indonesia  resmi melarang penumpang kereta api jarak jauh dan KRL Commuterline, untuk tidak memakai masker scuba. Masker jenis ini dinilai tak efektif mencegah penularan Covid-19.

Dr. Adam Prabata, kandidat PhD di Kobe University, Jepang sepakat dengan pelarangan tersebut. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun tidak merekomendasikan penggunaan masker kain dari bahan elastis, untuk semua situasi di luar rumah. Tak cuma di kereta api saja.

Adam menjelaskan, masker scuba memang tak ampuh mencegah Covid karena berbahan dasar neoprene. Neoprene merupakan bahan kain sintetik elastis, yang sering digunakan sebagai pakaian olahraga.

“Badan Kesehatan Dunia (WHO) tidak merekomendasikan masker yang bersifat elastis, termasuk neoprene yang merupakan kain masker scuba, sebagai bahan masker. Sebab, material jenis ini akan mengalami pembesaran pori bila direnggangkan, dan cenderung terdegradasi seiring waktu. Sehingga, filtrasi masker menjadi tidak efektif,” jelas Adam via akun Instagramnya.

Dokter yang aktif memberikan edukasi seputar Covid ini juga mengatakan, masker scuba yang dijual di pasaran, mayoritas hanya terdiri dari 1 lapis kain.

Padahal, menurut WHO, masker kain minimal harus terdiri dari 3 lapis atau lebih. Tergantung jenis kainnya.

“Agar efektif, masker kain harus memiliki filtrasi minimum 70 persen. Faktanya, tidak ada bahan kain 1 lapis untuk masker, yang mampu mencapai filtrasi 70 persen,” terang Adam.

Meski begitu, masker kain tetap direkomendasikan untuk saat ini. Sebab, masker tersebut dapat mencegah penularan Covid dari pasien yang tidak atau belum bergejala. Selain itu, juga untuk mencegah diri sendiri dari menulari orang lain.

Karena bisa saja, kita telah terinfeksi Covid, tapi tidak atau belum bergejala.

“Masker kain yang baik harus terdiri dari 3 lapis. Lapisan dalamnya harus berbahan dasar katun, supaya dapat menyerap air. Sementara lapisan tengah yang merupakan filtrasi droplet, bisa terbuat dari bahan dasar katun atau polypropilene. Sedangkan lapisan luar yang tidak menyerap air, bisa terbuat dari bahan polypropilene, polyester, dan bahan sintetik lainnya,” kata Adam. (alm)

Ingat, Face Shield Harus Pakai Masker

Ini Sanksi Jika Tidak Pakai Masker di Bantaeng

Bapenda Sulsel

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *