oleh

Studi Sebut Tak Ada Jaminan Imunitas Setelah Muncul Kasus Kematian akibat Reinfeksi Covid-19

SULSELONLINE.COM — Seorang perempuan berusia lanjut di Belanda meninggal dunia setelah terinfeksi virus corona untuk kedua kalinya.

Kasus ini menjadi kematian pertama yang dilaporkan akibat reinfeksi Covid-19. Peristiwa ini pun diteliti. Pasien berusia 89 tahun ini juga telah dirawat karena sebuah jenis kanker sel darah putih yang dimilikinya.

Para peneliti mengatakan, saat tiba di unit gawat darurat, perempuan ini mengalami demam dan batuk parah. Ia dikonfirmasi positif virus corona dan dirawat di rumah sakit selama lima hari.

Setelah itu, gejala-gejala yang ditunjukkan mereda, kecuali kelelahan yang terus dialami. Ia kemudian dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Dua bulan kemudian, dua hari setelah menjalani periode baru kemoterapi, wanita tersebut mengalami demam, batuk, dan dispnea. Perempuan itu pun kembali dinyatakan positif virus corona.

“Pada hari kedelapan, kondisi pasien memburuk. Ia meninggal dua minggu kemudian,” kata para peneliti, dikutip dari Kompas.com, Jumat (23/10/2020).

Jumlah kasus reinfeksi yang dilaporkan oleh para peneliti masih belum begitu banyak. Sebelumnya, banyak pendapat menduga pasien yang pernah mengalami infeksi Covid-19 akan mengembangkan imun tertentu dan dapat sembuh saat terinfeksi kembali.

Namun, sebuah penelitian yang dirilis di jurnal The Lancet Infectious Diseases pada Selasa 13 Okotober 2020, menujukkan pasien Covid-19 kemungkinan mengalami gejala lebih parah saat terinfeksi untuk kedua kalinya.

Studi tersebut mengamati grafik yang ditunjukkan kasus reinfeksi pertama Covid-19 di Amerika Serikat (AS). Hasilnya, ada indikasi paparan virus tidak menjamin imunitas.

Pasien tersebut merupakan seorang laki-laki berusia 25 tahun dan terinfeksi dua varian berbeda dari SARS-CoV-2 dalam waktu 48 hari. Infeksi kedua lebih parah dari yang pertama, hingga membuat pasien dirawat di rumah sakit dan membutuhkan bantuan oksigen.

Namun demikian, para peneliti menyebut masih dibutuhkannya penelitian lebih lanjut untuk mencapai kesimpulan yang pasti terhadap kemungkinan-kemungkinan pada reinfeksi.

“Kita membutuhkan lebih banyak penelitian untuk memahami berapa lama imunitas dapat pertahan pada orang yang terpapar SARS-CoV-2 dan mengapa beberapa infeksi kedua, meskipun jarang, dapat lebih parah,” kata ketua studi, Mark Pandori.

Hingga kini, masih belum jelas bagaimana dan berapa lama imunitas tubuh dari Covid-19 terbentuk serta bertahan. Untuk penyakit-penyakit seperti campak, infeksi menghasilkan kekebalan seumur hidup.

Sementara, untuk patogen lain, kekebalan mungkin berlangsung dalam periode waktu yang lebih pendek.

Para peneliti mengatakan pasien reinfeksi Covid-19 di AS kemungkinan terpapar jumlah virus yang lebih banyak di infeksi keduanya sehingga menimbulkan reaksi yang lebih parah. Kemungkinan lain, pasien tersebut terpapar strain yang lebih mematikan.

Ada juga dugaan yang menyebut kondisi yang semakin buruk pada infeksi kedua dipengaruhi oleh mekanisme dalam antibodi itu sendiri.

Terlepas dari ketidakpastian itu, peneliti menyebut prospek reinfeksi ini memiliki dampak yang besar terhadap bagaimana dunia menghadapi pandemi ini.

“Dengan lebih banyaknya kasus reinfeksi yang muncul, para komunitas ilmiah akan memiliki kesempatan untuk lebih memahami korelasi perlindungan dan seberapa sering infeksi alami SARS-CoV-2 menyebabkan kekebalan itu,” kata Profesor Imunobiologi dan Molekuler, Sel dan Pengembangan Biologi di Yale University, Akiko Iwasaka.

Ia juga menilai informasi ini menjadi kunci untuk memahami vaksin mana yang dapat bekerja paling efektif nantinya. (*)

Bapenda Sulsel

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *