oleh

Bupati Maros Hatta Rahman Wujudkan Mimpi Warga Bontoa Nikmati Air Bersih

SULSELONLINE.COM, MAROS — Bupati Maros, Hatta Rahman akhirnya mewujudkan mimpi warga Kecamatan Bontoa terkait persoalan air bersih.

Warga Desa Pajukukang Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros, tak kuasa meluapkan kegembiraannya saat rombongan Hatta Rahman tiba di desa itu untuk meninjau sekaligus meresmikan penampungan air bersih di sejumlah titik, Selasa (10/11/2020).

Bagi warga, penyediaan air bersih yang diwujudkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros ini, tak ubahnya seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

Betapa tidak, selama berpuluh-puluh tahun mereka terpaksa harus membeli air bersih saat kemarau karena tidak adanya sumber air di wilayah itu.

“Kami sangat senang sudah ada sumber air bersih di sini. Andaikan bisa, saya sujud di kakinya bapak Bupati. Dari lahir sampai sekarang, baru kali ini ada sumber air bersih,” kata seorang warga, Sari Banong.

Selama ini, warga harus mengeluarkan uang minimal Rp 20 ribu rupiah per hari hanya untuk menutupi kebutuhan air bersih untuk masak dan minum. Sementara untuk mandi dan mencuci, mereka terpaksa menggunakan air empang yang rasanya payau dan keruh.

“Saya pak itu paling sedikit Rp 20 ribu per hari untuk beli air saja. Sedangkan penghasilan saya tidak jelas karena tidak ada suami. Air yang kita beli itu untuk masak dan minum saja, kalau mandi dan mencuci kita pakai air empang dicampur air tawar begitu,” sebutnya.

Sementara itu, Hatta Rahman menjelaskan, penampungan air bersih yang ada saat ini merupakan tahap awal dan uji coba. Kedepannya, Pemkab Maros akan menambah lokasi penampungan air di kecamatan yang memang selalu menjadi langganan krisis air bersih saat kemarau.

“Ini baru tahap awal, makanya kita buat baru 8 titik dulu di beberapa desa dan kelurahan. Nanti kita akan kaji lagi untuk tambah titik di semua lokasi yang menjadi langganan krisis air bersih setiap tahun,” jelasnya.

Ia mengaku program pengadaan air bersih untuk wilayah pesisir ini sudah dilakukan selama dua kali oleh Pemkab Maros, namun selalu gagal, sehingga harus dilakukan perencanaan ulang.

Mulai dari pengambilan sumber air di Bantimurung melaui PDAM hingga penyaringan di Pacelle.

“Program ini sudah beberapa kali kita lakukan upaya untuk pengadaan air bersih di lokasi ini tapi memang selalu gagal. Mudah-mudahan yang ini berhasil dan bisa dinikmati selama-lamanya oleh warga kita di sini,” lanjutnya.

Program pengadaan air bersih oleh Pemkab Maros ini dilakukan dengan cara menyiapkan tandon berkapasitas 3300 liter dengan air bersih diambil dari dua lokasi berbeda, yakni di Balitkanta dan Balitjas.

Agar bisa teraliri, Pemkab Maros juga harus memasang pipa sepanjang 17 kilometer dari sumur utama ke tandon-tandon air.

“Alhamdulillah Balitjas dan Balitkanta melalui kementriannya sudah menghibahkan tanah yang kita pakai sebagai sumber air itu untuk Pemkab Maros. Jadi kita pasang 17 kilometer pipa dari dua titik suplai air itu ke tandon ini,” tambahnya.

Selain akan menambah jumlah tandon, Pemkab Maros juga akan merancang proses pendistribusian air bersih ke warga, apakah akan diserahkan ke pemerintah desa atau akan diserahkan ke PDAM untuk dikelola.

“Sisa perencanaan distribusinya dan pemeliharaannya. Apakah diserahkan ke desa atau PDAM yang akan mengelola. Kalau program ini berjalan baik, kita akan lakukan juga di kecamatan lain yang juga mengalami krisis air bersih,” pungkasnya. (*ih)

Bapenda Sulsel

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *