oleh

Cerita Haru Mantan Pramugari 2 Kali Lolos Kecelakaan, Ibu Tetap Rawat Meski Nakal

SULSELONLINE.COM — Banyak di antara kaum wanita yang sangat mendambakan bisa menjadi seorang pramugari. Profesi ini dianggap terhormat dan menjanjikan masa depan yang sangat cerah di mata mereka.

Namun profesi pramugari ini sebenarnya sama dengan yang lainnya, tidak selamanya menyenangkan. Salah satunya risiko yang mengancam nyawa ketika pesawat jatuh.

Seperti yang dialami mantan pramugari bernama Laura Lazarus ini. Dia pernah jadi perhatian publik lantaran dua kali selamat dari kecelakaan pesawat ketika bertugas.

Kisah Haru Mantan Pramugari 2 Kali Lolos Kecelakaan, Melawan Orangtua dan Kabur dari Rumah

Bersama Lion Air, Laura mengalami dua kali kecelakaan pada tahun 2004. Di kecelakaan pertama dia tidak mengalami cedera.
Namun 5 bulan setelahnya, dia mengalami kecelakaan ke dua yang menjadi momen tragis bagi Laura di sepanjang hidupnya.

Kecelakaan tersebut membuat Laura mengalami luka yang sangat parah. Wajah bagian kanannya remuk, tubuhnya lumpuh tak bisa bergerak.

Waktu itu Laura mengaku sangat malu, karena sebelumnya dia sangat membenci orangtua dan selalu kabur dari rumah.

Tapi saat dirinya terkapar, kedua orangtuanya yang menjadi pendamping setia, yang merawatnya dengan tulus hingga Laura benar-benar bangkit.

Laura pun bercerita betapa cinta orangtuanya yang begitu indah, meski sebelumnya dia sering melawan saat masih jadi pramugari.

Rumah Sakit Bagaikan Rumah Ke-2

Usai mengalami kecelakaan ke dua pada 30 November 2004 itu, Laura mengalami koma selama tiga hari. Laura menggambarkan kondisi mengerikan yang dialaminya.

” Muka bagian sini hancur, tulang muka remuk. Mata yang ini jatuh ke bawah, tangan patah. Ini pinggang sama kaki juga patah,” kenang Laura seperti dikutip dari akun Instagram @mariophotographie.

Dengan kejadian tersebut, Laura melakukan banyak sekali operasi. Sejak tahun 2004 sampai 2016 Maret, Laura menjalani 18 kali operasi di kaki. Wajahnya sampai dipasang plat metal.
Serangkaian operasi dan perawatan yang melelahkan tersebut memaksa Laura sering tinggal di rumah sakit selama 12 tahun.

Tentu Laura merasa bosan setiap hari harus bertemu rumah sakit selama sekian tahun itu. Dia menghabiskan masa mudanya dengan menahan sakit akibat kecelakaan pesawat.

“Dari rumah sakit, terus pulang. Rumah sakit lagi. Jadi bolak-balik. Hidup saya itu sepertinya habis buat di rumah sakit gitu. Orang bilang, masa muda saya kaya hilang gitu,” ujar Laura.

Masa Muda Hilang, Masa Depan Hancur

Depresi yang dirasakan Laura muda begitu hebat, sampai-sampai dia minta untuk mati saja kepada ibunya.

“Saya sampai pernah ngomong ke mama saya, ‘Ma sudah deh ma, saya nggak kuat lagi. Mendingan saya mati saja’,” kata Laura.

Tapi kedua orangtuanya malah meminta Laura untuk tetap bersemangat. Orangtuanya terus berusaha membangkitkan semangat Laura.

“Tapi orangtua saya bilang, ‘Nggak boleh kaya gitu, kamu harus hidup, kamu harus semangat, kamu masih punya keluarga. Kamu nggak boleh patah semangat seperti itu’. Tapi keadaan saya lumpuh, nggak bisa gerak badannya,” lanjut Laura.

Dulu Pernah Nakal dan Melawat Orangtua

Merasa masa mudanya hilang dan tidak punya masa depan, Laura pun menjadi putus asa. Dia merasa takut tak bisa menghadapi dunia ini lagi.

“Usia saya saat itu 19 tahun. Duduk saja saya nggak bisa. Jalan saja saya nggak bisa. Bagaimana saya bisa lihat kehidupan saya. Saya nggak ngerti hari itu. Tapi orangtua saya minta saya bangkit kembali, ‘Ayo Laura’,” kata Laura.

Laura kemudian mengaku betapa dia telah menyakiti hati orangtuanya. Padahal, saat dirinya terkapar, merekalah yang merawat tanpa peduli dengan sikapnya sebelumnya.

Hubungan dengan Orangtua Hancur

Selama jadi pramugari, Laura memilih untuk selalu pergi dari rumah karena merasa hubungan dengan keluarga telah hancur. Sampai-sampai dia tak mau bertemu dengan ayah dan ibundanya sendiri.

“Hubungan saya dengan orangtua saya itu hancur sekali. Saya sudah lama sekali pergi dari rumah. Saya terbang ke sana kemari, saya nggak mau pulang gitu.

“Karena menurut saya, di rumah itu nggak enak, nggak asik. Saya tiap hari kalau ketemu orangtua, kayanya diomelin terus,” tutur Laura.

Orangtua Merawat dengan Penuh Kasih Sayang

Namun, kecelakaan tragis pada 16 tahun silam telah menyadarkan dirinya. Sosok yang dulu selalu dibenci, kini menjadi satu-satunya yang menemani.

Ibundanya begitu tulus ikhlas merawat Laura selama lumpuh, tanpa meminta imbalan sama sekali.

“Bayangkan. Dalam keadaan saya lumpuh dan tidak berdaya. Dalam keadaan saya untuk makan saja nggak bisa. Tapi orangtua saya dengan tulus pakein saya baju.

“Sisirin rambut saya, tiap hari suapin saya. Maaf, tiap hari dia bersihin kotoran saya. Bayangin, kita usia 19 tahun, kotorannya masih dibersihin. Itu nggak enak banget kan?” kenang Laura menahan tangis.

Pengorbanan Orangtua Sepanjang Masa

Akhirnya Laura sadar bahwa orangtuanya sangat luar biasa. Mereka tak memandang dirinya yang sebelumnya selalu bersikap kurang ajar.

“Dari situ akhirnya saya lihat. Wow! orangtua saya itu nggak lihat saya itu yang nakal. Orangtua saya nggak lihat saya yang kurang ajar sama dia. Tapi dia tetap masih mau rawat badan saya dengan tulus,” kata Laura sambil berlinang air mata.

Kisah Laura Lazarus ini seolah membuktikan pepatah ‘Kasih ibu sepanjang masa kasih anak sepanjang galah’. Ketulusan ibundanya terus memotivasi diri Laura, membuatnya sadar untuk segera bangkit.

“Saya sampai bilang, maafin saya ya ma. Saya nyusahin mama. Tapi hari itu orangtua saya bilang. ‘Nggak apa-apa, kamu nggak perlu minta maaf. Ayo kita jalani ini sama-sama. Kamu nggak usah sedih, kamu nggak nyusahin mama’.

“Itulah yang membuat saya termotivasi untuk bangkit, untuk keluarga dan untuk diri saya sendiri,” pungkas Laura seperti dikutip dari Merdeka.com

Pemkab Maros     Bapenda Sulsel     DPRD Kota Makassar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *