oleh

BMKG: Potensi Bencana Akibat Cuaca dan Gempa Meningkat hingga Maret

SULSELONLINE.COM —  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi multirisiko bencana hingga Maret 2021.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menyebut puncak bencana yang disebabkan oleh cuaca terjadi pada Januari-Februari, bersamaan dengan itu potensi kegempaan meningkat.

“Sampai Maret masih ada potensi multirisiko, tapi untuk hidrometeorologi puncaknya pada Januari-Februari. Tapi seiring dengan itu, potensi kegempaan juga meningkat, mohon kewaspadaan masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip dari merdeka.com, Selasa (19/1/2021).

BMKG telah mengeluarkan informasi potensi bencana bersamaan dengan prakiraan musim hujan sejak Oktober 2020.

Bahkan sejak awal Januari 2021, sejumlah daerah mengalami bencana banjir dan tanah longsor akibat peningkatan curah hujan.

Begitu pula dengan potensi kegempaan, gempabumi dengan kekuatan signifikan terjadi di sejumlah daerah.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim, Dodo Gunawan mengatakan saat ini juga sudah memasuki puncak musim hujan sehingga patut diwaspadai peningkatan potensi bencana hidrometeorologi.

“Januari-Februari memasuki puncak musim hujan. Karena itu, perlu ditingkatkan kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi,” ungkapnya.

Berdasarkan data BMKG pada Dasarian III Januari 2021 terdapat daerah dengan potensi banjir menengah, yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua.

Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto mengatakan saat ini ada beberapa fenomena cuaca yang harus diwaspadai, yaitu MJO (Madden Julian Oscillation) serta fenomena lokal, regional, dan global.

MJO saat ini teramati sedang aktif di wilayah Samudra Hindia sebelah barat Sumatera. Fenomena gelombang atmosfer (Kelvin Wave) diprakirakan cukup aktif di sebagian wilayah Indonesia bagian timur periode 14-17 Januari 2021.

Sedangkan angin monsun Asia mengalami penurunan intensitas dalam sepekan terakhir dan diperkirakan akan meningkat kembali dalam sepekan ke depan. Sementara itu, suhu muka laut masih relatif hangat.

BMKG memprakirakan pada periode 16-21 Januari 2021 potensi hujan lebat dengan intensitas sedang-lebat terdapat di wilayah, Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur.

Selanjutnya Bali, NTB, NTT, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Pada tujuh hari ke depan juga terdapat prospek pertumbuhan awan konvektif (kumulonimbus) bercampur dengan awan konvektif lainnya dengan tingkat kerapatan occasional (OCNL) sekitar 50-75 persen di atas wilayah Aceh dan Sumatera Utara.

Samudra Hindia sebelah barat Sumatera, Sumatera Selatan, Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, perairan selatan Pulau Jawa, NTB, NTT, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara dan Laut Jawa, perairan Selat Makassar, sebagian besar Sulawesi, Laut Sulawesi, Kepulauan Halmahera, dan Kepulauan Maluku.

Serta potensi pertumbuhan awan CB dengan tingkat kerapatan frequent (FRQ) di atas 75 persen terjadi di atas wilayah Riau, Kepulauan Riau, perairan Natuna, Bangka Belitung, perairan utara Kepulauan Halmahera.

Prakiraan potensi pertumbuhan awan konvektif periode Desember 2020-Januari 2021 yang menghasilkan gangguan penerbangan berpotensi pada sebagian besar wilayah Indonesia bagian tengah hingga bagian timur.

Wilayah paling berpotensi pertumbuhan awan konvektif terbesar terjadi di sekitar wilayah NTB hingga NTT pada periode tersebut.

BMKG juga memprakirakan potensi gelombang tinggi periode 15-24 Januari 2021 yaitu dengan ketinggian 2,5-4,0 meter (rough sea) berpeluang terjadi di perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian barat dan selatan, perairan selatan Pulau Jawa.

Samudra Hindia barat Lampung hingga selatan NTB, Laut Natuna, perairan Kepulauan Anambas, perairan timur Kepulauan Bintan-Kepulauan Lingga, Laut Jawa bagian timur, Selat Makassar bagian selatan, Laut Sulawesi, Perairan Kepulauan Sangihe-Kepulauan Talaud, Samudra Pasifik utara Halmahera hingga Papua.

Selanjutnya tinggi gelombang 4-6 meter (very rough sea) berpeluang terjadi di perairan utara Kepulauan Natuna dan tinggi gelombang lebih dari 6 meter (extreem sea) berpeluang terjadi di Laut Natuna Utara.

Jadi untuk saat ini di dalam periode puncak musim hujan ini, masyarakat dihimbau tetap terus mewaspadai potensi multibencana hidrometeorologi, gempa bumi, dan tsunami. (*)

Pemkab Maros     Bapenda Sulsel     DPRD Kota Makassar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *