oleh

Jokowi Hujan-hujanan di Sawah Bahaya Bisa Tersambar Petir

SULSELONLINE.COM – Presiden Jokowi berjalan saat hujan di tengah sawah bersama Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Aksi ini bisa membahayakan dirinya karena bisa saja tersambar petir.

Pakar gestur menilai aksi Jokowi tersebut bukan pencitraan.

“Kita bisa melihat dengan mudah kalau ini bukan pencitraan. Lebih cocok disebut sebagai ketidaktahuan risiko kesamber petir,” kata pakar gestur Handoko Gani kepada wartawan, Selasa (24/2/2021).

Handoko Gani menjelaskan, dia adalah satu-satunya instruktur Ahli Deteksi Kebohongan dari dunia sipil yang memiliki gelar diploma di bidangnya serta terotorisasi dalam penggunaan alat Layered Voice Analysis (LVA). Handoko mengungkap alasan mengapa aksi Jokowi bisa ditafsirkan sebagai bukan pencitraan.

“Mereka orang-orang yang tahu risikonya kesamber petir, mereka di jarak yang jauh. Seandainya itu pencitraan, berapa sih bayarannya dengan risiko kesamber petir? Saya berharap hal ini tidaklah dilakukan team kepresidenan hanya demi pencitraan,” ungkapnya mengutip detik.com.

Handoko juga menyoroti kecuekan Jokowi saat menuju spot di tengah sawah tersebut. Dia menduga Jokowi tak peduli dengan kerumunan orang.

“Cueknya Jokowi tetap menuju ke spot yang sudah ditentukan menunjukkan bahwa Jokowi tetap ingin menjalankan sesuai rencana saja. Beliau tidak mempedulikan kerumunan orang, baik secara jumlah yang tidaklah banyak maupun lokasi mereka yang berjauhan,” tuturnya.

“Pencitraan itu kan sangat terang benderang ciri khasnya. Salah satunya adalah kerumunan orang yang berdekatan,” imbuhnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi meninjau lumbung pangan atau food estate di Sumba Tengah, NTT, pada Selasa (23/2/2021). Ada satu momen Jokowi terlihat berjalan sendirian memakai payung di tengah sawah meski diguyur hujan deras.

Sebuah rekaman video amatir sempat menangkap momen ketika Jokowi berjalan ke tengah sawah tanpa pengawalan. Warga Desa Makata Keri, Kecamatan Katiku Tana, bersorak menyaksikan momen tersebut

Jokowi meninjau lumbung pangan yang mencakup lahan seluas 5.000 hektare. Area lumbung pangan itu terbagi dua, yakni 3.000 hektare untuk padi dan sisanya untuk komoditas jagung.

Lumbung pangan ditargetkan mampu meningkatkan produktivitas dan indeks pertanaman di Sumba Tengah. Lahan kering di wilayah itu juga difasilitasi sumur bor, dan lahan basah seperti embung.

“Panen yang ada di Sumba Tengah ini setahun masih sekali, yaitu padi. Kami ingin mengelola agar satu tahun bisa dua kali panen padi dan sekali panen jagung atau kedelai,” ujar Jokowi.(alm)

Pemkab Maros     Bapenda Sulsel     DPRD Kota Makassar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *