oleh

Mantan Kabulog dan Tokoh KKSS Beddu Amang Meninggal Dunia

SULSELONLINE.COM – Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) masa bakti 1995-1998, Prof Dr Beddu Amang, meninggal dunia.

Ketua Umum Kerukunan Sulawesi Selatan (KKSS) tiga periode, 1988-1999 itu, wafat dalam usia 85 tahun di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta, akibat sakit, pada pukul 17.00 WIB, Sabtu 9 Januari 2021.

Jenazahnya telah dimakamkan di San Diego Hills Karawang Jawa Barat, mengutip pinisi.co.id, Minggu (10/1/2021).

Sebelumnya, Beddu Amang dirawat di ruangan ICU Rumah Sakit Primer Bintaro Jakarta, pada 12 Juni 2020 dan pada 1 Desember 2020 kembali dirawat di ICU RS Pondok Indah Jakarta.

Beddu Amang menyusul istrinya, Siti Maesarah yang telah berpulang lebih dulu pada 2013.

Dari Maesarah yang dipersunting pada 1972, Beddu Amang dikaruniai dua putri, yakni Lisa dan Mutia serta seorang putra bernama Fadhil.

Setahun terakhir, pria berperawakan subur ini didera penyakit sehingga ia kerap cuci darah.

Selama tiga periode menakodai KKSS, Beddu Amang terkonsolidasi potensi SDM yang berkiprah pada tingkat nasional, seperti beberapa orang yang menduduki jabatan eselon satu di departemen strategis.

Juga mampu mengkonsolidasikan potensi sumber pendanaan organisasi dari beberapa pengusaha.

Beddu adalah pejabat karir di Bulog dan orang pertama dari Sulawesi Selatan yang menjadi Kepala Badan Urusan Logistik.

Sosoknya dikenal sebagai orang yang punya prinsip dan sportif.

Hanya Beddu Amang yang berani mengutarakan pendapatnya kepada Presiden Soeharto. Ia meminta untuk menutup pabrik milik Tommy Soeharto lantaran perusahaan tersebut merugi terus menerus sehingga disubsidi negara.

Saat itu tak satupun menteri yang bisa lancang mengoreksi kekeliruan Soeharto.

Alhasil, Presiden setuju dan pabrik minyak Tommy Soeharto ditutup. IMF mengacungi jempol atas kenekatan Beddu Amang.

Soeharto justru memperpanjang jabatan Beddu Amang hingga dua periode.

Beddu Amang sukses melakukan operasi pasar dan beras dijual langsung kepada rakyat kecil dengan harga murah. Keberadaan Bulog mendapat pengakuan internasional dengan mencadangkan beras jutaan ton sekiranya terjadi krisis pangan.

Ia juga berhasil membangun gudang perberasan di banyak daerah dan peningkatan status pegawai Bulog menjadi ASN.

Namun, saat B.J Habibie menjabat Presiden, Beddu Amang didepak dari Kepala Bulog, pada Agustus 1998.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Pada November 2001, Beddu Amang ditahan terkait kasus ruislag Bulog dengan PT Goro Batara Sakti.

Publik menyudutkan dirinya, tapi ia tetap tegar. Oleh sejumlah koleganya, Beddu Amang dinilai sebagai korban sebuah sistem dan orang pun mahfum akan keperkasaan Orde Baru yang tumbang sebelumnya.

Beddu Amang, mantan Menteri Negara Urusan Pangan, merupakan pejabat Orde Baru pertama yang dimejahijaukan.

Di luar KKSS, Beddu Amang acap membantu sejumlah lembaga. Ia misalnya menyuntik dana saat Asuransi Tafakul sedang kesulitan keuangan. Demikian pula Harian Republika yang dililit masalah pada 1997-1998. Juga Bank Muamalat.

Tak kurang, gedung Balai Mutiara miliknya dijadikan sebagai posko induk dan media center Covid-19 di Makassar. Tak sedikit warga KKSS juga dibantu materi dan dana talangan.

Nama asli Beddu adalah Abdur Rahman. Masa kecil Beddu dihabiskan di Makale, Toraja dan Enrekang tetapi namanya berubah saat ia duduk di SMP menjadi Beddu Amang.

Beddu Amang lahir dari keluarga berkecukupan. Ayahnya pedagang tembakau asal Soppeng bernama Sanawi yang bedagang di Makale, sedang ibunya, Siti Saerah dari Enrekang.

Namun, belakangan ayah dan ibunya bercerai dan ibunya tinggal di Kalosi bersama Beddu kecil sebagai anak semata wayang. Ayahnya menikah lagi hingga Beddu mempunyai tujuh saudara tiri.

Di Makale, Beddu disekolahkan di pendidikan zending yang menggunakan bahasa Belanda. Tamat SD, ia pindah ke Makassar, 1951-1956, lalu hidup bersama ibu dan ayah tirinya, seorang polisi.

Di kota Anging Mamiri, Beddu Amang sekolah di SMP PGRI dan lanjut SMA Islam Datumuseng. Ia aktif di Pelajar Islam Indonesia, dan getol mendengar ceramah Abdurahman Shihab, ayah ahli tafsir terkemuka Quraish Shihab.

Meskipun berada di lingkungan Kristen di Toraja, benih Islam sudah tertanam sejak kecil. Sesampai di Yogyakarta, Beddu kuliah di UGM dan aktif berorganisasi di kampus maupun di luar kampus.

Ia tercatat sebagai Ketua HMI Yogyakarta, pada 1962. Sekian kali ia jadi sasaran penculikan komunis, karena ia memimpin unjuk rasa menggalang kaum muda di Jogya untuk menumpas PKI.

Tempaan budaya Jawa sedikit banyak memengaruhinya menjadi seorang yang berpenbawaan tenang dan kalem, tidak seumumnya orang Bugis Makassar yang bernada tinggi dan kencang selagi berkomunikasi dengan lawan bicaranya.

Beddu Amang meraih sarjana di Fakultas Pertanian (UGM), S2 dan S3 dalam bidang Pembangunan Ekonomi dari di Amerika Serikat.

Di negeri Paman Sam, bersama istri dan tiga anaknya ia hidup selama delapan tahun.

Beddu Amang menjadi Anggota MPR-RI, Ketua Umum PP PERHEPI (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia). Selain itu pernah menjabat sebagai Presiden ASAE (Asian Society of Agricultural Economist) periode 1996-1999, Ketua Umum Koperasi Pelra, Penasehat ICMI Pusat, dan banyak lagi.

Sejak Juli 1997, Beddu Amang diangkat sebagai Guru Besar Luar Biasa di Fakultas Pertanian dan Kehutanan Unhas,

Menulis banyak artikel pada berbagai jurnal ilmiah dan semi-ilmiah, sejumlah buku yang terkait dengan pangan dan menyampaikan berbagai makalah dalam pertemuan ilmiah di dalam dan luar negari, serta menjadi ketua penyunting untuk buku Ekonomi Kedelai (1996) dan Ekonomi Minyak Goreng (1996) yang diterbitkan oleh IPB Press. (*)

Pemkab Maros     Bapenda Sulsel     DPRD Kota Makassar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *