oleh

Wali Kota Makassar Sipil Pertama Era Orba

In Memoriam Wali Kota Makassar (1994-1999) H.A.Malik B.Masry

Di era tahun 1990-an kota Ujung Pandang (kini berganti nama jadi Makassar) dicap bernada sindiran sebagai kota ‘Ujung Sampah”. Dan ditambah kesemrawutan lalu lintas moda transportasinya yang membuat macet dimana-mana. Bagi saya, yang saat itu masih berstatus mahasiswa, merasa malu bercampur tak mengenakkan hidup berdampingan dengan realitas tersebut.

Apalagi dalam setiap kesempatan menghadiri forum pertemuan mahasiswa tingkat nasional, kedua isu itu kerap jadi sorotan dan pertanyaan peserta dari daerah lain yang cenderung memojokkan. Saya hanya diam dan tersenyum. Apa mau dikata.

Memori saya tiba-tiba teringat dengan sosok Walikota Malik B.Masry. Entah setting siapa, pada Juni 1994, kebijakan DPRD Kota Ujung Pandang kala itu berubah arah. Lembaga politik itu memilih seorang sipil bernama Malik B. Masry sebagai pengganti Walikota Suwahyo dan sebelumnya yang selalu berlatar militer.

Respon warga, era sipil telah tiba. Ekspektasi mereka melambung, berhahap adanya perubahan. Apalagi Malik- begitu ia akrab disapa- adalah seorang ekonom dan sekaligus akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas). Tapi, menurut saya, sesungguhnya Malik bukanlah cermin sipil murni. Ia sipil cerdas, tapi berkarakter militer.

Sempat diragukan banyak pihak, Malik yang cukup populer dengan istilah “Cappo” (panggilan khas yang berarti kawan) hadir dengan banyak ide dan terobosan yang visioner. Misalnya menjadikan Makassar “Kota Gemerlap” dan mematok target harus bersih dari tumpukan sampah. Bagi Malik,kuncinya disiplin dan bekerja keras!

Pulang dari studi banding di Abu Dhabi, UEA, Malik yang dikenal energik menemukan big picture program.

Pertama,ia benahi kekumuhan kota. Sampah yang bertebaran di seluruh penjuru kota dibersihkan dengan menggunakan sistem kontainer yang masih dipakai sekarang dengan beberapa modifikasi. Semua aparat mulai dari lurah dan camat diperintahkan untuk memastikan dan mengawal kebersihan kota.

Pohon-pohon di sepanjang jalan protokol seperti jalan Jend.Ahmad Yani dan Jend.Urip Sumohardjo dipangkas hingga menampung volume kendaraan lebih banyak. Begitupun ruas-ruas jalan poros dan jalan alternatif yang kerap jadi biang kemacetan juga diperlebar. Jalan-jalan permukiman dipinggiran kota yang dikenal zona merah rawan kriminal diaspal hotmix dan diberi lampu penerangan.

Untuk “membenahi” dan membiayai seluruh program pembangunan kota, Malik rela mengemis kepada Asean Development Bank (ADB) dan Japan Internasional Corperation Agency (JICA).

 

Alhasil, dalam tempo dua tahun, wajah kota Makassar berubah drastis. Julukan kota sampah telah disulap menjadi kota terbersih di tanah air dengan menggondol Piala Adipura tiga kali berturut turut (1994-19960). Kemacetan lalu lintas kota di pagi hari dan sore juga tak terlihat lagi.

Gelar prestisius ini diraih Malik berkat kerja kerasnya menata kebersihan, termasuk pasar dan terminal, serta menghidupkan kota Makassar di malam hari. Hampir semua ruas jalan di pusat keramain kota diterangi dengan lampu-lampu hias. Impian Malik menjadikan Makassar ‘bermandikan cahaya’ layaknya Abu Dhabi di kawasan timur Indonesia akhirnya terwujud.

 

Rusman Madjulekka

Pemprov Sulsel     Bapenda Sulsel     DPRD Kota Makassar     Pemkab Maros

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *