SULSELONLINE.COM – Kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur mulai menekan industri penerbangan. Maskapai, terutama yang menyasar segmen berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC), menghadapi peningkatan biaya operasional.
Pendiri AirAsia Tony Fernandes mengatakan tekanan terbesar muncul dari tiket yang telah terjual sebelum harga bahan bakar melonjak.
Menurut Fernandes, sejumlah tiket telah dijual ketika harga minyak berada di kisaran US$85 per barel. Setelah perang pecah, harga minyak disebut melonjak hingga sekitar US$200 per barel.
Kondisi tersebut membuat maskapai kesulitan meneruskan seluruh kenaikan biaya kepada penumpang. Pasalnya, sebagian tiket telah dibayar jauh sebelum terjadi lonjakan harga minyak.
“Saya tidak bisa kembali dan meminta Anda membayar lebih. Saya tidak bisa mengatakan, ‘Maaf, Anda sudah membayar 200 baht (US$6), tetapi karena Donald Trump, Anda harus membayar saya tambahan 200 baht lagi’,” kata Fernandes dalam pengarahan media baru-baru ini, dikutip VN Express, Senin (28/9/2026).
Menghadapi kondisi tersebut, AirAsia melakukan penyesuaian biaya operasional. Restrukturisasi juga dilakukan setelah maskapai mengeluarkan biaya tambahan untuk mendukung operasional kargo.
Sementara untuk pemesanan baru, harga tiket telah disesuaikan dengan kenaikan biaya bahan bakar. Tarif penerbangan disebut meningkat sekitar 20–25 persen atau bahkan lebih dibandingkan sebelumnya.
Fernandes menilai kondisi yang dihadapi industri penerbangan saat ini berbeda dengan tekanan selama pandemi Covid-19. Menurutnya, krisis pandemi berlangsung dalam rentang waktu yang relatif dapat diperkirakan.
Sebaliknya, lonjakan harga bahan bakar saat ini sangat bergantung pada perkembangan perang sehingga belum ada kepastian kapan tekanan biaya tersebut akan berakhir.
“Saya bukan ahli politik atau politikus, tetapi saya bisa melihat bagaimana situasi ini akan berkembang,” ujar Fernandes.
Ia memperkirakan tekanan tersebut dapat berlangsung lebih lama. Situasi yang berkepanjangan dinilai akan memberikan tekanan semakin besar terhadap dunia usaha.
“Jika berlangsung lebih lama, kondisi ini tidak akan baik bagi siapa pun, terutama dunia usaha. Sepertinya situasi ini kemungkinan akan berlarut-larut, jadi inilah saatnya AirAsia beradaptasi secara serius,” lanjut Fernandes.
Bagi maskapai, kenaikan harga bahan bakar menjadi persoalan langsung terhadap biaya operasional penerbangan. Sementara bagi penumpang, tekanan tersebut mulai tercermin dari kenaikan harga tiket untuk pemesanan baru.(*)

Tinggalkan Balasan