SULSELONLINE.COM — Kekayaan budaya Makassar menjadi inspirasi bagi anggota Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga PD ’Aisyiyah Kota Makassar untuk menghasilkan karya batik.

Melalui pelatihan dan pendampingan tim Universitas Negeri Makassar (UNM), peserta mengembangkan motif perahu pinisi hingga aksara Lontara menjadi batik tulis untuk taplak meja dan hiasan dinding.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan tim yang terdiri atas Baetal Mukaddas, Andi Sahtiani Jahrir, Yati Bt. Samsuddin, dan Muhammad Zia Ulhaq.

Program tersebut bertujuan meningkatkan keterampilan perempuan dalam merancang motif dan menguasai teknik dasar membatik, sekaligus memperkuat pelestarian budaya daerah.

Pelatihan berangkat dari tingginya minat anggota komunitas terhadap seni dan kerajinan. Namun, sebagian besar peserta masih memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai filosofi motif, penyusunan desain, teknik pencantingan, dan pewarnaan kain.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim menyusun pembelajaran secara bertahap, mulai dari pengenalan batik dan budaya lokal, pembuatan sketsa, praktik mencanting, hingga pewarnaan dan penyelesaian karya.

Dalam penyampaian materi, peserta diperkenalkan pada beragam sumber inspirasi, seperti aksara Lontara, perahu pinisi, rumah adat Bugis-Makassar, serta flora khas Sulawesi Selatan. Peserta kemudian membuat alternatif sketsa di atas kertas sebelum memindahkannya ke kain mori.

Berdasarkan laporan kegiatan, sebagian besar peserta memilih pinisi dan aksara Lontara sebagai inspirasi motif. Tim mendampingi mereka dalam mengatur proporsi bentuk, pengulangan pola, dan keseimbangan komposisi agar desain lebih rapi serta memiliki karakter visual yang kuat.

Tantangan juga muncul saat praktik mencanting. Peserta pemula mengalami kesulitan mengendalikan aliran malam, sehingga garis terkadang terputus atau lilin menetes di luar pola. Melalui latihan berulang dan koreksi langsung, peserta mulai lebih terampil serta percaya diri dalam mencanting garis lurus maupun lengkung.

Pada tahap pewarnaan, peserta diberi kesempatan memilih kombinasi warna sesuai kreativitas masing-masing. Pilihan tersebut menghasilkan beragam karya, mulai dari perpaduan warna cerah hingga nuansa warna tanah yang lebih lembut.

Hasil pelatihan berupa kain batik tulis untuk taplak meja dan hiasan dinding yang dapat digunakan maupun dipamerkan. Evaluasi melalui pengamatan proses, penilaian karya, dan angket respons peserta menunjukkan perkembangan kemampuan dalam menyusun motif, menggunakan canting, menerapkan teknik pewarnaan, serta memahami filosofi batik lokal.

Pelatihan turut mendorong minat kewirausahaan. Beberapa peserta menyatakan ketertarikan untuk memproduksi batik khas Makassar dalam skala kecil sebagai cendera mata atau suvenir budaya lokal. Minat tersebut menjadi peluang untuk melanjutkan pengembangan keterampilan menuju kegiatan usaha rumahan.

Melalui kegiatan ini, kerja sama UNM dan komunitas perempuan ’Aisyiyah menghadirkan ruang belajar yang menghubungkan kreativitas, keterampilan produktif, dan pelestarian budaya. Pinisi dan Lontara pun menjadi sumber gagasan yang dapat terus dikembangkan dalam karya batik masyarakat.