MAKASSAR – Musim kemarau di Sulawesi Selatan belum sepenuhnya berakhir. Sejumlah wilayah masih berada dalam periode puncak kemarau pada September 2026, sementara awal musim hujan diprakirakan berbeda-beda di setiap daerah.
Prakirawan BMKG Sulsel, Agus, mengatakan musim kemarau diprediksi berlangsung hingga November 2026.
“Untuk musim kemarau diprediksi hingga November. Bulan ini masih puncak musim kemarau,” kata Agus saat dihubungi, Kamis (24/9/2026).
BMKG juga memprakirakan sejumlah wilayah Sulsel masih mengalami curah hujan rendah pada September hingga Oktober. Sebagian wilayah, terutama bagian selatan, masih berpeluang mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan pada November.
Sementara pada Desember 2026, tidak ada wilayah Sulsel yang masuk kategori peluang tinggi mengalami curah hujan di bawah 50 milimeter per bulan dalam prakiraan tersebut.
Untuk Kota Makassar, awal musim hujan diprakirakan baru terjadi pada Desember 2026. Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV, Rizky Yudha Pahlawan, mengatakan kondisi tersebut mundur dari pola normal.
“Untuk Makassar diprakirakan masuk musim hujan di bulan Desember, mundur dari normalnya,” kata Rizky.
Dipengaruhi El Nino
BMKG pada 22 September 2026 menyatakan El Nino dengan intensitas sangat kuat sedang terjadi. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan mundurnya awal musim hujan 2026/2027 di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG memprakirakan 529 Zona Musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia mengalami awal musim hujan yang mundur dibandingkan rata-rata klimatologis.
Kondisi tersebut membuat sebagian wilayah masih harus menghadapi periode kering hingga November.
Dampaknya mulai terlihat dari meningkatnya kebutuhan distribusi air bersih di sejumlah kabupaten/kota di Sulsel, termasuk Makassar, Bulukumba, Parepare, Wajo dan Maros.
Makassar Distribusi 4,56 Juta Liter
Di Makassar, Perumda Air Minum mengintensifkan distribusi air bersih gratis ke permukiman yang terdampak kekeringan.
Plt Direktur Utama PDAM Makassar, Andi Syahrum Makkuradde, mengatakan bantuan diberikan kepada pelanggan maupun nonpelanggan.
“Langkah ini murni bantuan air bersih gratis untuk pelanggan maupun non-pelanggan yang terdampak kekeringan,” ujarnya, Selasa (22/9/2026).
Sedikitnya 1.110 Surat Perintah Kerja (SPK) telah diterbitkan dengan total distribusi lebih dari 4,56 juta liter air.
Distribusi diprioritaskan di sembilan kecamatan, antara lain Ujung Tanah, Tallo, Bontoala, Wajo, Tamalanrea dan Biringkanayya, serta sebagian wilayah Panakkukang, Manggala dan Kecamatan Makassar.
Bulukumba Salurkan 144 Ribu Liter
Krisis air bersih juga terjadi di Bulukumba. Sumur warga di Babana, Kelurahan Dannuang, Kecamatan Ujung Loe, mengering akibat kemarau.
Dinas Pemadam Kebakaran Bulukumba menyalurkan 4.000 liter air bersih kepada warga pada Minggu (20/9/2026).
Kepala BPBD Bulukumba A Hasbullah mengatakan total distribusi air sejak musim kemarau mencapai 144.000 liter untuk warga di 12 kelurahan.
Sebanyak 432 kepala keluarga atau 1.564 jiwa tercatat terdampak krisis air bersih hingga 21 September 2026.
Parepare Distribusi 100 Ribu Liter per Hari
Di Parepare, PAM Tirta Karajae mengerahkan sekitar 20 unit tangki untuk mendistribusikan air bersih setiap hari.
Dengan kapasitas sekitar 5.000 liter per tangki, distribusi mencapai sedikitnya 100 ribu liter per hari.
Direktur PAM Tirta Karajae Parepare Abdul Azis mengatakan penyaluran dilakukan sejak pagi hingga malam hari, menyesuaikan permintaan warga.
Wilayah selatan Parepare, terutama sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Bacukiki Barat, menjadi salah satu kawasan dengan permintaan air cukup tinggi.
Wajo dan Maros Ikut Terdampak
Di Wajo, Polres Wajo menyalurkan 6.000 liter air bersih kepada warga Desa Pakkanna, Kecamatan Tanasitolo, pada Rabu (16/9/2026). Sebelumnya, sebanyak 12 ribu liter air juga disalurkan di Kecamatan Tempe.
Sementara di Maros, dampak kekeringan telah meluas ke 11 kecamatan dan diperkirakan mencapai sekitar 200 ribu jiwa.
Kepala BPBD Maros Towadeng mengatakan wilayah terdampak sebelumnya mencakup delapan kecamatan, kemudian meluas ke Simbang, Bantimurung hingga wilayah pegunungan Cenrana.
“Tiga kecamatan ini berada di wilayah pegunungan seperti Mallawa, Camba dan Tompobulu,” ujarnya, Minggu (20/9/2026).
BPBD Maros mencatat sekitar 800 tangki air bersih telah disalurkan dalam dua bulan terakhir. Dengan kapasitas 5.000 liter per tangki, total distribusi mencapai sekitar 4 juta liter air.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, sedikitnya delapan armada air bersih disalurkan setiap hari, terutama ke Kecamatan Bontoa.
Pemkab Maros juga menyiapkan anggaran awal Rp600 juta untuk mendukung distribusi air bersih selama kondisi kekeringan berlangsung.
Selain kebutuhan air bersih, Pemkab Maros membentuk satuan tugas kekeringan untuk memantau dampak terhadap sektor pertanian, termasuk potensi gagal panen.
Antisipasi juga dilakukan terhadap potensi kebakaran di TPA. Satu unit mobil pemadam kebakaran disiagakan setiap hari untuk melakukan penyiraman dan mencegah munculnya titik api.
“Kami juga mengantisipasi potensi kebakaran di TPA dengan menyiagakan satu mobil pemadam yang melakukan penyiraman setiap hari,” kata Towadeng.
Dengan prakiraan musim hujan Makassar yang baru memasuki Desember dan sejumlah wilayah masih menghadapi kondisi kering hingga November, distribusi air bersih diperkirakan masih menjadi kebutuhan penting di sejumlah daerah Sulsel dalam beberapa pekan ke depan.(*)

Tinggalkan Balasan