MAKASSAR — Di balik medali emas Asian Games Aichi-Nagoya 2026 yang diraih lifter asal Makassar, Rahmat Erwin Abdullah, ada disiplin, pengorbanan, dan peran besar keluarga.

Bagi sang ibunda, Ami Asun Budiono, keberhasilan Rahmat bukan datang secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang harus dilalui, termasuk membatasi pergaulan, menjauh dari keluarga, hingga belajar bangkit dari kegagalan di Olimpiade Paris 2024.

Rahmat dikenal sebagai anak yang patuh kepada kedua orang tuanya, Erwin Abdullah dan Ami Asun Budiono. Kepatuhan itu menjadi salah satu kunci yang membuatnya mampu menjalani kehidupan sebagai atlet dengan penuh disiplin.

“Keberhasilannya dia karena orangnya penurut, dengar apa kata orang tua,” ujar Ami saat ditemui di kediamannya di Jalan Opu Dg Risadju, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (27/9/2026).

Namun, menjadi atlet dengan prestasi dunia membuat Rahmat harus mengorbankan banyak hal. Salah satunya kehidupan sosial.

Ami mengatakan, putranya rela membatasi pergaulan agar bisa fokus menjalani latihan dan menjaga kondisi sebagai atlet. Waktu bersama keluarga pun harus dikorbankan karena tuntutan karier di dunia angkat besi.

“Kedua, untuk mencapai prestasi setinggi itu memang kita kasihan. Segala pergaulan terbatas, harus bisa menahan diri, jauh dari keluarga,” tuturnya.

Bangkit dari Kegagalan Olimpiade Paris

Perjalanan menuju podium tertinggi Asian Games 2026 sejatinya telah dimulai jauh sebelumnya.

Menurut Ami, persiapan Rahmat bahkan sudah dilakukan sejak setelah Olimpiade Paris 2024. Kegagalan tampil di Paris menjadi pengalaman yang sangat berat sekaligus pelajaran penting bagi putranya.

Rahmat sebelumnya mendominasi lima seri kualifikasi Olimpiade. Namun, hasil buruk pada satu seri membuat langkahnya menuju Paris terhenti.

“Jadi enam series kemarin Olimpiade Paris, lima series itu hanya seperti uji coba. Satu series diloncati langsung hilang. Itu pengalaman terberat untuk kita waktu Olimpiade Paris,” kata Ami.

Kegagalan tersebut tidak membuat Rahmat berhenti. Sebaliknya, pengalaman itu menjadi bahan evaluasi untuk menyiapkan diri menghadapi kompetisi berikutnya.

Rahmat juga harus bersaing dengan sesama lifter Indonesia dalam menentukan kelas yang akan diikuti. Atlet yang memenangkan seleksi nasional berhak memilih kelas, sedangkan yang kalah harus naik kelas.

“Persiapan dari awal, sebelum Seleknas. Jadi persiapan bukan dari sekarang, dari Olimpiade Paris 2024,” ujar Ami.

Emas Kedua di Asian Games

Kerja keras itu kemudian berbuah manis di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Turun di kelas 75 kilogram, Rahmat yang kini berusia 25 tahun berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia. Ia mencatat angkatan 160 kilogram pada snatch dan 206 kilogram pada clean and jerk, dengan total angkatan 306 kilogram.

Tak sekadar membawa pulang emas, Rahmat juga memecahkan rekor pada nomor clean and jerk dan total angkatan.

Medali tersebut sekaligus memperpanjang catatan emas Rahmat di Asian Games. Sebelumnya, ia meraih medali emas pada Asian Games 2022 di kelas 73 kilogram dengan total angkatan 359 kilogram, terdiri atas 158 kilogram snatch dan 201 kilogram clean and jerk.

Dengan demikian, Rahmat kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu andalan Indonesia di cabang olahraga angkat besi.

Keluarga Jadi Sumber Kekuatan

Di tengah kerasnya persaingan dunia olahraga, keluarga tetap menjadi sumber kekuatan bagi Rahmat.

Terlebih setelah ia menikah dengan Tsabitha Alfia dan dikaruniai seorang anak. Sang buah hati yang kini berusia 10 bulan disebut Ami turut menjadi penyemangat Rahmat dalam menjalani kariernya.

“Syukur alhamdulillah anaknya yang berusia 10 bulan sudah pintar panggil papa. Antusias juga anaknya, seperti sudah mengerti angkat besi. Jadi motivasi, semangat Rahmat luar biasa dari keluarga,” ungkapnya.

Ami juga bersyukur perjuangan panjang putranya hingga meraih emas Asian Games berjalan sesuai harapan.

“Alhamdulillah Tuhan tolong, memberikan kekuatan, kepercayaan diri yang tinggi,” katanya.

Belum Puas, Tatap Olimpiade Los Angeles

Medali emas Asian Games bukan menjadi akhir perjalanan Rahmat.

Kini, target berikutnya adalah Olimpiade Los Angeles 2028 di Amerika Serikat. Rahmat ingin memperbaiki pencapaiannya di Olimpiade sebelumnya.

Menurut Ami, sistem kualifikasi menuju Olimpiade Los Angeles berbeda dengan Paris. Kali ini, poin dikumpulkan secara akumulasi dari setiap seri yang diikuti.

Karena itu, Rahmat harus kembali mempersiapkan diri sejak dini. Bahkan, setelah pulang dari Asian Games, ia tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat.

“Dua puluh hari ke depan harus ikut kejuaraan untuk kualifikasi Olimpiade, cari tiket ke LA,” kata Ami.

Rahmat sebelumnya telah meraih medali perunggu pada Olimpiade Tokyo. Kini, ia membidik pencapaian yang lebih tinggi.

Bagi Ami, ambisi tersebut bukan sekadar mengejar medali. Ada cita-cita yang sejak lama ingin diwujudkan putranya di panggung olahraga terbesar dunia.

“Mudah-mudahan bisa tembuslah, karena itu cita-cita tertinggi dia. Dia ingin memperbaiki prestasi yang pernah dibuat,” ujar Ami mengutip tribun-timur.

Di balik angkatan ratusan kilogram yang diangkat Rahmat, ada proses panjang yang tidak terlihat di atas podium: kepatuhan kepada orang tua, disiplin, pembatasan pergaulan, pengorbanan waktu bersama keluarga, serta keberanian untuk bangkit setelah gagal.

Kini, setelah emas Asian Games berada di tangan, perjalanan Rahmat belum selesai. Dari Makassar, ia kembali bersiap mengejar panggung tertinggi: Olimpiade Los Angeles 2028.(*)